The Lord"s Calculation

Tessa kamila
Chapter #5

✦ Part 05 ✦

"Est-ce tout, Mademoiselle Montague?"

(Hanya itu saja, Nona Montague?)

Mati sudah!

Sekarang, Cassandra merasa jantungnya berpacu terlalu cepat. Udara di ruangan pun mendadak menipis, mencekik paru-parunya.

Gadis itu mematung, benar-benar hanya bisa diam dengan kedua mata nyaris tak berkedip. Tangannya yang sedari tadi mencengkeram erat ujung meja dengan angkuh, perlahan mengendur, jatuh terkulai di sisi tubuhnya.

«Apa ... apa si pria tua ini tahu kalau aku memakinya dengan kata-kata kasar tadi? Oh ... bukankah itu sudah pasti?»

Cassandra menjerit dalam hati, merutuki setiap kata mais putain, connard dan segala jenis umpatan yang barusan ia semburkan dengan begitu percaya diri.

Di kursinya, Jason masih mempertahankan senyum tipis, meremehkan. Bocah kecil ini terlalu berani dan perlu didisiplinkan.

"Aku sangat suka dengan kosakata yang kau pakai, Miss Montague. Cukup ... mengesankan," kata Jason sarat ejekan.

Di sisi lain, Dexter-yang selalu bisa menjadi pihak pencair suasana hanya tertegun di tempat. Ia pun terkejut bukan main menyaksikan keberanian gila Cassandra hingga tidak menyadari bahwa teh di cangkirnya telah tumpah, menggenang di atas meja.

Kini, Cassandra merasa malu setengah mati. Wajahnya terbakar, merah padam. Ia menelan saliva kesusahan. Tanpa sepatah kata pun, dan tanpa sanggup menatap mata Jason lebih lama lagi, gadis itu berbalik. Ia berlari sekuat tenaga, pergi dari ruang makan.

Kedua kakinya yang masih kram ia paksa bekerja ekstra keras, menaiki undakan demi undakan tangga menuju lantai dua dengan langkah buru-buru.

Pikirannya hanya satu:

Mengurung diri di dalam kamar.

Ia sudah tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan Jason. Jangankan sang Marquess, bertatap muka dengan Dexter saja rasanya sudah tak sanggup.

Brak!

Pintu kamar tertutup rapat dan terkunci.

Cassandra segera menjatuhkan tubuhnya di atas lantai marmer, tergeletak pasrah.

"Aaaaaa—!" Ia berteriak ke arah langit-langit, tangannya meremas rambut pirangnya yang mulai berantakan. Ia merasa sangat gemas, dan juga benci, dengan dirinya sendiri.

Gadis itu memutar tubuh ke kanan, lalu ke kiri, terus berguling, menggelinding hingga berkali-kali di atas lantai. Sekarang bukan hanya malu, namun juga rasa takut mulai menggerogoti sisa-sisa keberaniannya.

"Kenapa dia bisa bahasa Prancis!" gumamnya kesal.

Cassandra sungguh menyesali sifat congkak serta mulut besarnya yang tidak bisa dikontrol. Padahal tadi ia sudah jumawa, merasa paling pintar karena mengira bahwa Jason hanyalah orang Inggris kaku yang buta akan bahasa asing.

Tapi ternyata? Justru dialah yang sudah mempermalukan dirinya sendiri dengan bicara seronok di depan seorang pakar.

"Bagaimana jika aku diusir?" tanyanya pada kesunyian kamar.

Kini, kenyataan pahit perlahan mulai menghantam. Setelah kewarasannya kembali, Cassandra baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak memiliki sepeser pun uang di dalam saku. James tidak meninggalkan bekal untuk bertahan hidup kemarin. Dan Cassandra juga tidak memiliki tempat tinggal lain di tanah Inggris selain townhouse kaku ini.

Meski baiklah, ia memang tidak betah. Tapi tetap saja, apabila Lord Wilton sampai mengusir, lantas di mana ia akan tinggal?

"Sepertinya aku akan berakhir berebut kol sisa dengan para gelandangan lain di pasar besok pagi. Oh, God!"

Cassandra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membayangkan dirinya duduk di dekat parkiran pintu masuk pasar sembari membawa papan kardus bertulis 'Perantau dari Prancis yang butuh sepotong roti.'

Sebentar!

Gadis itu mulai beranjak duduk. Kemudian berpikir lebih serius.

Apakah ia harus mendatangi Kedutaan Besar Prancis? Barangkali mereka mau memulangkan gadis miskin sepertinya ini untuk kembali ke Paris.

Hanya saja, itu pasti akan melukai perasaan ayahnya, bukan?

Delapan jam telah berlalu sejak insiden memalukan di meja makan ...

Lihat selengkapnya