BAB 8 - Ujian Akhir Sekolah
Liburan selesai pada hari Minggu sore.
Senin pagi, dunia tidak memberi Xavier waktu untuk merasa bahwa sesuatu yang besar baru saja terjadi.
Alarm tetap berbunyi pukul lima lewat tiga puluh. Suara motor tetangga tetap batuk-batuk sebelum menyala. Ratna tetap memanggil dari dapur karena nasi goreng sudah hampir matang. Clara tetap mengetuk pintu kamar Xavier sambil berkata, “Bangun, calon mahasiswa Inggris, jangan kalah sama ayam tetangga.” Nathan tetap duduk di ruang tengah dengan kopi hitam, rambut berantakan, dan wajah seperti orang yang sudah bangun sejak zaman kerajaan.
Semuanya normal.
Terlalu normal.
Xavier berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menggosok gigi, memperlihatkan wajahnya sendiri yang masih terlihat sedikit pucat. Di bawah matanya ada bayangan tipis karena kurang tidur. Rambutnya basah, jatuh di dahi. Seragam sekolahnya tergantung di pintu, sudah disetrika Clara semalam meskipun ia bisa melakukannya sendiri.
Ia berkumur, lalu menatap pantulan dirinya lebih lama.
Tidak ada bayangan di belakangnya.
Tidak ada sosok tinggi.
Tidak ada suara.
Hanya Xavier Sim, siswa kelas dua belas, anak bungsu keluarga Sim, yang hari itu harus kembali ke sekolah dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
“Ya!” Clara berteriak dari luar. “Kalau kamu mandi sambil memikirkan hidup, airnya bakal habis!”
Xavier tersentak. “Iya, Kak!”
Ia mematikan keran.
Hidup bergerak lagi.
Dan mungkin memang itu yang harus ia lakukan: bergerak.
Di meja makan, Ratna menaruh piring nasi goreng di depan Xavier dengan tambahan telur mata sapi yang pinggirannya agak garing.
“Makan yang banyak. Minggu ini mulai padat, kan?”
Xavier duduk dan mengambil sendok. "Iya. Hari ini pembahasan kisi-kisi. Besok simulasi. Terus minggu depan mulai ujian akhir."
Clara duduk di seberangnya sambil membawa buku catatan kecil. “Jadwal belajarmu sudah aku buat.”
Xavier berhenti mengunyah. “Jadwal bikinan kakak?”
"Jangan takut. Aku tidak sekejam itu."
Nathan yang duduk di ujung meja berkata datar, “Dia sekejam itu.”
Clara menunjuk Nathan dengan sendok. “Kamu diam. Kamu tidur jam tiga pagi.”
“Itu tidak relevan.”
“Sangat relevan kalau kamu mau menasihati orang soal hidup sehat.”
Nathan meminum kopinya. "Aku tidak menasihati. Aku mengawasi."
“Lebih menyeramkan.”
Xavier tertawa pelan, tapi suara tawanya tidak lepas sepenuhnya.
Nathan memperhatikannya.
Sejak tadi malam, Nathan tidak menghilangkan foto itu di depan Ratna dan Clara. Ia hanya membalas pesan Xavier, lalu tidak berkata apa-apa lagi. Tapi Xavier tahu abangnya belum melupakannya. Nathan bukan tipe yang melihat bayangan aneh di foto lalu tidur nyenyak seolah itu hanya noda kamera.
Mungkin dia sudah memeriksa metadata.
Mungkin ia sudah memperbesar gambar sampai pecah.
Mungkin dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.
Xavier berharap waktu itu tidak datang pagi ini.
Clara membuka buku catatannya. "Oke. Jadwal. Pulang sekolah kamu istirahat satu jam. Jangan langsung belajar. Habis itu belajar dua sesi. Satu sesi buat ujian sekolah, satu sesi buat dokumen Harrowgate."
“Wah,” kata Xavier. “Hidupku sudah seperti proyek.”
“Memang.Proyek: Jangan Membuat Xavier Tumbang Sebelum Lulus.”
Ratna mengangguk setuju. “Bagus itu.”
“Ibu mendukung?”
“Ibu mendukung jadwal makan dan tidur yang jelas.”
Nathan menaruh cangkirnya. “Tidur maksimal jam sebelas.”
Xavier merawat. “Abang ngomong gitu sambil minum kopi hitam pagi-pagi setelah tidur entah jam berapa.”
Nathan menatap ke belakang. “Aku contoh buruk. Kamu jangan ikut.”
Clara mengepalkan tangannya dengan pelan. “Akhirnya ada kesadaran diri.”
Nathan mengabaikannya.
Ratna menyodorkan kotak bekal ke Xavier. “Ini buat makan siang. Jangan cuma beli jajanan.”
“Kelas mungkin makan bareng di kantin, Bu.”
“Bawa aja. Kalau nggak habis, bagi dengan teman.”
“Oke, temanku pasti bakal habisin.”
“Bagus.”
Xavier menerima bekal itu, lalu memasukkannya ke tas.
Saat tangannya menyentuh bagian depan tas, ia teringat foto yang masih tersimpan di ponselnya. Terpikir untuk menghapusnya. Tapi dia belum bisa. Foto itu seperti bukti bahwa ia tidak sepenuhnya gila.
Atau justru bukti bahwa ia mulai gila.
“Xav.”
Ratna menatapnya dengan lembut. "Kamu baik-baik aja? Dari semalam nampak capek."
Xavier tersenyum cepat. “Iya, Bu. Cuma habis jalan-jalan. Badan masih pegal.”
“Nanti pulang jangan langsung belajar terlalu lama. Tidur sebentar.”
“Iya.”
Clara menatapnya. “Kamu kalau bilang iya itu kadang cuma buat berhenti ceramah.”
“Itulah strategi bertahan hidup.”
“Belajar dari siapa?”
“Abang.”
Nathan tidak bereaksi.
Clara menggeleng. “Kalian berdua sama-sama menyusahkan.”
Namun dibalik canda itu, Xavier tahu mereka khawatir.
Dan dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa bercerita sepenuhnya.
Sekolah setelah liburan singkat terasa lebih bising dari biasanya.
Begitu Xavier masuk kelas, Dimas langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi dari bangkunya.
"Xavier Sim! Anak yang selamat dari Lembah Suryaantara!"
Beberapa anak tertawa.
Xavier langsung mempercepat langkah menuju bangkunya. “Tolong jangan mulai.”
Dimas berdiri dramatis. “Kita harus memberi penghargaan. Dua hari satu malam, beberapa kali nyaris jatuh, dipanggil seseorang dari hutan, tapi tetap pulang dengan wajah anak baik.”
Rara yang sedang menyusun buku di depan menoleh tajam. “Dimas.”
"Aku nggak nyebut hantu. Aku nyebut seseorang."
“Sama aja.”
Bimo mengunyah roti dari kantin. “Aku juga selamat. Tidak ada yang menghargai perjuanganku membawa pulang sisa mie.”
Nisa tertawa. “Bim, perjuanganmu lebih banyak di bidang konsumsi.”
“Semua perjuangan itu sah.”
Xavier duduk dan menaruh tas. “Aku mohon, jangan bahas yang aneh-aneh di kelas.”
Dimas mencondongkan badan. “Berarti kamu mengakui ada yang aneh?”
Xavier membuka buku dengan sengaja. “Aku mengakui kamu berisik.”
“Pengalihan.”
“Dan efektif.”
Dimas memutar, tetapi kemudian suaranya turun. “Kamu bisa tidur semalam?”
Xavier berhenti sejenak.
Rara dan Nisa juga memperhatikan, lebih serius sekarang. Mereka mungkin tidak tahu semua yang terjadi, tapi mereka jelas merasakan sebagian ketegangan di Lembah Suryaantara.
“Bisa,” jawab Xavier.
Itu bukan bohong.
Ia memang tidur.
Hanya saja, dia tidak yakin apakah tidurnya benar-benar miliknya.
“Bagus,” kata Rara pelan. “Aku juga lumayan. Tapi mimpi dikejar Bu Sari bawa keripik pisang.”
Nisa tertawa. “Itu bukan horor, itu oleh-oleh.”
Dimas langsung berkata, “Kalau aku mimpi Bimo jadi penjaga mata air.”
Bimo mengangkat roti. “Kalau aku menjaganya, semua orang harus membawa makanan.”
Suasana terbalik.
Xavier merasa sedikit lega.
Ia bisa melewati hari ini.
Ia hanya perlu fokus.
Ujian akhir sekolah sudah dekat. Dokumen Harrowgate belum selesai. Esai pribadi masih perlu dipoles. Portofolio game harus dirapikan. Tidak ada ruang untuk memikirkan bayangan, bisikan, atau suara yang memanggil namanya dari hutan.
Setidaknya, itu rencananya.
Lalu Bu Dina masuk kelas membawa setumpuk kertas latihan.
“Selamat pagi.”
“Pagi, Bu…”
Suara kelas terdengar seperti paduan suara orang kurang tidur.
Bu Dina menatap mereka satu demi satu. “Saya lihat yang habis liburan wajahnya antara bahagia dan kurang tidur.”
Dimas mengangkat tangan. “Bu, itu tanda kami membuat kenangan.”
“Bagus. Sekarang buat nilai.”
Kelas langsung menyasar.
Bu Dina menaruh kertas di meja. "Minggu ini kita masuk masa pemantapan. Ibu tidak akan menakut-nakuti kalian, tapi ujian akhir bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan doa tanpa belajar."
Bimo berbisik, “Berarti dengan doa dan sedikit belajar?”
Rara menyikutnya.
Bu Dina mulai membagikan kertas latihan.
“Xavier, bantu bagikan.”
“Iya, Bu.”
Xavier berdiri dan mengambil sebagian kertas. Saat berjalan di antara bangku-bangku, ia mendengar teman-temannya mengeluh, bercanda, dan saling bertanya apakah mereka masih punya harapan hidup.
Normal.
Kelas yang normal.
Hari yang normal.
Ia membagikan kertas terakhir ke Dimas.
Dimas memperlihatkan lembar latihan itu seperti mengungkap surat kematian. “Xav, kalau aku gagal, sampaikan pada dunia aku pernah mencoba.”
“Kamu belum mencoba. Ini baru dibagi.”
“Secara mental aku sudah lelah.”
Xavier tersenyum.
Saat ia kembali ke bangkunya, angin dari jendela menyentuh tengkuknya.
Dingin.
Ia menggelagap cepat.
Jendela kelas terbuka. Di luar, koridor kosong. Tirai bergerak karena angin biasa. Tidak ada apa-apa.
Tidak ada sosok.
Tidak ada bayangan.
Ia menghela nafas pelan dan duduk.
Fokus.
Ia harus fokus.
Hari-hari berikutnya bergerak dalam pola yang padat.
Pagi ke sekolah.
Belajar.
Latihan soal.
Pembahasan.
Pulang.
Makan.
Istirahat sejenak.
Belajar lagi.
Mengerjakan dokumen Harrowgate.
Revisi esai.
Tidur.
Ulangi.
Kalau Xavier dulu merasa hidupnya sudah penuh, minggu itu membuktikan bahwa hidup selalu bisa menemukan ruang untuk menjejalkan lebih banyak tekanan.
Di sekolah, guru-guru berubah menjadi makhluk yang hanya mengenal kata “pemantapan”. Setiap mata pelajaran mendapat latihan. Setiap latihan punya pembahasan. Setiap tulisan menimbulkan ketakutan baru.
Dimas mulai membawa kopi sachet ke kelas.
Rara membawa stabilo lima warna.
Nisa membuat ringkasan digital.
Bimo membawa makanan lebih banyak dari biasanya dengan alasan “otak perlu bahan bakar”.
Xavier membawa semuanya: catatan, latihan, botol minum, bekal, dan rasa cemas yang ia simpan rapi di balik wajah anak baik.
Bu Dina beberapa kali menampar mejanya saat kelas mulai ribut.
“Anak-anak, fokus.”
Dimas mengangkat tangan. “Bu, fokusku sudah pergi.”
“Panggil pulang.”
“Dia tidak menjawab, Bu.”
“Berarti jangan seperti suara dari hutan. Tetap cari.”
Beberapa anak tertawa.
Xavier tertawa kecil, tapi dadanya sempat mencelos mendengar kata itu.
Suara dari hutan.
Ia tidak pernah menceritakannya ke Bu Dina. Berarti gurunya hanya bercanda karena cerita liburan yang sudah mencapai setengah kelas. Tapi tetap saja, kalimat itu membuatnya menunduk ke buku.
Rara yang duduk di depan sempat meliriknya.
Xavier pura-pura menulis.
Di rumah, Clara benar-benar menjalankan jadwal yang ia buat.
Jadwal itu ditempel di dinding dekat meja belajar Xavier dengan stabilo warna-warni. Ada bagian belajar ujian, bagian revisi esai, bagian portofolio, bagian istirahat, bahkan bagian “makan camilan biar nggak galak”.
Xavier memandang jadwal itu pada hari pertama dan berkata, “Kak, ini lebih terstruktur dari kehidupan.”
Clara menjawab, “Memang. Hidupmu butuh pengurus.”
“Kakak mau jadi manajerku?”
“Sudah, sejak kamu lahir.”
Ratna tidak kalah serius.
Setiap sore, ia menyiapkan makanan kecil untuk Xavier: pisang goreng, bubur kacang hijau, roti bakar, atau sekadar teh hangat. Ia tidak selalu banyak bicara. Kadang-kadang hanya masuk kamar, meletakkan piring, mengusap kepala Xavier sebentar, lalu keluar lagi.
Tindakan kecil itu justru sering membuat Xavier hampir menangis.
Karena semakin dekat ia dengan kemungkinan pergi, semakin jelas ia melihat semua hal yang akan ia tinggalkan.
Suara ibu memanggil dari dapur.
Clara yang mengetuk pintu tanpa izin.
Nathan yang tiba-tiba masuk hanya untuk mengecek suhu laptop.
Rumah yang sempit, hangat, dan penuh kebiasaan.
Suatu malam, Xavier sedang membaca ulang esainya ketika Ratna masuk membawa sup hangat.
“Kamu makan malam belum banyak,” kata Ratna.
“Udah, Bu.”