Bunyi roda brankar besi berderit nyaring, memecah keheningan koridor menuju ruang VIP bangsal Mawar. Suaranya beradu dengan deru roda karet yang berputar cepat di atas lantai porselen yang mengilap, dipandu oleh dua perawat IGD dan Dokter Hardi yang berjalan di sisi kiri, sementara Angga memegang sisi kanan untuk memastikan kestabilan kantong infus yang tergantung di tiang portabel.
Laras berjalan tepat di belakang mereka, membawa papan rekam medis darurat dengan jemari yang mencengkeram erat tepi kayu lapis tersebut. Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena sisa-sisa adrenalin yang belum sepenuhnya reda sejak panggilan darurat tadi dikumandangkan di koridor.
"Pastikan posisinya nyaman dan kepalanya ditinggikan sedikit untuk menjaga sirkulasi udaranya tetap optimal," instruksi Dokter Hardi dengan nada tegas dan penuh wibawa.
Dalam hitungan detik, brankar disandingkan dengan ranjang pasien di ruangan VIP yang berpendingin udara sejuk. Pemindahan dilakukan secara sigap dan terkoordinasi. Begitu tubuh pria itu terbaring di atas kasur medis yang empuk, pemandangan mengenaskan langsung menyambut indra penglihatan Laras.
Pria itu sepenuhnya belum sadarkan diri, tenggelam dalam pengaruh sisa obat bius dari operasi besar yang baru saja ia jalani beberapa jam lalu di ruang bedah sentral. Di dada sebelah kanannya, perban putih tebal menutupi area bekas luka akibat hantaman benturan keras saat kecelakaan beruntun terjadi. Selang khusus untuk membantu pembuangan cairan sisa operasi sudah terpasang rapi, menjulur ke kantong penampung di sisi bawah ranjang. Sementara itu, jalur infus ganda menancap di punggung tangan kanannya, mengalirkan cairan elektrolit, antibiotik, serta obat pereda nyeri secara konstan untuk meredam rasa sakit di balik bius yang mulai memudar.
Monitor tanda-tanda vital di sisi ranjang berdengut pelan, menampilkan grafik garis hijau yang kini terpantau jauh lebih tenang dan stabil dibandingkan saat ia pertama kali masuk ke IGD dalam kondisi semi-koma.
Dokter Hardi berdiri di samping ranjang, melipat tangan di dada sambil mengamati layar monitor sesaat sebelum beralih menatap Laras dan Angga secara bergantian dengan tatapan menyelidik.
"Kalian dengar baik-baik instruksi saya," suara Dokter Hardi memecah fokus Laras yang sempat terpaku sepersekian detik pada wajah sang pasien. "Kondisinya memang sudah jauh lebih stabil dibandingkan saat pertama kali tiba di IGD, tapi dia tetap masuk daftar prioritas utama kita malam ini. Mengingat trauma tumpul yang dialaminya cukup signifikan di area dada dan risiko kontusio paru, observasi ketat adalah harga mati."
Dokter Hardi kemudian menjelaskan poin-poin krusial yang harus dipantau ketat selama masa pemulihan pasca-operasi. Mulai dari frekuensi pernapasan per menit, saturasi oksigen yang tidak boleh turun di bawah batas aman, hingga reaksi tubuh terhadap sisa obat bius yang bisa saja memicu mual hebat atau penurunan kesadaran mendadak di tengah malam.