The Little Butterfly

Voidham Kreator
Chapter #4

Bintang Empat: Pembentukan Regu

Suara peluit panjang berbunyi nyaring, memecah udara pagi dan menandakan kegiatan Pramuka resmi dimulai. Indra yang tadinya terpaku menatap Kayla seketika tersentak. Ia mengalihkan pandangannya, lalu bergegas menyusul langkah murid-murid lain yang berlari riuh menuju tengah lapangan.

Suasana mendadak hiruk-pikuk oleh derap sepatu dan suara tawa anak-anak kelas yang berebut merapikan barisan. Tak lama kemudian, pembina Pramuka yang berbadan tegap dengan suara lantang—Bu Wati—mengambil alih perhatian.

"Perhatian semuanya! Hari ini kita akan fokus membentuk regu permanen untuk kegiatan perkemahan bulan depan. Saya harap kalian semua bisa kompak, saling bekerja sama, dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Pramuka dengan sungguh-sungguh!" seru Bu Wati tegas, matanya mengawasi setiap sudut barisan.

Setelah amanat singkat selesai, pemimpin upacara maju dua langkah. Dengan suara menggelegar, ia memberi aba-aba, "Bubar... jalan!"

Seketika barisan yang tadinya rapi langsung pecah menjadi kerumunan yang sibuk mencari kelompok masing-masing. Di tengah keramaian itu, Indra memilih berdiri terdiam di sudut lapangan dekat pohon ketapang. Ia menyendiri, menyelipkan tangan ke dalam saku celana seragamnya, sementara matanya nanar memerhatikan teman-teman sekelasnya yang sudah asyik berkelompok. Ada rasa cemas yang diam-diam merayap di dadanya.

"Sendirian terus. Kenapa, Ndra?"

Sebuah suara tenang, datar, dan nyaris tanpa ekspresi membuyarkan lamunan Indra. Ia menoleh dan mendapati Kayla sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu menatapnya dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak, kedua tangannya terlipat rapi di depan dada.

Indra sedikit salah tingkah. Ia tersenyum tipis, mencoba menutupi kegugupannya. "Ah, tidak apa-apa, Kay. Cuma... lagi malas gabung rebutan saja. Rasanya justru lebih tenang sendirian kayak begini."

Kayla menatapnya lekat-lekat, seolah bisa membaca menembus lapisan kata-kata yang diucapkan Indra. "Kamu selalu menutupi apa yang sebenarnya kamu rasakan, ya?" ucap Kayla pelan, namun terdengar menusuk. "Jangan terlalu sering memendam semuanya sendiri. Itu tidak baik."

Indra tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena grogi, melainkan karena keheranan yang mendalam. Alisnya bertaut. "Kok... kamu tahu kalau aku lagi memendam sesuatu, Kay?" tanyanya penasaran.

Kayla terdiam seketika. Sorot matanya yang dingin mendadak bergeser, menghindari tatapan langsung dari Indra. Bibirnya terkatup rapat, seolah ada dinding rahasia yang sengaja ia jaga. "Lupakan," jawab Kayla singkat, lalu berbalik badan dan melangkah pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun.

Beberapa waktu kemudian, istirahat sesi pertama berakhir. Peluit kembali berbunyi, dan seluruh siswa dikumpulkan dalam bentuk lingkaran besar di tengah lapangan. Bu Wati berdiri di pusat lingkaran dengan memegang daftar nama.

"Baik, metode pemilihan regu kali ini kita buat berbeda!" umum Bu Wati penuh semangat. "Saya sudah memilih beberapa orang pemimpin regu yang akan mencari anggotanya sendiri. Di antaranya... Rezki, Siska, dan Andi!"

Lihat selengkapnya