The little Butterfly

Voidham Kreator
Chapter #1

Prolog: Bintang Pertama

Bus tua itu mengerang, mesinnya bergetar kasar di bawah kursi yang diduduki Indra. Di luar jendela, pemandangan kota yang penuh beton telah lama berganti dengan hamparan pepohonan yang merapat, seolah ingin menelan jalanan kecil ini. Indra menempelkan dahi ke kaca yang dingin. Matanya kosong, mencerminkan wajahnya yang pucat. Singapura, tiga bulan, orang tua yang sibuk—kata-kata itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Saat bus berhenti di pemberhentian terakhir Desa Sri Jaya, udara yang menyambutnya terasa berbeda; lembap, berbau tanah basah dan sesuatu yang manis-busuk.

"Indra!"

Suara itu terlalu ceria untuk kesunyian desa ini. Nenek Ayu berdiri di sana, keriput di wajahnya membentuk senyum yang kaku. Di sebelahnya, Mbak Dewi melambai dengan semangat yang mengusik batin Indra.

"Selamat datang di rumah, Indra," sambut Mbak Dewi. Tangannya yang dingin menyentuh bahu Indra, memberikan sensasi merinding yang menjalar ke tengkuk.

Indra hanya mengangguk, mengikuti mereka masuk ke dalam rumah kayu yang besar namun terasa sesak oleh bayang-bayang. Mbak Dewi menunjukkan setiap sudut rumah dengan antusias, namun Indra hanya bisa memberikan tatapan kosong. Puncaknya adalah saat mereka sampai di sebuah kamar sempit di sudut belakang. Hanya ada satu kasur lantai tipis di sana.

"Di sini kamar kamu, Indra," ujar Mbak Dewi.

Indra menatap kasur itu dengan tidak percaya. "Mbak... ini terlalu sempit. Aku tidak mungkin bisa tidur di sini. Lantainya terasa sangat dingin."

Mbak Dewi mendekat, wajahnya kini berada tepat di depan Indra. "Di desa ini, kita harus belajar cukup dengan apa yang ada, Indra. Lagipula, desa ini punya caranya sendiri untuk memberikan tidur yang paling lelap." Kalimat itu terdengar seperti sebuah ancaman halus.

Malam harinya, ruang makan dipenuhi tawa dan aroma masakan yang menyengat. Namun, Indra merasa seperti benda asing yang diselipkan di antara potongan puzzle yang salah.

Lihat selengkapnya