The Lines We Couldn't Cross

ayu melati
Chapter #4

Sisi Gelap di Balik Tembok

Aroma tanah basah di area belakang sekolah bercampur dengan asap rokok yang membubung tipis ke udara. Area ini—sebuah sudut tersembunyi yang diapit oleh dinding pembatas setinggi dua meter dan deretan pohon di dekat tempat pembuangan sampah sementara—selalu menjadi suaka bagi anak-anak yang ingin melarikan diri dari ketatnya aturan SMA Bhumi Nusantara.

Tiga anggota inti gengnya—Satria, Rio, dan Bayu—sedang menyandar pada tumpukan meja kayu bekas yang sudah lapuk. Satria menyesap rokoknya dalam-dalam lalu mengembuskannya ke udara, sementara Bayu sibuk mengutak-atik korek api gas yang pemantiknya mulai aus. Rio sendiri sedang asyik memainkan pisau lipat kecil di sela-sela jarinya, memutarnya dengan gerakan terlatih untuk membunuh rasa bosan.

"Lama amat lo, Ga!" semprot Satria begitu melihat bayangan Arga muncul dari balik tembok. Ia membuang puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya hingga mati. "Perasaan tadi gue panggil pas lo lagi berdiri di koridor. Lo mampir ke planet mana dulu, sih?"

Langkah kaki Arga yang santai terdengar mendekat. Cowok itu menyampirkan tas sekolahnya di salah satu cabang rendah pohon angsana, lalu melipat kedua tangannya di dada. Berbeda dengan teman-temannya, Arga hanya berdiri menyandar pada tembok pembatas, memutar-mutar korek api Zippo di jemarinya tanpa berniat menyalakannya. Posisinya membuat ia bisa mengawasi area sekitar dengan leluasa.

"Biasa, urusan negara," jawab Arga singkat dengan nada suara datar.

"Halah, 'urusan negara' matamu!" cibir Rio sambil melipat kembali pisau lipatnya dengan bunyi klik yang nyaring. "Satria tadi cerita, lo lagi asyik adu mulut sama Bu Ketua OSIS di depan papan pengumuman. Lagian ngapain sih lo betah banget meladeni cewek kaku kayak Laras? Muka emang cantik banget sih, tipe-tipe cewek idaman mertua, tapi judesnya... demi Tuhan, bisa bikin orang kena serangan jantung sebelum waktunya."

"Bukan cuma serangan jantung, Yo," timpal Bayu sambil tertawa mengejek, akhirnya berhasil memantik api di koreknya. "Tatapan matanya itu loh. Kalau Laras udah melirik pakai kacamata tipisnya, rasanya kayak lagi disidang sama malaikat maut. Gue aja kalau berpapasan sama dia di koridor langsung otomatis kancingin baju seragam, padahal gue nggak salah apa-apa."

"Nggak usah lebay, nggak usah bahas dia," potong Arga datar. "Jadi, ada masalah apa di luar sampai Satria mukanya tegang banget kayak belum bayar SPP tiga bulan?"

"Wah, parah lo, Ga! Muka seganteng ini disamain sama penunggak SPP," protes Satria sambil menepuk dadanya dengan gaya dramatis. Namun, raut becandanya tidak bertahan lama. Seketika, ekspresinya berubah menjadi jauh lebih serius. "Infonya udah beneran fix nih. Anak-anak geng dari SMA Garuda mau cegat anak sekolah kita nanti sore di pertigaan ujung, dekat booCafe."

Arga mengernyitkan dahi. Gerakan jarinya pada korek Zippo terhenti seketika. "SMA Garuda? Lagi? Bukannya minggu lalu urusan wilayah sama mereka udah kelar? Kita udah menang mutlak di balapan liar kemarin. Kenapa tiba-tiba mau bikin ulah lagi?"

"Iya mereka. Tapi ini bukan soal wilayah, Ga. Ini soal gengsi," timpal Bayu yang ikut menyela. "Gue dapet info valid dari anak kelas sepuluh tadi pas istirahat pertama. Katanya ada salah satu anak kelas sepuluh sekolah kita yang jalan bareng sama cewek yang ternyata lagi jadi inceran ketua geng SMA Garuda. Anak-anak Garuda ngerasa diremehkan dan mau minta pertanggungjawaban nanti sore."

Lihat selengkapnya