Bab 5 Hari Terakhir Ujian
Pagi itu datang lebih cepat dari yang Xavier harapkan. Atau mungkin… ia saja yang tidak benar-benar tidur.
Langit di luar jendela masih berwarna pucat ketika matanya terbuka. Tidak ada suara keras. Tidak ada alarm. Tubuhnya hanya… bangun dengan sendirinya.
Seolah ada sesuatu yang memanggilnya kembali ke kesadaran.
Xavier tidak langsung bergerak.
Ia berbaring diam, menatap langit-langit kamarnya yang sederhana. Cat putihnya sudah mulai kusam di beberapa sudut, retakan halus membentuk garis-garis kecil yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.
Hari ini hari terakhir.
Seharusnya ia merasa lega.
Namun yang ia rasakan justru sebaliknya.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Sesuatu yang tidak selesai.
Perasaan itu … sudah ada sejak beberapa hari lalu. Sejak mimpi itu. Sejak rasa diawasi yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dan sekarang lebih dekat.
Lebih jelas.
Lebih… menunggu.
Xavier menutup mata sejenak, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Cuma ujian,” bisiknya pelan.
Kalimat itu seharusnya cukup untuk menenangkan dirinya.
Tapi tidak sepenuhnya berhasil.
Ia bangkit dari tempat tidur, bergerak seperti biasa. Rutinitas pagi tidak berubah mandi pagi, memakai seragam, menyisir rambut dengan sederhana tanpa usaha berlebih.
Semua terlihat normal.
Semua terasa … hampir normal.
Namun di sela-sela gerakan kecil itu, ada jeda.
Ada momen di mana ia berhenti tanpa alasan.
Seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bersuara.
Di dapur, ibunya sudah lebih dulu bangun.
Aroma nasi hangat dan telur goreng memenuhi ruangan kecil itu. Sederhana, tapi cukup untuk memulai hari.
“Kamu bangun cepat hari ini,” ujar ibunya tanpa menoleh.
Xavier duduk di kursi kayu yang sudah sedikit aus di bagian pinggirnya.
“Iya.”
Jawaban singkat.
Seperti biasa.
Namun kali ini, ia sendiri merasa suaranya terdengar … lebih jauh.
Ibunya akhirnya menoleh.