
Setelah napasnya kembali teratur pasca berteriak, Cassandra menatap Elma dengan sisa-sisa keberanian yang masih membara. Ia merasa belum puas. Sungguh, belum ada sehari berada di rumah ini, tetapi rasanya sudah begitu melelahkan.
"Di mana kamar tuanmu?" tuntut Cassandra bersungut-sungut. Nada suaranya penuh tekad kuat.
Elma tampak kebingungan, ia sedikit memiringkan kepala. "Pardon, Miss?"
"Pria tua itu, Lord Wilton. Di mana kamarnya?"
"Maaf, Miss. Jika saya boleh tahu, untuk a-"
Belum sempat Elma menyelesaikan pertanyaannya, Cassandra sudah lebih dulu menyela cepat. "Baiklah. Tidak perlu kau katakan, aku akan mencarinya sendiri. Aku harus bicara dengan Lord Wilton."
Cassandra sudah memutuskan, ia perlu berdiskusi serius soal aturan jam makan-yang baginya konyol ini-dengan Lord Wilton. Dan sebenarnya masih banyak hal lain yang juga perlu dibahas.
Tanpa menunggu persetujuan Elma, Cassandra melangkah keluar kamar sambil tetap mendekap buku catatan milik sang pelayan.
Jujur saja, Cassandra tidak pernah berpikir bahwa ia adalah gadis yang pembangkang. Ia cukup penurut. Namun ... semua aturan ini terlalu membebaninya. Mereka butuh kesepakatan bersama.
Hanya saja, baru beberapa langkah Cassandra keluar, tiba-tiba daun pintu kamar di sebelahnya sudah terbuka. Jason keluar dari sana, mengenakan jubah tidur hitam berbahan sutra.
Pria itu berencana menemui George. Akan tetapi, keberadaan Cassandra membuat langkahnya terhenti.
"Miss Montague," panggil Jason pelan.
Melihat keberadaan Lord Wilton yang tepat berada beberapa jengkal di hadapannya, dan mendengar bagaimana cara pria itu memanggil namanya, sontak membuat Cassandra terpaku di tempat.
Kakinya tidak lagi bisa digerakkan, baik untuk maju maupun mundur, bahkan ibu jari kaki pun terasa kram. Bibirnya terkunci rapat. Keberanian yang semula sempat meluap dan menggebu-gebu saat di dalam kamar, kini mendadak lenyap begitu saja, tak tersisa.
Refleks, Cassandra menyembunyikan buku catatan milik Elma di balik punggung. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia justru tidak ingin Jason melihat buku catatan ini. Gadis itu juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang hanya terdiam, mematung seperti seekor lembu penurut. Padahal, orang yang ingin ia ajak berdiskusi sudah berada tepat di depan matanya sekarang.
Jason masih menatapnya lama, kedua mata pria itu menyipit. Hingga, sosok Elma muncul dari balik pintu kamar Cassandra dengan wajah panik.
Melihat keberadaan sang tuan, Elma segera menundukkan kepala.
"My Lord."
Jason pun mengalihkan fokus kepada Elma. "Tulis aturan nomor tiga puluh satu. Dilarang membuat kegaduhan di malam hari," ucapnya datar.
Tung-tunggu!
Aturan baru? Nomor tiga puluh satu?
Sebentar!
Seharusnya bukan seperti ini.
Cassandra bersiap membuka bibirnya, ingin melayangkan protes. Namun, Jason sudah terlanjur kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan suara klik pelan. Pria itu tidak perlu lagi mencari George, karena ia sudah menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan.
"Lord-Lord Wilton! Kita perlu bicara!" seru Cassandra lirih.
"Miss Montague," panggil Elma.
Cassandra sontak menoleh. Ia menarik napas pasrah. Harus ia akui, ia memang kurang memiliki nyali untuk melakukan pemberontakan apa pun. Gadis itu mengangkat salah satu tangannya lemas, meminta Elma tidak perlu bicara apa-apa.
"Aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan. Tapi terima kasih. Aku sudah mendengarnya sendiri tadi. Aturan baru."
Akhirnya, Cassandra memilih memutar tubuh, hendak masuk ke dalam kamarnya sendiri. Namun, ia melirik Elma sebentar.
"Oh ... Aku belum tahu siapa namamu. Jadi, siapa namamu?" tanyanya.
"Elma, Miss Montague. Anda bisa memanggil saya Elma."
"Baik, Elma. Kau bisa tidur. Dan ..." Cassandra mengangkat buku catatan kecil yang ia bawa sejak tadi. "Aku akan menyimpan ini, apa bisa?"
Elma mengangguk pelan. "Silakan, Miss. Anda bisa memilikinya."
"Terima kasih. Good night."
Tidak menunggu lagi, Cassandra lekas masuk ke dalam kamar dan tak lupa mengunci pintu. Ia segera berlari ke atas ranjang, kemudian melempar tubuhnya begitu saja.
Dalam posisi tengkurap, gadis itu menyembunyikan wajahnya ke dalam bantal, ia memukul-mukul pelan ranjang dengan kepalan tangan, merutuki sifat pengecutnya tadi. Bukan pengurangan seperti rencana, ia justru mendapatkan aturan tambahan yang ... sama sekali tidak ia butuhkan.
"Kenapa Lord Wilton sangat menakutkan?"

Keesokan paginya. Pukul delapan kurang sepuluh menit.
Setelah dipaksa mengitari jalanan Belgravia yang dingin sejak pukul enam pagi tadi, Cassandra kini terduduk lesu di ujung ranjang. Tubuhnya dibalut jubah mandi putih tebal, sementara kepalanya terlilit handuk kecil.
Pandangan gadis itu kosong menatap dinding kamar, kedua kakinya masih gemetar hebat-sebuah aksi protes hebat dari seluruh otot-ototnya yang tidak pernah diajak bekerja sekeras ini selama bertahun-tahun.
Di depan lemari pakaian yang menjulang megah, Elma sedang melakukan tugas paling sulit selama delapan tahun karirnya menjadi pelayan keluarga Wilton:
Mencari pakaian yang harus Cassandra kenakan pagi ini.