BAB 7 - yang Mengikuti Pulang
Pagi terakhir di Pondok Suryaantara terasa lebih cepat dari yang Xavier kira.
Mungkin karena semua orang sudah lelah. Mungkin karena tidak ada lagi yang benar-benar ingin membahas suara dari hutan, bayangan aneh, atau kejadian-kejadian kecil yang membuat Xavier nyaris celaka kemarin. Atau mungkin karena ketika hari pulang tiba, setiap perjalanan selalu tiba-tiba terasa pendek, seolah-olah waktu yang kemarin panjang tiba-tiba dilipat begitu saja.
Anak-anak sibuk membereskan barang sejak pukul tujuh.
Ruang tengah pondok yang kemarin malam dipenuhi tawa, cerita pamali, kartu permainan, dan gelas teh, kini berubah menjadi area kekacauan. Ada kaus kaki yang hilang sebelah. Ada charger tertinggal di colokan. Ada yang mencari dompet di bawah bantal. Ada yang lupa apakah handuknya sudah masuk tas atau belum. Bimo duduk di lantai sambil menghitung sisa mie instan dalam kardusnya dengan ekspresi serius.
“Bim,” kata Rara sambil melipat jaket, “kamu ngapain?”
“Stok opname.”
“Stok opname mie?”
“Harus ada tanggung jawab.”
Dimas yang sedang memasukkan pakaian asal-asalan ke dalam tas langsung berkomentar, “Bimo kalau urusan akademik seserius urusan mie, dia sudah jadi juara umum.”
Bimo menatapnya. “Jangan hina komitmen.”
Xavier tertawa pelan dari dekat pintu kamar.
Ia sudah menyelesaikan pengemasan barang lebih dulu. Tasnya rapi, berkat kebiasaan yang diwariskan Clara dan sedikit paranoia dari Nathan. Ponselnya sudah penuh, power bank masuk kantong depan, dompet aman, baju kotor dipisah plastik, dan oleh-oleh kecil untuk Ibu, Clara, dan Nathan sudah ia bungkus di dalam tas: teh herbal lokal untuk ibu, gantungan kunci kayu berbentuk daun untuk Clara, dan kopi bubuk dari warung setempat untuk Nathan, meskipun ia tidak yakin abangnya akan menyampaikannya lebih dari “hm”.
Seharusnya ia merasa lega.
Liburan selesai. Tidak ada yang terluka parah. Tidak ada kejadian besar. Mereka akan pulang, kembali ke sekolah, kembali ke persiapan ujian akhir, kembali ke kehidupan yang bisa dijelaskan.
Namun saat Xavier berdiri di depan jendela kamar untuk terakhir kali, memandang hutan pinus di belakang pondok, rasa itu belum hilang.
Ada sesuatu di sana.
Atau pernah ada.
Pagi membuat hutan tampak jinak. Cahaya matahari masuk di antara batang-batang pinus, kabut tipis bergerak rendah, dan beberapa burung akhirnya terdengar jelas. Tidak ada sosok yang tinggi. Tidak ada bayangan yang berdiri diam di antara pepohonan. Tidak ada bisikan.
Tetapi Xavier tahu dia tidak membayangkannya.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku, membuka galeri, lalu kembali melihat foto yang semalam ia simpan di folder tersembunyi.
Foto dirinya di dekat aliran air kecil.
Bayangan panjang di belakangnya masih ada.
Lebih besar dari bayangan tubuhnya.
Tidak punya pemilik.
Xavier memperbesar gambar itu sampai pecah.
Mungkin bentuk pohon.
Mungkin sudut cahaya.
Mungkin pantulan daun.
Mungkin apa saja.
Ia ingin percaya itu.
Sangat ingin.
“Xav!”
Xavier tersentak dan cepat-cepat mengunci layar ponselnya.
Dimas berdiri di belakangnya, tas ransel digantung di satu bahu, rambut masih berantakan, wajahnya terlihat kurang tidur.
"Lo ngapain? Pamitan sama hutan?"
Xavier memasukkan ponsel ke saku. “Lihat pemandangan.”
“Pemandangan hutan yang tidak memberikan pengalaman horor sesuai ekspektasi.”
“Kamu masih kecewa?”
Dimas mendekati jendela, lalu memandang keluar. Untuk beberapa detik, wajahnya tidak bercanda.
“Agak.”
“Karena tidak ada hantu?”
“Bukan.” Dimas menggaruk kepala. “Karena… gue ngerasa ada sesuatu, tapi nggak bisa buktiin. Jadi rasanya ngeselin.”
Xavier.
Dimas masih memandang hutan.
“Lo juga ngerasa gitu kan?” tanyanya pelan.
Xavier diam.
Ia bisa saja berbohong. Dia bisa berkata tidak. Ia bisa mengubah topik, menyuruh Dimas mengurus tugasnya, atau menjelek-jelekkan kardus mie Bimo untuk mencairkan suasana.
Tapi mungkin karena mereka sudah melewati dua malam di tempat yang sama, karena Dimas memang sempat merasakan kesunyian itu, atau karena Xavier sendiri terlalu lelah berpura-pura normal, akhirnya ia menjawab pelan.
“Iya.”
Dimas menghela napas. “Gue kira cuma gue.”
“Bukan cuma kamu.”
“Kemarin pas di air terjun… lo dengar suara beneran?”
Xavier kembali memandang hutan.
“Iya.”
“Suara siapa?”
“Nggak tahu.”
“Manggil nama lo?”
Xavier mengangguk.
Biasanya, Dimas akan langsung membuat lelucon. Mungkin berkata bahwa hantu pun tertarik pada calon mahasiswa Inggris. Atau bahwa nama Xavier memang terlalu mudah dijadikan bahan panggilan mistis. Tapi kali ini dia tidak bercanda.
“Lo nggak jawab kan?”
“Nggak.”
“Bagus.”
Xavier menatapnya. “Kamu serius banget.”
Dimas menoleh, lalu tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Gue nggak sebodoh yang Rara tuduhkan.”
“Kadang iya.”
“Kadang,” akunya.
Mereka diam sebentar.
Lalu Dimas berkata, lebih pelan, “Tapi anehnya, gue nggak ngerasa suara itu berhasil mendekat sama lo.”
Xavier menoleh cepat. “Maksudnya?”
“Entahlah.” Dimas mengerutkan dahi, seperti kesulitan yang dijelaskan. "Kayak... ada yang manggil, tapi ada juga yang lainnya. Bukan dari kita. Bukan dari Pak Jaya. Dari tempatnya sendiri, mungkin. Atau dari sesuatu yang lebih galak."
Jantung Xavier berdetak sedikit lebih cepat.
Dimas menepuk pundaknya untuk menutup pembicaraan. "Ya udah. Jangan dipikirin. Nanti malah kebawa sampai rumah."
Xavier memaksakan senyum. “Ya.”
Tapi dia tahu sesuatu sudah terlanjur ikut terbawa.
Entah dalam pikiran.
Entah dalam fotonya.
Entah dalam bayangan yang berdiri terlalu dekat di belakang hidupnya.
Sebelum naik bus, rombongan berpamitan kepada Pak Jaya dan Bu Sari.
Pak Jaya berdiri di depan gerbang pondok dengan tangan di belakang punggung. Bu Sari membagikan kantong kecil berisi keripik pisang sebagai oleh-oleh. Anak-anak langsung ramai berterima kasih banyak.
“Jangan lupa belajar,” kata Pak Jaya. “Liburannya sudah, sekarang ujiannya jangan dilupakan.”
“Siap, Pak,” jawab Nisa.
Dimas mengangkat tangan. “Pak, nanti kalau kami balik lagi, boleh?”
Pak Jaya tersenyum. “Boleh.Asal tetap sopan.”
Rara menyenggol Dimas. "Dengar? Sopan."
Dimas merawat. “Kamu dari kemarin menganggap aku ancaman nasional.”
“Karena kamu berbakat.”
Xavier menunggu teman-temannya selesai naik bus. Ia ingin naik bus, tapi Bu Sari memanggilnya.
“Nak Xavier.”
Bu Sari berdiri beberapa langkah di dekat pagar, senyumnya lembut seperti biasa. Namun ada sesuatu di matanya yang membuat Xavier tiba-tiba merasa kembali berada di dekat mata air tua.
“Iya, Bu?”
Bu Sari mendekat pelan. Di tangannya ada kantong kecil berisi keripik pisang.
"Ini untuk kamu. Ibu kasih lebih. Katanya kamu suka makan manis?"
Xavier menerima kantong itu dengan canggung. “Makasih, Bu.Tapi kok Ibu tahu?”
“Temanmu yang besar itu cerita waktu sarapan. Yang bawa kardus mie.”
“Bimo,” kata Xavier, lalu tersenyum kecil. “Dia memang suka cerita soal makanan.”
Bu Sari ikut tersenyum.
Namun senyum itu perlahan-pelan memudar.
“Semalam tidurmu nyenyak?” tanyanya.
Pertanyaan itu biasa.
Tapi cara Bu Sari mengucapkannya tidak biasa.
Xavier mengemas kantong keripik lebih erat.
“Lumayan,” jawabnya.
“Tidak mimpi buruk?”
Xavier menahan napas.
“Enggak.”
Bu Sari mengangguk, seolah jawaban itu sesuai dugaannya.
“Bagus.”
Xavier ragu. “Bu…”
“Hm?”
“Kalau ada sesuatu yang… menjaga seseorang,” katanya hati-hati, “apa orang itu harus takut?”
Bu Sari memandangnya cukup lama.
Di belakang mereka, anak-anak mulai memanggil Xavier dari bus. Dimas mengetuk kaca sambil menunjuk keluar, pura-pura kesal. Nisa memberi isyarat agar ia cepat naik.
Bu Sari tetap tidak terburu-buru menjawab.
“Ada penjaga yang datang karena doa,” katanya pelan. "Ada yang datang karena kasih sayang. Ada juga yang datang karena ikatan yang terlalu kuat."
Xavier menelan ludah. “ikatan?”
“Tidak semua yang mengikutinya ingin menyakiti,” lanjut Bu Sari. “Tapi tidak semua orang tahu cara melepasnya.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang dingin jatuh ke dalam dada Xavier.
“Bu Sari tahu sesuatu?” tanyanya hampir berbisik.
Bu Sari menggeleng pelan.
“Ibu hanya tahu tempat ini sudah lama punya banyak penghuni. Tapi dua malam ini, tidak ada satu pun yang berani dekat dengan pondok. Bahkan yang biasa iseng pun diam.”
Xavier merasa tengkuknya meremang.
“Karena saya?”
Bu Sari meniru lembut.
“Bukan karena kamu,” katanya. “Karena yang berdiri di belakangmu.”
Xavier tidak bisa berkata apa-apa.
Angin pagi bergerak di antara mereka. Daun-daun pinus berdesir pelan.
Bu Sari lalu menyentuh bahu Xavier sebentar, sangat ringan, seperti seorang ibu yang tidak ingin membuat anak orang lain takut lebih jauh.
"Jaga hatimu, Nak. Kadang yang paling sulit bukan menghadapi hal jahat. Kadang yang paling sulit adalah memahami sesuatu yang melindungi kita, tapi membuat dunia di sekitar kita takut."
Xavier masih membeku.
“Xav!” Dimas berteriak dari bus. “Kalau lo ditinggal, nanti yang duduk di sebelah gue Bimo!”
Bimo dari dalam bus membalas, “Aku jelek!”
Bu Sari tersenyum kecil. “Pergilah.Teman-temanmu menunggu.”
Xavier mengangguk pelan. “Makasih, Bu.”
Ia berjalan menuju bus dengan langkah yang terasa tidak sepenuhnya miliknya.
Sebelum naik, dia menoleh sekali lagi ke arah Bu Sari.
Perempuan itu masih berdiri di dekat pagar.
Di belakangnya, hutan pinus tampak tenang.
Tetapi jauh di antara pepohonan, Xavier merasa melihat gelap yang sedikit lebih pekat dari yang seharusnya.
Ia cepat-cepat naik bus.
Perjalanan pulang jauh lebih sepi daripada perjalanan berangkat.
Pada awalnya, anak-anak masih ramai. Mereka berdiskusi tentang foto, memicu gaya Dimas yang terlalu percaya diri, mengeluh karena harus kembali belajar, dan membahas rencana mengunggah foto bersama ke media sosial.
Namun satu per satu, energi mereka habis.
Bimo tertidur paling cepat, masih memegang kantong camilan. Rara mendengarkan musik dengan earphone sambil melihat foto-foto. Nisa tertidur dengan ponsel di tangan. Dimas yang awalnya berjanji akan “menghidupkan suasana” akhirnya bersandar di kursi, menguap, lalu tertidur dengan kepala hampir jatuh ke bahu Xavier.
Xavier mendorong kepala Dimas pelan-pelan agar tidak menimpa dirinya.
Dimas menggumam, “Jangan ganggu, hantu.”
“Ini Xavier.”
“Lebih serem kamu.”
Lalu Dimas tidur lagi.
Xavier menahan tawa kecil.
Ia duduk dekat jendela, menatap pemandangan yang bergerak mundur. Hutan pinus perlahan berubah menjadi kebun, lalu rumah-rumah warga, lalu jalan menurun yang berliku. Lembah Suryaantara semakin jauh di belakang mereka.
Seharusnya perasaan itu ikut tertinggal.
Tapi tidak.