BAB 3 - Rumah yang Selalu Mengajarkan Menahan Diri
Xavier pernah menginginkan sepatu berwarna biru saat ia kelas empat SD.
Ia masih ingat sepatu itu dengan jelas, meskipun sudah bertahun-tahun lewat. Warnanya biru tua dengan garis putih di samping, talinya hitam, dan bagian solnya sedikit tebal seperti sepatu anak-anak di iklan televisi. Tidak mahal bagi sebagian orang, mungkin. Tapi untuk keluarga Sim saat itu, sepatu baru bukan sesuatu yang bisa dibeli hanya karena anak bungsu melihatnya di etalase dan jatuh cinta.
Sepatu lama Xavier sebenarnya masih bisa dipakai.
Bagian depannya memang mulai menganga sedikit. Kalau hujan, air bisa masuk dari ujung kanan. Talinya juga sudah diganti dengan tali sepatu bekas milik Nathan. Tapi kata Ratna waktu itu, “Masih bisa dipakai sampai bulan depan, ya?”
Dan Xavier kecil mengangguk.
Bukan karena ia tidak kecewa.
Ia kecewa sekali.
Sepanjang perjalanan pulang dari pasar, ia terus memikirkan sepatu biru itu. Ia membayangkan memakainya ke sekolah, berlari di lapangan, menunjukkan kepada teman sebangkunya. Tapi ketika ia melihat ibunya menghitung uang di dalam dompet kecil sambil menunggu angkot, keinginannya langsung terasa seperti benda berat yang sebaiknya ia telan sendiri.
Jadi saat Ratna bertanya, “Xav masih mau sepatunya?”, Xavier menjawab, “Nggak jadi, Bu. Yang lama masih enak.”
Ibunya menatapnya lama.
Terlalu lama untuk anak sekecil itu berbohong dengan sempurna.
Namun Ratna tidak membantah. Ia hanya mengusap rambut Xavier dan berkata, “Nanti kalau sudah ada rezeki, kita beli yang lebih bagus.”
Xavier mengangguk.
Sepatu itu tidak pernah dibeli.
Bulan berikutnya, uang yang harusnya bisa dipakai untuk sepatu baru dipakai untuk membayar biaya kegiatan sekolah Clara. Bulan setelahnya, Nathan butuh buku praktikum. Bulan setelahnya lagi, atap dapur bocor.
Dan Xavier belajar, tanpa ada yang benar-benar mengajarinya, bahwa keinginan bisa ditunda sampai hilang sendiri.
Hari Senin setelah keputusan memasukkan Harrowgate ke daftar target, Xavier duduk di kelas dengan buku catatan terbuka, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di papan tulis.
Bu Dina sedang menjelaskan materi ujian akhir. Suaranya jelas, spidolnya bergerak cepat, dan teman-teman Xavier tampak sibuk mencatat. Xavier juga mencatat, tetapi tangannya bergerak lebih otomatis daripada sadar.
Di pojok atas halaman, di antara rumus dan poin materi, ia tidak sengaja menulis:
Harrowgate.
Begitu sadar, ia buru-buru mencoret tulisan itu.
Teman sebangkunya, Dimas, melirik. “Kenapa? Nulis nama gebetan?”
Xavier menutup bukunya sedikit. “Ngaco.”
“Lah, mukamu panik.”
“Aku panik karena ujian.”
“Bohong. Anak ranking panik ujian itu cuma buat merendah.”
“Aku bukan ranking satu.”
“Ranking dua juga menyebalkan.”
Xavier mendorong pelan bahu Dimas dengan siku. “Catat tuh. Nanti nanya-nanya aku lagi.”
Dimas mencibir, tapi tetap menulis.
Xavier mencoba fokus lagi. Namun nama kampus itu tetap berputar di kepalanya. Bukan hanya Harrowgate. Semua yang harus ia siapkan ikut berdesakan: dokumen nilai, surat rekomendasi, esai personal, portofolio, sertifikat, tes bahasa Inggris, kemungkinan wawancara, biaya administrasi, paspor, visa, tiket, dan hal-hal lain yang bahkan belum ia pahami.
Semakin dipikirkan, semakin terasa besar.
Terlalu besar.
Seperti berdiri di depan gerbang tinggi yang indah, tetapi kakinya masih memakai sandal rumah.
Saat bel istirahat berbunyi, Xavier menghela napas lega. Ia memasukkan buku ke laci meja, lalu membuka bekal dari rumah. Clara membuatkan nasi kepal isi ayam suwir, dibungkus plastik rapi, dengan catatan kecil di atasnya:
Makan. Jangan cuma mikirin masa depan.
Xavier tersenyum sendiri.
Dimas mengintip. “Kakakmu baik banget.”
“Iya.”
“Punya kakak kayak gitu enak ya.”
“Enak, tapi cerewet.”
“Daripada kakakku. Minjem charger aja kayak negosiasi nuklir.”
Xavier tertawa pelan.
Ia menggigit nasi kepalnya. Rasanya sederhana, tapi langsung membuat dadanya hangat. Masakan rumah selalu begitu. Tidak pernah mewah, tapi punya cara sendiri untuk membuatnya merasa aman.
Aman.
Kata itu membuatnya teringat pada Harrowgate lagi.
Tempat yang jauh. Tempat yang tidak ia kenal. Tempat yang mungkin akan membuatnya sendirian.
Kalau ia benar-benar pergi, siapa yang akan memasak nasi kepal untuknya? Siapa yang akan memarahinya kalau telat makan? Siapa yang akan mengecek apakah laptopnya terlalu panas? Siapa yang akan mengetuk pintu kamarnya membawa bolu pandan gagal?
Ia menelan pelan.
Mungkin karena itu impian terasa menakutkan. Bukan karena seseorang tidak ingin mencapainya, tetapi karena untuk sampai ke sana, ia harus meninggalkan hal-hal yang selama ini membuatnya merasa utuh.
Sore itu, hujan turun sebelum Xavier sempat pulang.
Ia berdiri di teras sekolah bersama beberapa murid lain, memegang map plastik berisi fotokopi dokumen yang baru ia ambil dari ruang tata usaha. Langit kelabu, halaman sekolah basah, dan aroma tanah naik bersama udara dingin.
Xavier menatap hujan sambil memeluk mapnya.
Ia menyukai hujan. Tapi belakangan ini, hujan sering membuatnya merasa aneh.
Seperti ada kenangan yang tidak punya bentuk.
Seperti ada jalan batu di suatu tempat jauh.
Seperti ada seseorang yang berdiri di balik kabut, memanggilnya tanpa suara.
“Xav, nebeng payung nggak?” Dimas bertanya.
Xavier tersadar. “Nggak usah. Aku tunggu reda aja.”
“Yakin?”
“Iya. Rumahku nggak jauh dari halte.”
“Oke. Gue duluan.”
“Hati-hati.”
Dimas berlari menembus hujan dengan payung kecil yang jelas tidak cukup melindunginya. Xavier tertawa melihatnya hampir terpeleset di dekat gerbang.
Setelah beberapa menit, hujan sedikit mengecil. Xavier memasukkan map ke dalam tas, menutupnya rapat, lalu berlari ke halte.
Sepatunya basah.
Bukan sepatu biru yang dulu ia inginkan. Sepatunya sekarang hitam biasa, sudah agak aus di bagian samping, tetapi masih layak. Ia menatapnya sebentar sambil berdiri di dalam angkot yang penuh.
Lucu, pikirnya.
Dulu ia belajar menahan keinginan karena sepatu.
Sekarang ia harus belajar mengizinkan diri sendiri menginginkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sepatu.
Saat Xavier sampai rumah, Ratna sedang duduk di ruang tengah, menulis sesuatu di buku catatan tebal. Kacamata bacanya melorot di hidung, rambutnya masih agak basah, mungkin baru selesai mandi setelah pulang mengajar. Di sampingnya ada secangkir teh dan beberapa lembar kertas kegiatan guru.
“Ibu lagi nulis apa?” tanya Xavier sambil melepas sepatu.
“Catatan kegiatan MGMP.”
“Serius banget wajahnya.”
“Karena kalau salah, nanti disuruh revisi.”
“Guru juga bisa kena revisi?”
“Semua manusia bisa kena revisi, Xav.”
Xavier tertawa kecil. Ia menggantung tas, lalu duduk di lantai dekat kaki ibunya. Kepalanya ia sandarkan ke sisi sofa.
Ratna meliriknya. “Capek?”
“Lumayan.”
“Lapar?”
“Lumayan juga.”
“Berarti lapar beneran.”
“Ibu kok tahu?”
“Kalau kamu bilang ‘lumayan’, biasanya artinya iya tapi malu minta.”
Xavier tersenyum, tetapi tidak membantah.
Ratna menutup bukunya sebentar. “Ambil makan. Ibu masak sayur sop.”
“Nanti. Duduk dulu sebentar.”
Ratna membiarkannya.
Rumah cukup sepi. Clara belum pulang dari tempat bimbel. Nathan mungkin masih di kamar, karena dari sana terdengar suara samar game dan keyboard.
Xavier menatap halaman buku ibunya yang penuh tulisan tangan rapi. Ibunya selalu menulis dengan teliti. Bahkan daftar belanja pun ditulis seperti catatan penting negara.
“Bu,” panggil Xavier.
“Hm?”
“Waktu dulu… setelah Ayah meninggal, Ibu takut nggak?”
Tangan Ratna berhenti di atas buku.
Pertanyaan itu tidak sering muncul di rumah mereka. Bukan karena dilarang. Mereka tidak pernah menjadikan Adrian sebagai topik tabu. Tapi mungkin karena semua orang tahu luka itu ada, dan tidak semua hari cukup kuat untuk menyentuhnya.
Ratna menatap Xavier pelan. “Takut banget.”
Xavier mengangkat kepalanya.
Ratna tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum sepenuhnya.
“Waktu itu Clara masih kecil, Nathan juga masih kecil, kamu masih di perut. Ibu tiap malam mikir, nanti kalau kalian sakit gimana? Kalau uang habis gimana? Kalau Ibu nggak kuat gimana?”
Xavier diam.
“Terus Ibu gimana biar kuat?”
“Nggak ada pilihan lain.”
Jawaban itu sederhana, tapi terasa berat.
Ratna melanjutkan, “Kadang orang kuat bukan karena dia hebat. Kadang karena memang nggak ada yang bisa gantiin dia berdiri.”
Xavier menunduk.
Ia membayangkan ibunya waktu itu. Lebih muda, sendirian, hamil, punya dua anak kecil, dan kehilangan suami. Ia membayangkan Ratna menghitung uang, mengajar, pulang, memasak, menenangkan Clara dan Nathan, lalu menahan tangis saat anak-anaknya tidur.
Dadanya terasa sesak.
“Maaf ya, Bu,” katanya pelan.
Ratna mengerutkan dahi. “Maaf kenapa?”
“Karena aku… lahir pas semuanya lagi susah.”
Ratna terdiam.
Lalu ia meletakkan buku catatan di meja dan mencondongkan tubuh ke depan.
“Xavier.”
Nada suaranya berubah.
Xavier mengangkat wajah.
Ratna menatapnya dengan mata yang tegas, hampir marah, tapi bukan marah yang menyakiti.
“Jangan pernah ngomong gitu lagi.”
Xavier menggigit bibir.
“Kamu bukan beban. Kamu nggak pernah jadi beban. Ibu capek, iya. Ibu takut, iya. Tapi bukan karena kamu lahir. Hidup memang lagi berat waktu itu, tapi kamu bukan penyebabnya.”
“Aku Cuma…”
“Nggak.” Ratna memotong lembut tapi tegas. “Kamu lahir, dan rumah ini tetap punya alasan buat ketawa. Clara senang punya adik kecil. Nathan walau mukanya datar, tiap kamu nangis dia ikut bangun. Ibu juga… Ibu merasa Ayah ninggalin sesuatu yang harus Ibu jaga baik-baik.”
Mata Xavier mulai panas.
Ratna mengusap pipinya dengan ibu jari.
“Jadi jangan pernah merasa hidup kamu dimulai sebagai beban. Kamu anak Ibu.”
Xavier tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan mengangguk pelan.
Ratna membiarkan beberapa detik berlalu, lalu berkata dengan nada yang lebih ringan, “Nah, sekarang ambil sop. Nanti kamu nangis, lapar, terus makin drama.”
Xavier tertawa basah. “Ibu jahat.”
“Ibu realistis.”
Ia berdiri, menuju dapur, dan mengambil makan. Saat menuang sop ke mangkuk, ia mendengar Ratna kembali membuka bukunya, tapi suara halaman yang dibalik terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
Malamnya, Clara pulang membawa sekotak donat murah dari murid bimbelnya.