Tangan-tangan mungil menaburkan serpihan bawang goreng dan daun bawang yang merupakan sentuhan terakhir pada semangkuk soto ayam khas medan tersebut. Setelah susah payah melakukan percobaan di rumah, akhirnya selesai tepat waktu. Sekarang, hidangan tersebut sedang berjalan ke meja penjurian.
"Apa ini? Mengapa bentuknya seperti ini?" Salah satu panitia bertanya pada sang koki yang dahinya sudah berkeringat.
"I-ini resep dari Medan, Kak. S-soto Medan."
Juri yang merupakan panitia dari kelas XII itu mengangguk berulang kali. Lantas menuliskan sesuatu di catatannya. Juri lain yang baru melakukan patroli pada peserta memasak ikut menghampiri dan mempertanyakan hal yang sama. Sebelum melihat hasil masakan peserta pertama–yang berhasil menyelesaikan tantangan, siswi yang juga duduk di kelas XII itu mengikat rambut sebahunya.
"Apa yang membedakan soto medan dengan soto yang biasa kita santap, seperti Soto betawi, dan soto ayam?"
Sang koki meremas kedua tangannya yang basah oleh keringat. Ia belum bisa menjawab. Kedua matanya memejam, berusaha mengingat namun nihil.
"I-itu karena," sang koki mengelap peluh di balik poninya. "So-soto yang ada di Jakarta tidak memakai sa-santan. S-sementara soto medan memakai santan sehingga tampak jelas per-perbedaannya." Ada hembusan lega setelahnya..
"Kenapa kamu memilih resep ini?"
"Karena Oma saya orang tumbuh di Medan, jadi saya familiar dengan resep ini," jawabnya singkat.
Salah satu juri nyengir, dan satunya menutup mulutnya.
"Itu bukan jawaban yang kami inginkan," tutur juri ber-name tag Yasmin Fadillah.
Sang koki kembali meremas kedua tangannya, pandangannya mengerling ke peserta lain yang mulai berdatangan untuk menyerahkan masakannya. "Ka-karena sa-saya ingin beda dari y-yang lain, Kak."
Meski tidak puas, kedua juri mengangguk-angguk. Bisa jadi karena beberapa peserta mulai berdatangan. Teman Yasmin, Frasta Firmansyah mengambil kertas penilaiannya.
"Soto medan oleh," kalimatnya terhenti saat melirik name tag sang koki. "Alia Maheswari dari kelas XII D."
Sang koki mengangguk. Senyumnya mengembang karena tidak perlu lagi menjelaskan sesuatu yang harus ia ingat dengan susah payah. Usai masakannya dicatat, Alia kembali ke meja tempurnya. Membereskan beberapa perkakas seraya berdoa kali ini ia bisa masuk dalam kompetisi tahunan yang diadakan di sekolahnya.
'Let's Cooking' adalah program tahunan yang diadakan SMA Erlangga untuk klub memasak. Setiap tahunnya, ada 10 peserta yang akan berlaga bak acara memasak di TV. Untuk menyeleksi calon sepuluh peserta, masakan harus melewati lidah panitia, Yasmin dan Frasta. Kemudian kesepuluh peserta tersebut nantinya akan berlomba kembali untuk memperebutkan hadiah yang sangat besar. Tahun lalu hadiahnya berupa paket liburan ke Bali. Untuk tahun ini belum disebutkan karena kesepuluh peserta belum dipilih.
Tahun lalu Alia mendaftar dan gagal. Tahun ini ia tidak ingin kegagalan itu terulang kembali. Meski Alia menyadari masakannya tidak pernah selezat bikinan Oma, ia tetap ingin ikut kompetisi. Alasan kuatnya hanyalah, Alia sangat suka memasak. Alia ingin mengasah bakat memasaknya agar suatu hari nanti bisa memasak di dapur Restoran Nusantara milik keluarganya.
Setelah menunggu selama 10 menit, seluruh calon peserta 'Lets Cooking' tahun ini duduk berjejer di meja penjurian. Alia meremas kedua tangannya untuk kesekian kalinya. Memandangi soto Medan-nya dengan rapalan yang tidak pernah berhenti. Alia sempat mengerling ke 20 peserta lainnya, tidak ada yang lebih gelisah daripada Alia. Hal itulah yang membuat Alia semakin gusar saja. Mengapa hanya dirinya yang tampak tak baik-baik saja?
Yasmin dan Frasta memegang kertas penilaian, mulai mencicipi hasil masakan Alia. Tentu hal itu mebuatnya semakin tidak tenang. Kedua matanya memejam, dan terus merapalkan doa.
"Ah!"
Seruan keras itu membuat Alia tersentak. Matanya membuka. Dilihatnya Frasta terbatuk-batuk di depan masakannya.