BAB 5 - Pamali yang Diceritakan Sebelum Tidur
Xavier hampir tidak ikut.
Bukan karena ibunya tiba-tiba melarang, bukan karena uangnya tidak cukup, bukan pula karena ia berubah pikiran. Semuanya sudah siap sejak tiga hari sebelumnya. Izin orang tua sudah dikumpulkan. Biaya patungan sudah dibayar. Tas sudah dikemas. Bahkan Clara sudah membantunya menyiapkan obat masuk angin, plester luka, tisu basah, dan camilan “darurat” yang menurut Xavier terlalu banyak untuk perjalanan dua hari satu malam.
Masalahnya, pagi itu Xavier bangun dengan perasaan tidak enak.
Bukan sakit. Bukan demam. Bukan mual.
Hanya perasaan aneh di dada, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ransel yang sudah siap di dekat pintu kamar. Jaketnya terlipat di atas tas. Power bank sudah penuh. Ponsel sudah diisi daya semalaman. Dokumen beasiswa Harrowgate sudah ia tinggalkan rapi di folder laptop karena Clara berjanji akan mengecek draf esainya selama ia pergi.
Seharusnya ia senang.
Ini liburan pertamanya bersama teman-teman sekelas sebelum ujian akhir. Dua hari satu malam. Tidak lama. Tidak jauh sekali. Hanya ke Lembah Suryantara, daerah wisata alam yang katanya punya hutan pinus, mata air tua, dan penginapan sederhana yang murah tapi bersih.
Tapi begitu ia membuka mata, kalimat yang muncul di kepalanya justru:
Jangan pergi.
Xavier mengerutkan kening.
“Apaan sih,” gumamnya pada diri sendiri.
Ia mengucek wajah, lalu berdiri. Mungkin ia hanya gugup. Ia memang begitu. Kalau ada kegiatan besar, bahkan yang menyenangkan sekalipun, otaknya suka menciptakan seribu alasan untuk mundur. Terlalu banyak yang harus dipikirkan, terlalu banyak kemungkinan buruk, terlalu banyak “kalau”.
Kalau hujan.
Kalau sakit.
Kalau lupa bawa sesuatu.
Kalau tugas Harrowgate jadi tertunda.
Kalau ibunya khawatir.
Kalau…
“Xav! Kamu udah bangun belum?” suara Clara terdengar dari luar kamar. “Jangan bilang kamu masih tidur. Anak-anak lain udah pada jalan ke titik kumpul, kayaknya.”
Xavier membuka pintu.
Clara berdiri di depan kamar dengan rambut dicepol, kaus rumah, dan wajah setengah curiga.
“Udah bangun,” kata Xavier.
Clara memandangnya dari atas ke bawah. “Tapi mukamu kayak orang mau ikut sidang skripsi.”
“Emang separah itu?”
“Lebih. Minimal anak sidang skripsi pakai kemeja.”
Xavier menunduk melihat kaus tidurnya. “Aku baru mau mandi.”
Clara menyipitkan mata. “Kamu mau batalin?”
“Nggak.”
“Yakin?”
Xavier diam setengah detik terlalu lama.
Clara langsung menunjuk wajahnya. “Nah. Itu muka mau kabur.”
“Aku cuma… agak nggak enak perasaan.”
“Nggak enak badan?”
“Nggak. Cuma perasaan.”
Clara melembut. “Kenapa? Takut?”
“Nggak tahu.”
“Karena berkas?”
“Mungkin.”
“Karena Ibu?”
“Mungkin juga.”
“Karena kamu anak rumahan yang sok berani mau menginap?”
Xavier menatapnya. “Kakak bisa berhenti membedah jiwaku pagi-pagi?”
“Nggak bisa. Ini bakat.”
Xavier tertawa kecil, tapi rasa aneh itu belum hilang.
Clara masuk ke kamar tanpa izin, seperti biasa, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menarik ransel Xavier, membuka resletingnya, dan memeriksa isinya.
“Baju sudah. Handuk sudah. Obat sudah. Charger sudah. Camilan sudah. Jaket sudah. Dompet?”
“Ada.”
“Uang cash?”
“Ada.”
“Power bank?”
“Ada.”
“Obat pribadi?”
“Aku nggak punya obat pribadi.”
“Obat masuk angin itu pribadi kalau kamu mulai sok kuat.”
“Kak.”
Clara menutup tas. “Kamu siap.”
“Aku tahu.”
“Tapi kepala kamu belum?”
Xavier duduk di sampingnya. “Aku takut ninggalin kerjaan.”
“Dua hari, Xav. Kamu bukan menteri yang negara bisa runtuh kalau libur.”
“Esai Harrowgate…”
“Aku cek nanti malam. Kamu udah kirim file-nya. Nathan juga udah backup semua sampai mungkin alien juga punya salinannya.”
Xavier tertawa.
Clara menepuk punggungnya. “Kamu boleh senang-senang sebentar. Dunia nggak akan marah.”
“Kalau Ibu?”
“Ibu yang nyiapin bekalmu dari subuh. Kalau kamu batalin, Ibu yang marah karena ayam gorengnya mubazir.”
Xavier langsung berdiri. “Ada ayam goreng?”
“Tuh. Motivasi paling efektif.”
Xavier akhirnya mandi.
Saat ia keluar kamar dengan pakaian siap pergi kaus putih, jaket tipis, celana panjang, dan ransel di punggung Ratna sudah menunggu di ruang tengah dengan kotak bekal besar. Nathan duduk di sofa sambil memegang ponsel Xavier, entah sedang mengecek apa.
“Ibu,” kata Xavier curiga, melihat kotak bekal. “Kita pergi dua hari, bukan buka warung.”
Ratna memasukkan satu kotak kecil lagi ke dalam tas jinjing. “Ini buat dimakan di jalan. Ini buat teman-temanmu. Ini buat kalau malam lapar.”
“Bu…”
“Jangan protes. Kamu kalau sudah ramai-ramai suka lupa makan.”
Nathan mengangkat ponsel Xavier. “Location sharing sudah aktif. Baterai jangan sampai mati. Nomor Dimas, Nisa, sama Rara sudah aku simpan di kontak darurat. Nomor penginapan juga.”
Xavier melongo. “Abang ngapain aja sama ponselku?”
“Membuatnya berguna.”
“Aku merasa privasiku dilanggar.”
“Privasi kamu aman. History browser kamu tidak menarik.”
Clara yang baru keluar dari dapur langsung tertawa.
Xavier menatap Nathan dengan panik. “Bang!”
Nathan mengembalikan ponsel dengan wajah datar. “Candaan.”
“Abang kalau bercanda mukanya jangan kayak mau mengumumkan hasil forensik.”
Ratna mengancingkan tas kecil Xavier. “Dengar, Xav. Di sana jangan keluar malam sendirian. Kalau mau ke mana-mana, bareng teman. Jangan main terlalu jauh ke hutan. Jangan sok berani.”
Clara menambahkan, “Jangan ikut kalau ada teman punya ide aneh.”
Xavier mengangguk. “Itu sudah pasti.”
Nathan berkata, “Kalau ada yang ngajak uji nyali, tolak.”
“Iya, Bang.”
“Kalau dipaksa, telepon.”
“Iya.”
“Kalau nggak ada sinyal, cari orang dewasa.”
“Iya.”
“Kalau…”
“Nathan,” potong Clara. “Dia mau liburan, bukan operasi militer.”
Nathan meliriknya. “Persiapan menyelamatkan hidup.”
Xavier tersenyum, meskipun dadanya mendadak hangat.
Ia tahu keluarganya khawatir. Ratna dengan cara ibu, Clara dengan cara menggoda, Nathan dengan cara membuat daftar kemungkinan buruk. Kadang perhatian mereka terasa berlebihan, tapi Xavier tahu ia akan merindukannya begitu ia berangkat.
Jika ia benar-benar berangkat ke Inggris nanti.
Pikiran itu membuat senyumnya sedikit turun.
Ratna menyadarinya. Ia mendekat dan merapikan rambut Xavier dengan jari.
“Senang-senang ya,” katanya pelan. “Jangan mikirin beasiswa terus.”
“Iya, Bu.”
“Foto yang banyak. Nanti kirim.”
“Iya.”
“Kalau makan, fotoin juga.”
“Kenapa makanan juga?”
“Biar Ibu tahu kamu benar-benar makan.”
Xavier tertawa. “Baik.”
Clara memeluknya cepat. “Jangan pulang bawa cerita horor.”
“Kalau ada cerita horor, aku kirim ke Kak Clara dulu.”
“Aku blokir.”
Nathan tidak memeluk. Ia hanya berdiri, menatap Xavier dari atas, lalu berkata, “Jaga diri.”
Dua kata.
Pendek. Datar.
Tapi Xavier tahu itu versi Nathan dari pelukan panjang.
“Iya, Bang.”
Ia keluar rumah dengan tas di punggung, bekal di tangan, dan tiga pasang mata mengawasinya sampai ke ujung pagar.
Pagi itu cerah.
Namun saat Xavier berjalan menuju titik kumpul di depan sekolah, perasaan aneh itu masih tinggal di dadanya.
Seperti ada sesuatu yang menahan napas, menunggu ia melangkah lebih jauh.
Titik kumpul kelas lebih mirip pasar kecil daripada persiapan liburan.
Di depan gerbang sekolah, anak-anak sudah berkumpul dengan tas, bantal leher, kantong makanan, speaker bluetooth, gitar, dan satu kardus mie instan yang entah bagaimana benar-benar dibawa Bimo meskipun semua orang sudah melarangnya.
“Bimo,” kata Rara dengan suara lelah, “kenapa itu ada?”
Bimo memeluk kardus mie seperti bayi. “Jaga-jaga.”
“Kita dua hari satu malam.”
“Kelaparan bisa terjadi kapan saja.”
Dimas menunjuk Xavier yang baru datang. “Nah, tanya Xavier. Dia anak baik. Pasti setuju kita butuh persiapan.”
Xavier menatap kardus mie, lalu menatap Bimo. “Kalau busnya nggak muat, kardusnya ditinggal.”
Bimo tampak tersakiti. “Xav, aku kira kamu temanku.”
“Aku temanmu. Makanya aku mau menyelamatkanmu dari kebanyakan natrium.”
Nisa tertawa sambil mencentang daftar peserta. Ia tampak paling sibuk, memegang map, ponsel, dan pulpen sekaligus. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya penuh semangat.
“Xavier Sim hadir,” katanya sambil memberi centang. “Akhirnya. Aku sempat takut kamu batal.”
“Hampir.”
Nisa langsung melotot. “Hampir?”
“Bercanda.”
“Kamu kalau bercanda bikin jantung panitia lepas.”
Rara mengambil tas bekal dari tangan Xavier. “Ini apa? Berat banget.”
“Bekal dari Ibu.”
Dimas langsung mendekat. “Bu Ratna adalah pahlawan bangsa.”
“Jangan dihabisin semua,” kata Xavier.
“Tentu. Kami akan makan dengan penuh hormat.”
“Yang ada kamu makan dengan penuh kecepatan.”
Bus yang mereka sewa akhirnya datang pukul tujuh lewat sedikit. Warnanya putih dengan stiker pariwisata di samping, AC-nya katanya menyala, meskipun butuh waktu lima belas menit untuk membuktikannya. Supirnya, Pak Yanto, tampak sabar menghadapi anak-anak kelas dua belas yang ributnya seperti rombongan studi banding burung gereja.
Bu Dina tidak ikut, tetapi ia datang sebentar untuk memastikan keberangkatan.
Ia berdiri di dekat bus, memegang daftar peserta, memeriksa satu per satu, lalu memberi tatapan panjang kepada Dimas.
“Dimas.”
“Iya, Bu?”
“Jangan jadi sumber masalah.”
Dimas memegang dada. “Bu, saya tersinggung.”
“Ibu sudah mengajar kamu hampir tiga tahun. Ibu mengenal potensi bencana.”
Seisi bus tertawa.
Bu Dina lalu menatap semuanya. “Jaga sikap. Patuhi aturan tempat. Jangan sok-sokan. Kalau ada masalah, hubungi orang tua atau Ibu. Kalian pergi untuk membuat kenangan baik, bukan membuat berita buruk.”
“Siap, Bu!”
Xavier naik ke bus dan duduk di dekat jendela. Dimas langsung duduk di sebelahnya tanpa bertanya.
“Kursi ini sudah ditempati?” tanya Dimas setelah duduk.
Xavier menatapnya datar. “Kalau iya, kamu sudah telat nanya.”
“Bagus. Kita resmi teman seperjalanan.”
Rara dan Nisa duduk di depan mereka. Bimo duduk di belakang, masih menjaga kardus mie. Beberapa teman lain mulai memutar lagu, ada yang membuka camilan, ada yang langsung tidur padahal bus baru bergerak lima menit.
Ketika bus meninggalkan sekolah, sorakan kecil terdengar.
Aneh rasanya melihat sekolah dari jendela bus.
Gedung yang biasanya menjadi tempat mereka datang setiap pagi kini tertinggal di belakang, terlihat semakin kecil. Gerbang sekolah, pos satpam, pohon mangga dekat lapangan, semuanya perlahan hilang dari pandangan.
Dimas mengangkat ponsel. “Foto dulu. Bukti kita pernah muda.”
“Kita masih muda,” kata Xavier.
“Justru harus ada bukti sebelum ujian membuat kita tua.”
Ia merangkul bahu Xavier dan mengambil selfie. Xavier belum siap, hasilnya wajahnya setengah kaget. Dimas langsung tertawa puas.
“Ini bagus. Natural.”
“Hapus.”
“Nggak. Ini warisan sejarah.”
Xavier mencoba merebut ponsel Dimas. Mereka hampir menjatuhkan bungkus keripik, Rara menoleh dan memarahi mereka seperti ibu-ibu muda, Nisa merekam kekacauan itu, dan Bimo dari belakang hanya berkata, “Kalau jatuh, keripiknya kasih aku.”
Perjalanan dimulai dengan ribut.
Lagu diputar. Ada yang menyanyi fals. Ada yang memukul sandaran kursi seperti drum. Dimas memimpin tebak-tebakan receh yang membuat Rara berkali-kali ingin turun dari bus. Xavier tertawa sampai perutnya sakit ketika Bimo dengan wajah serius menjawab pertanyaan “kenapa ayam menyeberang jalan?” dengan “karena di seberang ada promo paket hemat”.
Mereka berhenti di rest area kecil sekitar dua jam kemudian.
Anak-anak langsung turun seperti baru dibebaskan dari kandang. Ada yang ke toilet, ada yang beli minuman, ada yang foto-foto di depan bus. Xavier mengirim pesan ke grup keluarga.
Xavier:
Udah sampai rest area. Masih hidup. Sudah makan roti. Ini buktinya.
Ia mengirim foto roti yang tinggal setengah.
Clara membalas duluan.
Clara:
Foto makanan setelah dimakan setengah itu bukan bukti yang kuat.
Ratna:
Hati-hati ya. Jangan jauh-jauh dari teman.
Nathan:
Baterai 74%. Charge nanti di bus kalau bisa.
Xavier menatap balasan Nathan, bingung.
Lalu ia sadar Nathan pasti masih bisa melihat status ponselnya dari fitur keamanan yang tadi pagi diatur.
Xavier:
Bang, kamu mantau baterai ponselku?
Nathan:
Ya.
Xavier:
Menyeramkan.