Suasana Desa Sri Jaya sore itu terasa begitu akrab di kulit. Terik matahari mulai melunak, menyisakan semburat jingga di balik rimbunnya pohon-pohon mangga yang berjejer di pinggir jalan. Sudah satu minggu Indra melewatkan hari-harinya di desa ini. Rasa canggung yang sempat menghantuinya di awal kedatangan kini perlahan melebur, tergantikan oleh kenyamanan saat berjalan berdampingan bersama teman-teman barunya, Aira dan Rezki, dalam perjalanan pulang sekolah.
Gelak tawa kecil sempat menghiasi langkah mereka, sebelum akhirnya suasana berubah tegang dalam hitungan detik.
Langkah ketiganya mendadak terhenti di dekat simpang jalan dusun. Di hadapan mereka, Andi berdiri melintang bersama dua orang pengikut setianya, Dodo dan Difa. Tatapan mata Andi menyiratkan amarah yang tertahan—dendam kesumat dari kejadian kemarin, saat Rezki menegurnya di depan lapangan desa.
Tanpa banyak basa-basi, Andi langsung menudingkan telunjuknya ke arah Rezki. "Heh, Rezki! Sini maju lo! Kemarin lo sok pahlawan banget marahin gue. Sekarang tanggung jawab!"
Rezki mendengus pelan, menatap tajam tanpa sedikit pun rasa gentar. "Kalau lu mau urusan sama gue, ayo selesain berdua, Andi. Nggak usah bawa-bawa Dodo sama Difa segala. Pengecut lu?"
Mendengar kata-pengecut meluncur dari mulut Rezki, urat di pelipis Andi langsung menegang. Harga dirinya runtuh di hadapan Aira dan Indra. "Bacot!" bentak Andi geram.
Tanpa aba-aba, Andi menerjang maju. Baku hantam tak terhindarkan. Debu jalanan berterbangan seiring pergulatan singkat itu terjadi. Namun, pengalaman dan ketenangan Rezki dalam membaca gerakan lawan membuat perkelahian ini cepat berakhir. Dengan sebuah tangkisan bersih dan bantingan terarah, Rezki berhasil melumpuhkan Andi hingga pemuda itu tersungkur ke tanah dengan napas memburu.
Dodo dan Difa langsung panik, buru-buru menarik lengan Andi untuk berdiri. Dengan wajah babak belur dan napas terengah-engah, Andi menunjuk muka Rezki, suaranya bergetar karena malu dan amarah.
"Awas lu, Rez! Urusan kita belum selesai. Lo tunggu tanggal mainnya!" geram Andi, lalu bergegas pergi meninggalkan lokasi bersama kedua temannya.
Aira menghela napas panjang, merapikan tali tas ranselnya dengan jemari yang sedikit gemetar. "Duh, Rezki... Kalian ini nggak capek apa ribut mulu dari kecil?"
Rezki mengibaskan debu di seragamnya, lalu tersenyum tipis mencoba mencairkan suasana. "Udah biasa, Ra. Si Andi itu emang gengsinya setinggi langit, tapi mentalnya kerupuk. Udah, yuk lanjut jalan. Ntar keburu sore." Indra hanya mengangguk pelan, masih mencerna dinamika keras yang terjadi di antara anak-anak desa ini.
Sementara itu, di belahan desa yang berbeda, langkah kaki Andi terasa begitu berat saat memasuki halaman rumahnya. Suasana rumahnya sangat kontras dengan keramaian di sekolah tadi. Sepi. Sunyi mencekam menyambutnya begitu pintu didorong terbuka.