The Life Where We Finally End

Zayyem Myue
Chapter #4

BAB 4 - Kelas Dua Belas dan Perpisahan yang Belum Dimulai

BAB 4 - 

Kelas Dua Belas dan Perpisahan yang Belum Dimulai

 

           Kelas dua belas punya cara sendiri untuk membuat waktu terasa aneh.

           Di satu sisi, hari-hari berjalan seperti biasa. Bel masuk tetap berbunyi terlalu cepat. Guru tetap memberi tugas seolah-olah murid-murid tidak punya hidup. Kantin tetap ramai pada jam istirahat. Anak-anak tetap mengisi ulang colokan untuk charger ponsel. Ada yang masih tertidur di kelas, ada yang masih lupa membawa buku, ada yang masih menyalin PR lima menit sebelum dikumpulkan.

           Tapi di sisi lain, semuanya terasa seperti sedang menuju akhir.

           Bangku yang biasa diduduki setiap hari tiba-tiba terasa seperti tempat yang sebentar lagi akan ditinggalkan. Coretan kecil di meja terasa seperti peninggalan sejarah. Bahkan suara teman sekelas yang ribut dan biasanya membuat kepala pening, belakangan terdengar seperti sesuatu yang nanti mungkin akan dirindukan.

           Xavier Sim merasakannya saat masuk kelas pagi itu.

           Ia berdiri sebentar di ambang pintu, memandangi ruangan yang sudah setengah penuh. Dimas sedang duduk terbalik di kursinya, menghadap ke belakang sambil makan gorengan. Rara dan Nisa sedang membandingkan catatan try out. Bimo tertidur dengan kepala menempel di meja, padahal jam pertama bahkan belum dimulai. Di pojok, dua anak sedang berdebat apakah kuliah jurusan manajemen itu “aman” atau “jebakan semua orang tua”.

           “Ya!” Dimas menyamakan tangan dengan gorengan setengah habis. “Sini cepat. Aku butuh orang pintar.”

           Xavier curiga. “Kalau kamu manggil aku orang pintar, pasti ada maunya.”

           “Fitnah. Gue tulus.”

           “Tulus mau nyontek?”

           Dimas menampar dadanya. “Bahasanya bukan nyontek. Ini kerja sama akademik.”

           Xavier berjalan ke bangkunya sambil tertawa kecil. “PR matematika?”

           “Sedikit.”

           “Sedikit berapa nomor?”

           Dimas menggeser buku ke arah Xavier. Halamannya masih bersih.

           Xavier menatap buku itu, lalu menatap Dimas.

           Dimas tersenyum tanpa rasa bersalah. “Nomor satu sampai sepuluh.”

           “Dimas.”

           “Aku anak bangsa yang membutuhkan pertolongan.”

           “Kamu anak bangsa yang main gamenya sampai jam dua.”

           “Selai satu lima puluh lima. Jangan lebay.”

           Xavier duduk di kursinya dan membuka tas. “Aku kasih cara, bukan jawaban.”

           Dimas langsung memegangi dadanya seperti tertembak. “Kejam. Kau berubah sejak mau ke Inggris.”

           Rara yang duduk di depan menoleh. “Nah, iya. Nanti kalau Xavier sudah di Inggris, dia pasti ngomongnya pakai aksen.”

           Nisa menyambung, “Terus kalau kita ngobrol, dia menjawabnya, 'Maaf, aku cukup sibuk dengan kehidupan akademisku.'”

           Dimas menirukan gaya sok elegan, "Oh, Indonesia? Saya dulu tinggal di sana."

           Seisi kelompok kecil itu tertawa.

           Xavier menutup wajah dengan satu tangan. “Kalian tuh ya. Aku belum tentu diterima.”

           “Tapi daftar kan?” tanya Rara.

           “Iya. Baru proses.”

           “Ke kampus apa namanya?” Nisa membekukan kepala. “Harrow… harimau?”

           “Harrowgate,” jawab Xavier.

           Dimas langsung mengangguk sok tahu. "Iya, Harrowgate. Kampus yang kalau masuk gerbangnya harus pakai jas, terus disambut pelayan."

           “Itu kampus apa hotel?”

           “Kalau Xavier masuk sana, dia otomatis jadi bangsawan.”

           Bimo yang dari tadi tidur tiba-tiba mengangkat kepala, rambut acak-acakan. “Kalau jadi bangsawan, traktir kita ayam geprek.”

           Semua.

           Xavier bengong. “Kamu bangun cuma buat minta ayam geprek?”

           Bimo menguap. “Prioritas hidup.”

           Dimas menunjuk Bimo. “Inilah calon pemimpin masa depan.”

           “Pemimpin diskon makanan,” gumam Rara.

           Xavier tertawa sampai matanya bertanya-tanya.

           Ia menyukai teman-temannya. Mereka berisik, kadang tidak peka, kadang menyebalkan, tapi mereka membuat kelas dua belas terasa tidak terlalu berat. Di antara tekanan ujian, pilihan kuliah, dan pertanyaan “habis lulus mau ke mana?”, tawa-tawa kecil seperti ini terasa seperti udara segar.

           Namun begitu Bu Dina masuk kelas, udara segar langsung berubah menjadi panik seketika.

           “Selamat pagi.”

           “Pagi, Bu…”

           Jawaban murid-murid terdengar setengah hidup.

           Bu Dina berhenti di depan meja guru, menatap kelas dengan ekspresi yang sudah sangat hafal kebiasaan mereka. Ia adalah wali kelas mereka sekaligus guru Bahasa Indonesia. Usianya sekitar akhir tiga puluhan, selalu rapi, tegas, tapi punya cara bicara yang membuat murid-murid segan sekaligus nyaman.

           “Bimo,” katanya tanpa melihat daftar hadir.

           Bimo langsung duduk tegak. “Saya bangun, Bu.”

           “Saya belum bertanya.”

           “Persiapan jawaban, Bu.”

           Beberapa anak tertawa kecil.

           Bu Dina menahan senyum. “Bagus. Kalau begitu semoga persiapan ujian kamu juga cepat persiapan jawaban.”

           Bimo langsung menunduk. “Siap, Bu.”

           Bu Dina meletakkan buku di meja, lalu menatap seluruh kelas.

           “Anak-anak, sebelum kita memulai materi, Ibu mau bicara sebentar.”

           Kalimat itu cukup membuat kelas agak tenang. Ada jenis nada tertentu dari guru yang membuat murid tahu bahwa ini bukan sekadar pengumuman biasa.

           “Ujian akhir kalian sudah dekat,” kata Bu Dina. "Setelah itu, kalian akan mulai jalan masing-masing. Ada yang kuliah, ada yang kerja, ada yang mungkin masih mencari arah. Itu semua wajar."

           Kelas menjadi lebih diam.

           Xavier menatap papan tulis, tapi pikirannya perlahan berhenti ikut bercanda.

           “Yang Ibu ingin kalian ingat,” lanjut Bu Dina, “masa depan itu penting, tapi jangan sampai kalian merasa harus punya semua penjelasan sekarang. Kalian masih muda. Boleh punya mimpi besar. Boleh juga bingung. Yang penting, jangan berhenti berusaha dan jangan malu minta bantuan.”

           Dimas di sebelah Xavier berbisik, “Aku minta bantuan PR boleh berarti?”

           Xavier menahan tawa. Diam.

           Bu Dina suka mendengar, tapi memilih mengabaikan.

           "Ibu tahu beberapa dari kalian sedang mendaftar kampus. Ada yang menunggu hasil seleksi. Ada yang ikut bimbel. Ada yang mungkin pura-pura santai padahal panik tiap malam."

           Beberapa anak tertawa kecil karena merasa tersindir.

           Mata Bu Dina sempat jatuh ke Xavier.

           “Termasuk yang punya rencana jauh,” katanya.

           Teman-teman langsung melirik Xavier.

           Xavier menunduk, pura-pura sibuk membuka buku.

           Bu Dina tersenyum tipis. "Mau sejauh apa pun kalian pergi nanti, jangan lupa satu hal. Tempat kalian berasal bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru itu yang membentuk kalian."

           Kalimat itu mendarat pelan di dada Xavier.

           Tempat asal kalian.

           Rumah kecil dengan halaman penuh tanaman. Dapur sempit yang hangat. Clara yang cerewet. Nathan yang diam-diam memperbaiki semuanya. Ibunya yang selalu realistis, tapi tidak pernah memotong sayapnya.

           Xavier menulis kalimat itu di pojok buku catatannya tanpa sadar.

           Jangan lupa tempat asalnya.

           Bu Dina kemudian mengepalkan tangan sekali. "Nah. Sekarang buka halaman seratus dua belas. Kita kembali ke kenyataan pahit."

           Kelas langsung menyasar.

           “Tadi, suasananya sudah bagus!”

           “Kenapa harus dinodai materinya, Bu?”

           “Ini bagian dari hidup,” jawab Bu Dina santai. “Hidup memang kadang puitis, kadang pilihan ganda.”

           Dimas berbisik, “Bu Dina harusnya jadi stand-up comedian.”

           Xavier tertawa pelan sambil membuka buku.

           Pelajaran dimulai.

           Namun sepanjang jam pertama, Xavier merasakan ada sesuatu yang berbeda. Mungkin karena nasehat Bu Dina. Mungkin karena ujian yang semakin dekat. Mungkin karena sejak pagi teman-temannya terus membahas masa depan.

           Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, dia benar-benar membayangkan dirinya tidak lagi duduk di bangku itu.

           Tidak lagi mendengar Dimas mengeluh PR.

           Tidak lagi melihat Bimo tidur.

           Tidak lagi meminjam penghapus dari Rara.

           Tidak lagi berjalan ke kantin yang sama.

           Sebuah perpisahan sedang mendekat, bahkan jika belum ada yang benar-benar mengucapkan selamat tinggal.

           Jam istirahat pertama selalu menjadi waktu paling kacau di kelas.

           Sebagian murid langsung menyebar ke kantin. Sebagian tetap di kelas karena malas. Sebagian lainnya memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan setelah istirahat.

           Xavier memilih tetap di kelas karena Clara membawakannya roti isi dari rumah. Ia duduk di bangku sambil membuka kotak bekal kecil.

           Dimas langsung memandang isi kotak itu dengan mata berbinar.

           “Xav.”

           “Nggak.”

           “Aku belum bicara.”

           “Matamu udah ngomong.”

           “Roti itu kelihatannya bosan. Aku bisa menemaninya.”

           Xavier menarik kotak bekalnya menjauh. “Kamu tadi makan gorengan dua.”

           “Itu pembuka.”

           Rara yang duduk di depan mengeluarkan keripik. “Redup, nih ambil ini aja.”

           Dimas langsung mengambil. “Rara, kamu malaikat.”

           “Bayar seribu.”

           “Malaikat kapitalis.”

           Nisa duduk di meja depan sambil membuka ponsel. “Eh, ngomong-ngomong, kalian udah kepikiran mau ngapain habis ujian?”

           “Kuliah,” jawab Rara.

           “Tidur,” jawab Bimo dari belakang.

           “Yang produktif dikit, Bim,” kata Nisa.

           “Tidur produktif untuk kesehatan.”

           Dimas mengunyah keripik. “Gue sih mau liburan dulu. Otak gue butuh pemulihan.”

           Rara mengangkat alis. “Otakmu kapan dipakai sampai butuh pemulihan?”

           “Dipakai memikirkan masa depan bangsa.”

           “Bangsa mana?”

           “Bangsa yang belum ditemukan.”

           Xavier tertawa sambil menggigit roti.

           Nisa menatap mereka semua dengan wajah tiba-tiba serius. “Beneran deh. Kita liburan yuk sebelum ujian akhir.”

           Dimas langsung duduk tegak. “Nah. Ini baru ide berkualitas.”

           Rara mengerutkan dahi. “Sebelum ujian malah liburan?”

           “Bukan liburan mingguan,” kata Nisa. “Dua hari satu malam aja. Sabtu-Minggu. Setelah try out selesai, sebelum masa ujian. Kayak perpisahan kecil.”

           “Ke mana?” tanya Bimo.

           Nisa mengetuk layar ponselnya. “Aku lihat tempat yang bagus. Daerah wisata alam. Ada hutan pinus, air terjun kecil, penginapan murah, bisa bakar-bakar malam.”

           Dimas langsung bersinar. “Bakar ayam?”

           “Kalau ada uang.”

           “Bakar tempe juga gak apa-apa.”

           Rara mengambil ponsel Nisa dan melihat foto-fotonya. "Ini bagus sih. Tapi agak jauh."

           “Naik bus sewaan bisa. Kalau rame-rame murah.”

           Bimo mengangkat kepala. “Ada sinyal?”

           Nisa merawat. “Kita mau penyembuhan, bukan turnamen Mobile Legends.”

           “Pertanyaan penting.”

           Xavier diam sambil mendengarkan.

           Liburan sebelum ujian.

           Kedengarannya menyenangkan. Pergi bersama teman-teman sekelas, menginap, bercanda, mengambil foto, mungkin membuat kenangan terakhir sebelum mereka semua sibuk dengan jalan masing-masing.

           Tapi di kepalanya, daftar tugas langsung muncul.

           Esai Harrowgate belum final.

           Portofolio harus dirapikan.

           Surat rekomendasi harus dikumpulkan.

           Tes bahasa Inggris harus dipersiapkan.

           Belum lagi ujian akhir sekolah.

           “Xav?” panggil Dimas.

           Xavier tersadar. “Hm?”

           “Lo ikut kan?”

           “Belum tahu.”

           Tiga pasang mata langsung memandang seolah-olah ia baru saja memandangi suatu negara.

           Rara menaruh tangan di dada. “Belum tahu?”

           Nisa menggeleng dramatis. “Xavier, ini mungkin liburan terakhir kita sebagai anak SMA.”

           “Jangan pakai kalimat sedih begitu.”

           “Biar kamu ikut.”

           Dimas menunjuknya dengan keripik. “Kalau kamu tidak ikut, siapa yang menjaga kita dari keputusan bodoh?”

Lihat selengkapnya