Aroma sisa hujan menguar di sepanjang selasar kelas dua belas SMA Bhumi Nusantara. Hari Senin selalu menjadi hari yang paling dibenci hampir seluruh siswa, terutama saat jarum jam dinding di atas papan tulis ruang guru baru menunjuk angka sepuluh pagi. Itu berarti upacara bendera baru saja usai, meninggalkan betis yang pegal, baju seragam yang lepek oleh keringat, dan kepala yang pening akibat paparan matahari tajam bulan Agustus.
Namun, bagi Laras, hari Senin adalah hari pembuktian harian.
Gadis itu berdiri tegak di depan papan pengumuman utama sekolah yang terletak tepat di sebelah mading ruang OSIS. Rambutnya yang hitam sebahu diikat rapi dengan jepit hitam polos tanpa hiasan—potongan rambut fungsional yang tidak akan mengganggu pandangannya saat membaca buku teks setebal kamus. Di tangan kanannya, ia memeluk sebuah papan dada kayu berisi tumpukan berkas absensi dan proposal kegiatan tengah semester yang baru saja ia revisi sendiri semalam suntuk.
Matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis tertuju pada selembar kertas putih berukuran A3 yang baru saja ditempel oleh perwakilan kurikulum. Kertas itu berisi daftar peringkat paralel ujian prasyarat kelulusan gelombang pertama.
Di urutan nomor satu, tercetak nama tebal:
LARAS TIRTA KAMANDALU (XII IPA 1) - NILAI RATA-RATA: 94,80.
Laras mengembuskan napas perlahan. Ketegangan yang mengunci bahunya sejak jam tujuh pagi tadi perlahan mengendur. Jantungnya berdegup dalam ritme yang memuaskan. Kerja kerasnya tidak mengkhianati hasil. Tiga minggu tanpa tidur malam yang layak, cangkir-cangkir kopi instan yang membuat lambungnya perih setiap pukul dua pagi, dan penolakan tegasnya untuk ikut berkumpul bersama anak-anak perempuan lain di kantin akhirnya terbayar tunai.
Namun, kepuasan itu hanya bertahan kurang dari lima detik. Tepat di bawah namanya, di urutan nomor dua, sebuah nama lain tercetak dengan selisih angka yang teramat tipis.
ARGA DIRGANTARA (XII IPA 3) - NILAI RATA-RATA: 94,30.
"Cuma beda nol koma lima, Ras. Tipis banget kayak bungkus gorengan."