The Lord"s Calculation

Tessa kamila
Chapter #1

✦ PROLOG ✦


✦ Prolog ✦

Bandar Udara Heathrow London, Inggris.

· · · ✦ · · ·


Di dalam salah satu bilik toilet bandara yang sempit, seorang gadis muda dengan bola mata abu-abu terang, serta rambut pirang panjang sedikit berantakan, tampak sedang mengisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap putihnya pelan hingga membumbung tinggi, menyatu dengan udara pengap di sana.

Dia adalah Cassandra Louise Montague, putri satu-satunya dari James Montague.

Baru beberapa waktu lalu kakinya menginjak tanah Inggris setelah menempuh perjalanan dari Prancis. Tujuan mereka datang kemari adalah:

Townhouse milik Jason Duerre Fitzgerald—sang Marquess of Wilton.

Namun, baru saja Cassandra melakukan empat kali isapan panjang, ponsel di dalam sakunya sudah bergetar hebat, mendengung di sela kesunyian bilik. Dengan gerakan malas, penuh rasa jengkel, Cassandra merogoh saku celananya dan menarik benda itu keluar.

Nama 'Papa' berkedip-kedip di layar.

"Aku sudah katakan sebentar, kenapa masih terus menghubungi?" gumam Cassandra kesal.

Ia menekan tombol jawab dengan ibu jari secara kasar, lalu mengaktifkan mode pengeras suara tanpa berminat menempelkan ponsel itu ke telinga.

"Sebentar, Papa!" serunya langsung sebelum sang ayah sempat bicara.

"Kau merokok lagi di dalam? Kenapa lama sekali? Keluarlah sekarang juga! Black cab pesananku sudah menunggu di depan!" suara James Montague dari seberang telepon terdengar panik sekaligus menuntut.

"Wait!" sahut Cassandra pendek.

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, ia langsung mematikan panggilan itu secara sepihak.

Bip.

"Oh ... sialan sekali nasibku."

Cassandra menatap sisa rokok yang terapit di jemarinya. Dengan satu gerakan cepat, ia membuang puntung rokok panjang tersebut ke lantai keramik, menginjaknya dengan ujung sepatu hingga bara apinya mati total, kemudian kembali memungut untuk dibuang ke tempat sampah.

Gadis itu merapikan jaketnya sebentar, lalu mulai menarik napas panjang untuk membuang sisa aroma tembakau dari paru-parunya, baru setelah itu keluar dari bilik toilet.

Begitu ia tiba di depan pintu utama ruang kamar mandi, pemandangan yang ada di hadapannya kembali sukses membuat dadanya menghimpit.

Sang ayah, James Montague, berdiri dengan bahu merosot, terlihat begitu letih serta putus asa. Tangan keriput pria paruh baya tersebut tengah memeluk erat tas ransel merah muda besar milik Cassandra. Sebuah pemandangan yang sangat tidak serasi dengan usia serta raut wajah muramnya.

"Berikan tasku, Papa!" seru Cassandra seraya mengambil alih tas dalam pelukan sang ayah.

Cassandra segera menyampirkan tali ransel ke kedua bahunya sendiri, kemudian mengeratkan pengait di dada hingga tas besar tersebut terpasang sempurna di belakang punggung. Tak hanya itu, ia juga menarik dua koper besar miliknya agar lebih dekat.

Sesekali, Cassandra sempat mencuri pandang ke arah sang ayah. Jujur, hatinya benar-benar mencelos. Dulu, James Montague adalah definisi dari pria necis yang selalu mengenakan setelan terbaik, sepatu mengilap, rambut rapi setiap saat, dan semua orang menghormatinya sebagai pemilik pabrik tekstil besar di Prancis.

Namun, kesialan demi kesialan terus datang beruntun. Penipuan oleh rekan bisnis tiga tahun lalu telah menyapu bersih segala hal yang mereka miliki. Pabrik disita bank, rumah terjual untuk memberi pesangon para pegawai, tanah telah dilelang demi melunasi sisa utang. Bahkan, ibunya memilih pergi, meninggalkan mereka dalam kehancuran.

"Bagaimana jika Lord Wilton tidak mau menampungku? Sudah kukatakan aku kerja saja, Papa. Aku tidak butuh kuliah. Aku bisa kerja di mana saja," kata Cassandra lirih, suaranya melembut.

"Di bar? Menyajikan alkohol untuk para pria hidung belang? Atau bekerja di toko baju seperti yang selama ini kau lakukan? Tidak!" James memotong cepat, wajahnya yang letih mendadak menegang. "Putriku tidak boleh lagi bekerja seperti itu. Lord Wilton akan menerimamu. Papa akan membujuk bagaimanapun caranya."

"Jika tetap tidak berhasil?" tantang Cassandra, matanya mulai berkaca-kaca menatap kemiskinan yang terpancar dari jaket kusam ayahnya sekarang.

"Jika Papa katakan akan melakukan apa pun. Maka itu adalah apa pun! Kau harus bisa mengulang kuliahmu lagi. Kau ... kau harus bekerja di tempat layak, Sandra. Kau adalah satu-satunya yang Papa miliki sekarang!"

"Kita bahkan tidak pernah menemui keluarga Lord Wilton selama ini. Dan tiba-tiba datang meminta mereka membiayai kuliahku?"

James tidak menjawab secara logika, ia hanya memegang pundak putrinya dengan sisa-sisa keberanian. "Diam. Dan percayalah pada Papamu ini! Ayo!"

Istana Westminster, London, Inggris.

· · · ✦ · · ·


Lihat selengkapnya