The Lord"s Calculation

Tessa kamila
Chapter #3

✦ Part 03 ✦

Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih empat puluh menit. Langit juga sudah mulai berubah oranye gelap. Di depan gerbang besi hitam townhouse Wilton yang megah itu, sebuah mobil hitam mengilap telah menunggu dengan mesin menderu halus.

James Montague bersiap akan kembali ke bandara. Perasaannya begitu lega saat tadi Lord Wilton telah memberi persetujuan untuk menampung dan membiayai seluruh pendidikan Cassandra nanti. Bahkan, mereka juga menyiapkan sebuah mobil untuk mengantarnya kembali ke bandara sore ini.

Cassandra mencengkeram lengan sang ayah dengan jemari bergetar pelan. Ia menoleh ke belakang, menatap pintu kayu megah townhouse Wilton, kemudian kembali menatap James penuh permohonan.

"Papa ... apa Papa sungguh akan meninggalkanku di rumah ini?" bisik Sandra pelan, suaranya bahkan nyaris pecah. "Mereka berdua sama-sama pria. Aku ... aku merasa terancam."

Ini adalah pertahanan terakhir Cassandra. Ia berharap ayahnya akan tersadar bahwa meninggalkan seorang gadis muda berusia dua puluh tiga tahun seatap dengan dua pria dewasa, yang sepertinya memiliki orientasi seksual normal adalah sebuah ide buruk.

Bagaimana jika ia diperkosa nanti?

James Montague menghela napas panjang. Ia berhenti sejenak untuk mengamati penampilan putrinya. Dari sudut pandang James, Cassandra tidaklah secantik itu sampai-sampai dua Lord di dalam sana mau meliriknya.

Rambut pirang lepek berantakan.

Bibir pecah-pecah dengan sisa lipstik merah yang tidak rata.

Dan kedua kelopak mata menghitam karena maskaranya sedikit luntur.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cassandra memiliki benteng pertahanan diri yang sangat alami.

Jangankan pria sekelas Marquess, pelayan rumah pun rasa-rasanya butuh usaha maksimal untuk bisa menatap wajah putrinya lama-lama.

Lord Wilton dan Lord Dexter tidak mungkin kehilangan kewarasan mereka sampai mau melirik gadis yang penampilannya sedikit mirip gelandangan ini.

"Kau tenang saja. Mereka berdua adalah pria terhormat, Sandra. Mereka tidak akan macam-macam denganmu," balas James, berusaha meyakinkan.

"Ta-tapi—"

James mengusap lengan putrinya lembut. "Tenang saja. Setelah kau kembali kuliah nanti, kau hanya harus fokus belajar. Lulus tepat waktu, dan dapatkan pekerjaan yang layak. Mengerti?" Pria itu menepuk pundak putrinya beberapa kali. "Papa akan pergi ke Amerika menemui teman lama. Siapa tahu dia bisa membantu bisnis kita. Setelah Papa memiliki cukup uang, Papa akan menjemputmu lagi, Sandra."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, James langsung melangkah, mendekati mobil mewah yang tengah menunggu. Ia takut, jika bertahan lebih lama di sini, maka keberaniannya untuk meninggalkan sang putri akan runtuh.

Cassandra hanya bisa berdiri terpaku, menatap James yang mulai masuk ke dalam mobil. Pandangannya belum beralih, bahkan ketika mobil mewah milik Lord Wilton perlahan sudah mulai menjauh, dan berakhir menghilang di tikungan jalan Belgravia.

Gadis itu hampir saja menangis. Ia merasa seperti seorang prajurit yang ditinggal begitu saja di garis depan tanpa amunisi senjata sama sekali.

"Miss Montague," suara berat dan sopan milik George memecah keheningan.

Cassandra berjengit, ia menoleh pada sang butler yang berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi di sebelahnya.

"Anda harus segera membersihkan tubuh di kamar. Sebentar lagi sudah masuk jadwal makan malam."

Pukul enam lebih lima belas menit.

Ruang makan townhouse Wilton terasa sedikit penuh dari hari biasa. Padahal, hanya ada satu kursi tambahan di sana.

Cassandra Montague.

Gadis itu duduk pada salah satu kursi kayu sisi kiri meja makan panjang, Dexter duduk di kursi seberangnya. Sementara Jason seperti biasa, ia duduk sendiri di kursi paling ujung untuk kepala keluarga.

Karena ia adalah kepala keluarga.

Malam ini, penampilan Cassandra sudah bisa dikatakan jauh lebih manusiawi daripada saat pertama kali datang tadi. Rambut pirangnya tersisir rapi meski ujung-ujungnya masih terasa lembab karena baru saja mandi. Wajahnya juga sudah tidak berminyak, sangat segar.

Ia mengenakan t-shirt hitam polos dan celana pendek rumahan—pakaian paling normal yang bisa ia temukan di dalam koper.

Perintilan cincin logam murahan di jari-jarinya juga telah ditanggalkan.

Denting halus alat makan perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.

Jason memotong daging di atas piring dengan begitu presisi, setiap suapan kecil yang ia lakukan terlihat begitu teratur. Di sisi lain, Dexter tampak makan lebih santai, meski tetap dalam koridor etiket ketat.

Tapi Cassandra? Ia makan begitu semangat, begitu gegabah, dan begitu menikmati. Ia belum makan apa pun sejak mendarat di Inggris tadi. Dan rasa lapar telah mengalahkan rasa takutnya sendiri pada Jason.

Cassandra sangat terpukau dengan daging yang tengah ia kunyah sekarang. Ini luar biasa, jauh lebih enak dari makanan apa pun yang pernah menyentuh lidahnya sejak tiga tahun terakhir.

Ah ... sudah lama sekali ia tidak makan enak.

Karena kini perasaannya sedang dalam kondisi cukup baik, Cassandra akhirnya berusaha untuk mencairkan suasana kaku di meja makan. Maksudnya adalah, ia ingin membina hubungan baik dengan Jason dan Dexter.

"Lord Wilton," panggil Cassandra memulai perbincangan, suaranya sedikit teredam karena ia masih mengunyah. "Aku belum melihat Marchioness of Wilton sejak tadi. Apa dia sedang pergi? Oh ... apa dia sedang menghadiri acara sosial bersama teman-temannya sesama Lady?"

Cassandra terkikik seorang diri. "Aku sangat penasaran dengan wajah sang Lady. Apa dia cantik? Apa dia tinggi? Apa rambutnya berwarna pirang? Atau hitam? Cokelat mungkin?"

Hening.

Dexter langsung terdiam, ia mengangkat kepala, menatap Cassandra dengan raut heran.

Tangan Jason pun berhenti bergerak. Pisaunya masih tertancap di daging, namun gerakannya membeku. Ia mulai mengangkat kepala, lalu menoleh ke samping-bukan kepada Cassandra, melainkan kepada seorang pelayan perempuan muda yang berdiri beberapa jengkal di belakang gadis itu.

Pelayan muda bernama Elma.

Karena sudah begitu hafal dengan bahasa tubuh sang tuan. Dengan langkah tanpa suara, Elma mulai melangkah mendekati Cassandra. Ia sedikit menunduk, membisikkan sesuatu tepat di samping telinga gadis Prancis itu.

"Miss Montague, Anda tidak diperbolehkan bicara terlalu keras saat masih menelan makanan. His Lordship melarang siapa pun berbicara lantang sebelum semua orang meletakkan alat makan mereka."

Lihat selengkapnya