Bau khas antiseptik dan deru halus mesin pendingin ruangan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Laras Tirta Kamandalu. Bagi sebagian orang, rumah sakit adalah tempat yang penuh dengan kecemasan, tempat di mana waktu terasa berjalan melambat diiringi isak tangis yang tertahan. Namun bagi Laras, tempat ini adalah sebuah suaka. Satu-satunya ruang di mana ia bisa memaksa otaknya bekerja dua kali lebih keras—hanya agar ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.
"Dokter Laras, ini hasil lab pasien di kamar 302. Kadar hemoglobinnya sudah stabil," ujar Suster Nisa, pimpinan perawat bangsal Mawar, memecah keheningan sore itu sambil menyerahkan sebuah map dokumen berwarna biru.
Laras mengalihkan pandangannya dari layar komputer konter perawat, menerima map tersebut dengan senyum tipis yang ramah namun tetap menyiratkan ketegasan.
"Terima kasih, Sus. Coba saya lihat dulu," sahut Laras sambil membuka lembaran hasil laboratorium. Matanya bergerak cepat, memindai deretan angka-angka klinis di sana. "Ya, ini bagus. Trombositnya juga sudah merangkak naik. Tolong jadwalkan visit ulang nanti malam sekitar jam delapan ya, Sus. Kalau pasien mengeluh pusing lagi sebelum jam visit, atau ada tanda-tanda vertigo, langsung hubungi saya lewat pager."
"Baik, Dok. Oh iya, pasien di kamar 305 tadi siang sempat menanyakan kapan infusannya bisa dilepas. Katanya tangannya sudah pegal semua dan bosan makan bubur rumah sakit," tambah Suster Nisa dengan kekehan kecil.
Laras menghela napas pendek, namun gurat jenaka muncul di sudut bibirnya. "Bilang ke Pak Joko di kamar 305, kalau besok pagi hasil evaluasi fungsi ginjalnya bagus, infusnya boleh lepas. Tapi untuk urusan bubur, sampaikan kalau itu demi kebaikan lambungnya. Jangan sampai beliau diam-diam minta keluarganya menyelundupkan soto babat lagi kayak kemarin ya, Sus."
Suster Nisa tertawa pelan. "Siap, Dokter Laras. Kemarin untung ketahuan sama perawat jaga, kalau tidak, bisa repot kita."
Di kalangan rekan sejawat dan para perawat, Laras dikenal sebagai dokter junior yang cerdas, cekatan, dan sangat bisa diandalkan. Dia tipe orang yang tidak akan membiarkan suasana ruangan menjadi kaku saat bekerja. Namun, semua orang di bangsal Mawar juga tahu bahwa Laras punya satu tameng pertahanan diri yang mutlak: dia sedikit jutek. Jika ada koas yang teledor membaca rekam medis, salah menuliskan dosis sediaan, atau pasien yang keras kepala tidak mau patuh pada protokol pengobatan, Laras tidak akan ragu memberikan teguran yang dingin, tak terbantahkan, dan menusuk tanpa basa-basi.
"Laras! Masih sempat-sempatnya kamu meriksa berkas lama? Ini sudah lewat jam operan shift, tahu."
Sebuah tepukan di bahu membuyarkan konsentrasi Laras. Angga, sesama dokter junior yang juga sahabat dekatnya sejak masa-masa berdarah-darah di komite koas, berjalan mendekat dengan langkah santai. Di kedua tangannya, terangkat dua cup kertas berisi kopi instan yang asapnya masih mengepul tipis.
"Daripada ngelamun," sahut Laras ketus, namun tangannya tetap bergerak menyambar cup kopi yang disodorkan Angga. Aroma kafein langsung menyerbu indra penciumannya. "Bangsal Mawar lagi tenang hari ini. Aku cuma memastikan semua pasien yang berencana pulang besok dalam kondisi yang benar-benar aman."
Angga terkekeh, membalikkan badannya dan bersandar pada meja konter perawat, menatap Laras yang kembali sibuk mencatat sesuatu di lembar perkembangan pasien.