Bab 3 Sesuatu yang Tidak Ia Ingat
Malam di Kota Ardhapratama selalu datang lebih cepat dari yang terasa.
Langit yang tadi siang terang kini berubah menjadi gelap pekat, hanya ditemani lampu-lampu jalan yang redup dan suara kendaraan yang sesekali melintas.
Di dalam rumah kecil itu, suasana kembali tenang.
Terlalu tenang.
Xavier duduk di lantai kamarnya, bersandar pada sisi ranjang. Buku terbuka di pangkuannya, tapi matanya tidak benar-benar membaca.
Sudah hampir satu jam ia berada dalam posisi itu. Halaman yang sama. Kata-kata yang sama. Namun tidak ada yang benar-benar masuk ke pikirannya. Pikirannya … ada di tempat lain.
Ia menghela napas pelan. Menutup buku itu tanpa suara. Hari ini seharusnya berjalan baik. Ujian berjalan lancar. Tidak ada masalah. Tidak ada kesalahan yang ia sadari. Semuanya … sesuai rencana.
Namun entah kenapa, sejak siang tadi perasaan itu tidak benar-benar hilang. Perasaan diawasi. Perasaan … tidak sendirian. Xavier menunduk, menatap lantai. “Kenapa sih…” gumamnya pelan.
Ia bukan tipe orang yang mudah takut. Sejak kecil, ia sudah terbiasa menghadapi banyak hal sendirian. Gelap bukan masalah. Sunyi bukan masalah. Bahkan kesepian … bukan sesuatu yang asing baginya.
Tapi ini berbeda. Ini bukan sekadar perasaan. Ini seperti… kehadiran.
Halus.
Diam.
Tapi nyata.
Xavier menggeleng pelan, mencoba menepis pikirannya sendiri. Ia berdiri, berjalan ke jendela kecil di kamarnya. Membukanya sedikit. Udara malam masuk perlahan, membawa bau tanah dan suara jangkrik yang samar.
Ia menatap ke luar. Gang sempit itu kosong. Lampu jalan berkedip pelan. Tidak ada siapa-siapa. Seharusnya itu membuatnya tenang. Tapi tidak. Perasaan itu masih ada. Seolah … tidak peduli ke mana ia melihat. Ia tetap diperhatikan.
“Xavier.”
Suara ibunya memanggil dari luar kamar. Xavier menoleh. “Iya, Bu?”