Aroma khas antiseptik kembali menyelimuti indra penciuman Laras saat ia berdiri di sudut ruang VIP bangsal Mawar. Layar monitor tanda-tanda vital di samping ranjang memancarkan pendar hijau yang konstan. Bunyi bip yang teratur beradu halus dengan deru pendingin udara, menegaskan garis tipis antara bahaya dan kestabilan kondisi pasien di hadapannya.
Pintu kayu tebal ruangan terdorong pelan. Seorang wanita paruh baya bermata sembap masuk dengan langkah gemetar, didampingi seorang pria berkemeja rapi yang berusaha keras menjaga ketenangannya. Ibu dan ayah Arga.
Laras menghentikan catatannya di lembar rekam medis, lalu berbalik dan membungkuk sopan dengan raut wajah tenang.
"Selamat malam, Bapak, Ibu. Saya Dokter Laras, penanggung jawab observasi pasien atas nama Arga," sapa Laras dengan intonasi yang lembut, profesional, dan menenangkan.
Ibu Arga langsung mendekati ranjang, mengelus pelan jemari putranya yang masih terpasang jalur infus ganda. "Dokter... bagaimana kondisi anak saya? Apakah operasinya benar-benar berhasil?"
Laras melangkah mendekat tanpa menunjukkan gejolak emosi pribadi. "Ibu tidak perlu khawatir. Secara umum, kondisi pasien pasca-tindakan bedah sore tadi sudah jauh lebih stabil. Tekanan darah dan saturasinya terpantau aman."
Ia menunjuk perlahan ke arah selang oksigen dan monitor vital. "Saat ini pasien masih berada di bawah pengaruh sisa obat bius. Hal itu memang disengaja agar tubuhnya bisa beristirahat total dan mengurangi respons nyeri pasca-trauma. Dalam hitungan jam, efeknya akan memudar secara bertahap."
Ayah Arga menarik napas lega, memegang bahu istrinya. "Terima kasih banyak, Dokter Laras."
"Sudah menjadi tugas kami, Pak," jawab Laras ramah. "Saya dan tim perawat akan memantau kondisi beliau setiap satu jam sekali. Jika Ibu dan Bapak butuh sesuatu atau melihat ada perubahan pada pasien, cukup tekan bel panggilan di samping ranjang."
Setelah keluarga Arga mengangguk paham dan sedikit lebih tenang, Laras kembali memeriksa deretan selang instrumen. Tepat saat ia mengulurkan tangan untuk menyesuaikan kecepatan tetesan cairan infus, jari-jari di tangan kanan Arga mendadak bergerak halus.
Dada Arga naik-turun dengan ritme yang memburu. Kelopak matanya bergetar hebat sebelum perlahan terbuka sedikit. Di balik selang oksigen tipis yang menutupi hidungnya, helaan napas Arga terdengar berat dan tertahan.
"Arga? Nak, kamu dengar mama?" bisik sang ibu panik namun penuh harapan.
Pandangan Arga yang buram dan berat karena pengaruh obat perlahan bergerak, memindai langit-langit kamar yang putih asing.
Meskipun kesadarannya belum penuh dan kepalanya dihantam rasa pening yang hebat, sepasang mata biru itu bergulir pelan.
"Maa..." suara Arga terdengar amat serak dan nyaris berupa bisikan.