BAB 6 - Anak yang Dijaga Bayangan
Pagi datang terlalu biasa untuk malam yang tidak biasa.
Saat Xavier membuka mata, cahaya matahari sudah masuk dari celah tirai kamar. Warnanya pucat, lembut, jatuh miring ke lantai kayu dan mengenai ujung kardus mie instan milik Bimo yang masih berada di tempat yang sama seperti semalam.
Kamar laki-laki berantakan.
Tas terbuka. Jaket tergulung di dekat kaki seseorang. Sandal tidak berpasangan. Bungkus camilan terselip di bawah kasur. Salah satu teman tidur melintang seperti korban kecelakaan kecil. Bimo mendengkur pelan dengan tangan memeluk bantal, sementara Dimas masih tertidur di kasur dekat jendela dengan mulut sedikit terbuka.
Semuanya normal.
Terlalu normal.
Xavier duduk perlahan.
Untuk beberapa detik, ia hanya diam, mencoba mengingat apakah yang terjadi semalam benar-benar terjadi.
Ruang tengah yang terlalu sunyi.
Pantulan gelap di kaca.
Bisikan di telinganya.
“Tidurlah.”
Ia menyentuh telinganya pelan.
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada bekas dingin. Tidak ada suara. Tidak ada tanda bahwa sesuatu pernah membungkuk begitu dekat hingga napasnya terasa seperti menyentuh kulit.
Xavier menoleh ke arah jendela.
Tirai masih tertutup, tetapi pagi membuatnya terlihat tidak menakutkan. Kainnya bergerak sedikit karena angin. Dari baliknya, terdengar suara burung yang akhirnya muncul, meskipun tidak ramai. Ada juga suara orang menyapu halaman, mungkin Pak Jaya atau Bu Sari. Jauh dari dapur, terdengar denting piring.
Malam seperti mimpi.
Tapi rasa di dadanya bukan rasa seseorang yang baru bangun dari mimpi.
Rasa itu terlalu nyata.
“Xav…”
Suara serak Dimas membuat Xavier menoleh.
Dimas membuka mata sebelah, menatapnya dengan ekspresi setengah sadar.
“Jam berapa?”
Xavier mengambil ponsel. “Enam lewat dua puluh.”
Dimas langsung menutup wajah dengan bantal. “Masih muda banget pagi ini.”
“Kita katanya ke air terjun jam tujuh.”
“Siapa yang bikin jadwal sejahat itu?”
“Nisa.”
“Panitia harus diaudit.”
Xavier tertawa pelan.
Dimas menyingkirkan bantal dari wajahnya, lalu memicing ke arah Xavier. “Lo bangun dari tadi?”
“Baru.”
“Muka lo kayak habis rapat sama jin.”
Xavier terdiam setengah detik.
Dimas langsung duduk sedikit. “Eh. Beneran ada apa?”
“Nggak ada.”
“Xav.”
“Aku cuma kurang tidur.”
Dimas mengamati wajahnya. Untuk seseorang yang sering bercanda, Dimas sebenarnya tidak bodoh. Ia tahu kapan seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Masalahnya, ia juga tahu kapan harus menekan dan kapan harus pura-pura percaya.
Pagi itu ia memilih yang kedua.
“Oke,” gumamnya sambil menguap. “Kalau kurang tidur, nanti di bus pulang lo tidur. Tapi hari ini jangan ambruk. Gue nggak kuat gotong.”
“Kamu juga nggak kuat gotong galon.”
“Itu karena galonnya sombong.”
Xavier tersenyum, lalu berdiri untuk mengambil handuk.
Sambil berjalan ke kamar mandi, ia melirik jendela sekali lagi.
Pagi membuat segalanya tampak bersih.
Tapi ia tahu, semalam ada sesuatu di balik gelap itu.
Dan yang paling membuatnya gelisah bukan karena sesuatu itu menakutkan.
Melainkan karena sesuatu itu tidak menyakitinya.
Sarapan di Pondok Suryantara terasa ramai.
Bu Sari menyiapkan nasi goreng sederhana, telur dadar iris, kerupuk, teh manis, dan pisang rebus. Anak-anak yang semalam sok berani kini duduk dengan wajah kusut, rambut berantakan, dan mata setengah tertutup.
Bimo adalah pengecualian. Ia tampak bahagia setiap kali makanan tersedia.
“Bu Sari,” kata Bimo dengan wajah tulus, “nasi gorengnya enak banget.”
Bu Sari tertawa. “Tambah?”
“Boleh?”
“Boleh.”
Rara menatap Bimo dengan takjub. “Kamu itu metabolisme atau jurang?”
“Bakat.”
Dimas duduk di sebelah Xavier sambil memegang sendok. “Gue kecewa.”
Nisa yang sedang mengecek daftar kegiatan menoleh. “Kecewa kenapa?”
“Semalam nggak terjadi apa-apa.”
Rara langsung mengangkat tangan. “Terima kasih, Tuhan.”
“Bukan, maksudku… ya minimal ada suara aneh lah. Tempat ini katanya penuh cerita.”
Xavier menunduk ke piringnya.
Nisa mengangkat alis. “Kamu mau diganggu?”
“Bukan diganggu parah. Yang ringan-ringan aja.”
“Gangguan itu bukan level pedas, Dim,” kata Rara. “Nggak bisa pesan ‘yang sedang’.”
Bimo mengangguk sambil makan. “Kalau bisa pesan, aku pilih nggak ada.”
Dimas menghela napas. “Kalian nggak punya jiwa petualang.”
“Kami punya keinginan hidup,” jawab Xavier.
Dimas menunjuk Xavier dengan sendok. “Nah, bahkan anak baik ini setuju.”
Xavier hampir tersenyum, tetapi kata-kata Dimas tadi masih mengganggunya.
Nggak terjadi apa-apa.
Bagi teman-temannya, benar. Tidak ada apa-apa.
Tidak ada yang melihat sosok tinggi di hutan.
Tidak ada yang mendengar suara di telinga.
Tidak ada yang merasa seluruh tempat mendadak kosong karena sesuatu yang lebih besar datang bersama mereka.
Hanya Xavier.
Ia mengambil ponsel dan melihat pesan dari ibunya.
Ratna:
Pagi, Xav. Udah bangun? Jangan lupa sarapan. Kirim foto ya.
Xavier memotret piringnya, memastikan kali ini makanannya masih utuh. Lalu ia mengirimkannya.
Xavier:
Udah sarapan, Bu. Ini bukti sebelum dimakan.
Clara langsung membalas di grup keluarga.
Clara:
Akhirnya belajar dari kesalahan.
Nathan menyusul beberapa detik kemudian.
Nathan:
Baterai 82%. Bagus. Jangan taruh HP di tempat basah kalau ke air terjun.
Xavier mengetik sambil tersenyum:
Xavier:
Abang kayak aplikasi keamanan berjalan.
Nathan:
Lebih berguna.
Clara mengirim:
Clara:
Kalau ada yang aneh-aneh, jangan ikut. Jangan sok berani. Jangan percaya temanmu itu, siapa namanya? … Dimas.
Xavier menatap pesan itu beberapa detik terlalu lama.
Kalau ada yang aneh-aneh.
Ia hampir menulis:
Kak, semalam aku dengar suara.
Tapi jempolnya berhenti.
Akhirnya ia hanya membalas:
Xavier:
Siap. Aku baik-baik aja.
Ia mengunci layar ponsel dan kembali makan.
Di sebelahnya, Dimas mencondongkan badan. “Chat keluarga lagi?”
“Iya.”
“Dipantau?”
“Seperti biasa.”
“Enak ya.”
Xavier menoleh. “Enak?”
Dimas mengangkat bahu. “Ya… ribet sih. Tapi enak. Ada yang ribut nyuruh makan, nyuruh charge HP, nyuruh jangan mati.”
Xavier menatap piringnya.
Kadang ia lupa bahwa hal-hal yang menurutnya berlebihan adalah hal yang mungkin diinginkan orang lain.
“Iya,” katanya pelan. “Enak.”
Dimas meliriknya, lalu tersenyum kecil. “Jangan jadi sedih pagi-pagi. Nanti aura liburan rusak.”
“Kamu duluan yang ngomong.”
“Aku memang sering menyentuh sisi emosional tanpa sengaja.”
“Lebih sering menyentuh kesabaran orang.”
“Itu juga bakat.”
Xavier tertawa.
Untuk beberapa saat, pagi kembali terasa biasa.
Mereka berangkat ke air terjun pukul tujuh lewat tiga puluh, karena tentu saja tidak ada rombongan anak SMA yang benar-benar bisa berangkat tepat waktu.
Rute menuju air terjun tidak terlalu jauh dari pondok. Pak Jaya mengantar mereka sampai gerbang jalur trekking dan memberi arahan singkat. Jalurnya sudah biasa dilalui wisatawan, tetapi tetap berupa tanah, batu, akar pohon, dan beberapa bagian licin karena embun.
“Jalan pelan-pelan,” kata Pak Jaya. “Kalau ada batu licin, jangan sok lompat. Jangan keluar jalur. Kalau sampai mata air kecil di tengah jalan, jangan main kasar. Itu masih satu aliran dengan mata air tua.”
Dimas mengangkat tangan. “Pak, kalau foto boleh?”
“Boleh. Asal jangan merusak.”
Rara langsung menatap Dimas. “Dengar?”
“Iya, Ibu Rara.”
“Bagus, anakku.”
Xavier berdiri agak di belakang, memperhatikan Pak Jaya yang sedang menjelaskan arah jalan. Sekali lagi, ia merasa lelaki itu beberapa kali meliriknya. Tidak terang-terangan. Tidak membuat orang lain sadar. Tapi cukup untuk membuat Xavier merasa diperhatikan.
Bukan seperti tadi malam.
Tatapan Pak Jaya adalah tatapan manusia yang bingung.
Tatapan dari hutan semalam adalah sesuatu yang lain.
“Xav,” panggil Nisa. “Ayo. Jangan bengong.”
“Iya.”
Mereka mulai berjalan.
Udara pagi di Lembah Suryantara dingin dan segar. Cahaya matahari menembus celah daun, jatuh dalam potongan-potongan terang di jalur tanah. Anak-anak bergerak dalam kelompok kecil, kadang berhenti untuk foto, kadang mengeluh karena jalan menanjak.
Bimo sudah berkeringat setelah sepuluh menit.
“Kenapa air terjun harus di tempat jauh?” keluhnya.
Dimas berjalan di sampingnya. “Kalau dekat parkiran, namanya air keran.”
“Air keran juga berguna.”
Rara di depan berbalik. “Jangan banyak ngomong, nanti makin capek.”
“Aku butuh mengekspresikan penderitaan.”
Xavier tertawa kecil sambil berjalan di belakang mereka.
Ia membawa tas kecil berisi air minum, ponsel, dan camilan. Nisa memegang kamera. Dimas membawa tongkat kayu yang ia temukan di dekat jalur, mengaku sebagai “penjelajah lembah”. Rara sudah tiga kali menyuruhnya membuang tongkat itu karena takut ia menyenggol orang. Dimas menolak dengan alasan tongkat itu telah memilihnya.
Perjalanan itu seharusnya menyenangkan.
Dan sebagian besar memang menyenangkan.
Namun Xavier tidak bisa sepenuhnya santai.
Ia merasakan hal-hal kecil.
Burung-burung yang tiba-tiba diam saat ia lewat.
Angin yang bergerak dari belakangnya, bukan dari arah pohon.
Daun kering yang tersingkir dari jalur tepat sebelum ia menginjaknya.
Dan satu rasa yang terus mengikuti: seolah ada seseorang berjalan beberapa langkah di belakangnya, tetapi setiap kali ia menoleh, hanya ada jalur kosong.
Awalnya ia mencoba mengabaikannya.
Lalu kejadian pertama terjadi.
Mereka sedang melewati bagian jalan yang menurun dan agak berbatu. Rara berjalan di depan, Nisa di sampingnya, Dimas dan Bimo ribut di belakang. Xavier berada di tengah, mencoba memilih pijakan yang aman.
“Pelan-pelan,” kata Rara. “Batunya licin.”
“Aman,” jawab Dimas. “Aku punya tongkat legendaris.”
“Tongkatmu nggak akan menolong kalau kamu jatuh.”
“Meragukan benda pusaka adalah dosa.”
Xavier tersenyum, lalu menginjak batu besar yang tampak kering.
Ternyata bagian atasnya licin oleh lumut tipis.
Kakinya tergelincir.
Semua terjadi cepat.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tas kecilnya bergeser. Tangannya refleks meraih udara kosong. Di depannya ada batu lain yang tajam di bagian sisi. Kalau ia jatuh ke arah itu, lutut atau lengannya bisa terluka cukup parah.