Bab 4 Hari Kedua
Pagi datang lagi. Tapi kali ini, tidak terasa sama. Xavier membuka mata lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya terasa lebih berat, seolah tidurnya semalam tidak benar-benar memberikan istirahat.
Mimpinya masih tertinggal. Samar. Kabur. Namun cukup untuk meninggalkan bekas.
Ia duduk perlahan di atas ranjang, tangannya menyentuh pelipis, mencoba mengingat. Siluet itu. Suara itu. “Aku menunggumu …” Xavier mengernyit. Dadanya terasa sedikit sesak. “Aneh …” gumamnya pelan.
Ia menggeleng, memaksakan dirinya untuk berdiri. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Hari ini masih ujian. Dan seperti kemarin ia tidak boleh gagal.
Rutinitas pagi berjalan seperti biasa. Ibunya di dapur. Ayahnya diam. Abangnya setengah bangun. Kakaknya sudah siap lebih dulu. Namun hari ini, Xavier tidak benar-benar hadir di antara mereka. Ia makan. Ia menjawab. Ia bergerak. Tapi pikirannya … tertinggal di tempat lain.
“Xavier.”
Ia tersentak sedikit. Menoleh ke arah ayahnya. “Iya, Yah?” Ayahnya menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Kamu kelihatan capek.” Xavier terdiam sesaat. “Enggak, Yah. Biasa aja.” Ayahnya tidak langsung menjawab. Hanya mengangguk kecil. Tapi tatapannya … tidak sepenuhnya percaya.
Perjalanan ke sekolah terasa lebih panjang. Langkah Xavier tetap stabil, tapi pikirannya terus berputar. Mimpi itu. Perasaan itu. Dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia menatap jalan di depannya. Fokus. Harus fokus.
Namun di pertengahan jalan langkahnya melambat. Perasaan itu datang lagi. Lebih cepat.Lebih tajam. Seperti sesuatu… sudah menunggunya. Xavier berhenti. Nafasnya tertahan. Udara pagi terasa sedikit lebih dingin. Atau mungkin… hanya perasaannya.
Ia tidak langsung menoleh kali ini. Ia berdiri diam. Merasakan. Dan untuk pertama kalinya ia yakin. Ini bukan perasaannya saja. Ada sesuatu. Di dekatnya. Sangat dekat. Seolah berdiri tepat di sampingnya. Xavier menelan ludah. Perlahan… ia menoleh. Kosong. Jalan tetap sama. Rumah-rumah tetap sepi. Tidak ada siapa-siapa.
Namun ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan kehadiran. Tapi … bekas. Seperti udara yang baru saja terganggu. Seperti seseorang… baru saja pergi. Xavier mengerutkan kening.Lalu mempercepat langkahnya. Tanpa menoleh lagi.
Di sekolah, suasana tidak jauh berbeda dari kemarin. Tegang. Ramai. Namun kali ini, Xavier merasa sedikit … terpisah. Seolah ada jarak tipis antara dirinya dan semua orang.