Suara-suara ribut yang berasal dari decitan roda brankar, tumpang tindih dengan suara langkah kaki dan suara siswa-siswi di sepanjang koridor menuju Medical Center SMA Erlangga.
"Minggir!" teriak murid perempuan pada siswa-siswa yang bergerombol di koridor. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat dari siswa yang terbaring di atas brankar.
Berbeda dengan siswi perempuan tadi, di sisi satunya seorang siswa tampak tenang. Terlihat keringat di dahinya, namun begitu dia tidak memperlambat kakinya. Ketika tiba di Medical Centre, seorang dokter langsung memeriksa pasien itu. Kini tugasnya mengamankan siswa-siswi yang masuk bersamanya agar tidak mengganggu pemeriksaan.
"Jangan panik. Silakan keluar." katanya mendorong kerumunan lalu menutup tirai.
Aditya F. Lesmana tertulis di seragamnya. Dia petugas Medical Centre SMA Erlangga. Dia satu-satunya murid yang dipilih untuk menjadi asisten dokter sekolah karena memiliki nilai sempurna. Hal itu membuatnya dibebaskan dari kewajiban mengikuti ekstrakulikuler sekolah.
Lima menit berlalu, pemeriksaan telah selesai dilakukan. Tidak seperti yang dituduhkan, pasien yang barusan dia periksa menderita asam lambung. Penyebabnya sudah jelas, kuah yang bersantan adalah musuh terbesar asam lambung.
Namun penjelasan itu tidak membuat Yasmin puas. Dia hanya diam, tapi wajahnya terlihat sekali ingin membantah. Namun dia tidak punya ilmu apapun yang bisa menyangal seorang dokter. Seketika itu pula dia memikirkan cara lain agar membuat penyebab pingsan kekasihnya itu mendapatkan hukuman yang setimpal.
Alia mengembus napas lega. Dia menyeka keringat yang dari tadi meluncur dari kening. Selama lima menit perasaannya sungguh kalut. Dia takut sekali penyebab pingsannya Frasta benar dari masakan yang dia buat. Tapi setelah mendengar penjelasan Dokter Karina, dia menjadi lega.
Saat itu juga dia tidak berminat kembali ke kelas memasak. Dia ingin mencari sahabatnya untuk mencari penghiburan. Maka dia pergi ke perpustakaan. Namun di sana dia tidak melihat sahabatnya berada di antara murid yang sedang membaca. Alia memulai pencariannya dengan menyusuri lorong-lorong lantai tiga. Bertanya sana-sini tapi tak ada satupun yang menjawab.
"Eh, kamu lihat Irene, nggak?" tanya Alia pada salah satu murid laki-laki yang melintas.
Murid tersebut menautkan kedua alisnya sebentar sampai akhirnya dia memberitahu Alia, "tadi sih aku lihat dia ke arah gudang di belakang,"
Alia terperangah. Tak lama menjadi lesu. "Makasih, ya." Alia berbalik, buru-buru turun menuju gudang belakang sekolah.
Gudang itu terletak tepat di belakang sekolah. Konon sebelum gedung sekolah menjadi tiga tingkat, gudang tersebut dulunya adalah ruang untuk para guru berkumpul. Sekarang ruangan tersebut menjadi gudang khusus kursi-kursi rusak parah. Pintunya juga sudah lapuk. Bagian bawahnya sering menjadi pintu masuk para kecoa dan tikus. Meski tidak pernah dikunci, gudang tersebut tak pernah kedatangan tamu karena banyak sekali tikus dan serangga kecil di sana.
"Apa Irene ke sini?" Alia tidak yakin Irene mau menginjakkan kakinya yang mulus ke gudang berbau apak tersebut. Dan insting Alia berkata iya. Oleh karena itu ia melanjutkan langkahnya.
Alia mengintip dari celah pintu yang berlubang, dilihatnya Irene berada di dalam. Sedang tertawa-tawa kecil dengan seseorang, yang tak begitu jelas kelihatannya. Alia hanya bisa melihat wajah Irene. Tangannya berpegangan dengan tangan seseorang yang diyakini Alia sebagai seorang siswa.
"Itu pasti Rio. Ngapain mereka di sini?"
"Jangan-jangan mau mesum!"
Alia jadi panik. Dia spontan menengok ke arah suara. Seorang siswa tampak tenang berdiri di belakangnya. Dia tersenyum sangat lebar sehingga terlihat sedang mengejek Alia.
"Ka-kamu si-siapa?"
"Nih baca!" kata siswa itu sambil menyentuh name tag-nya. "Nama saya Davan Orion Walter. Yang udah akrab biasanya panggil saya Orion. Atau lebih akrab lagi bisa, Rion… Kamu juga boleh panggil saya Rion."
Untuk sesaat Alia mengernyit. Terlalu banyak bicara, batinnya. Namun untuk kemudian bibir Alia kembali bergetar. Ia bukan takut pada cowok yang sekarang dia ingat pernah menjulukinya hebat karena berhasil meracuni Frasta. Alia takut cowok yang mempunyai kulit seputih susu itu akan melaporkan tindakan Irene hari ini.
"Minggir! Saya juga mau lihat mereka ngapain."
Alia membelalak. Benar dugaannya, siswa aneh itu ingin ikut campur. Alia refleks menutupi lubang. Namun tangan Davan lebih kuat sehingga berhasil menyingkirkan tangan Alia dan mengintip.
"Wuih! Kayaknya mereka lagi ciuman deh. Kepala mereka lagi deket-deketan tuh," celotehnya masih belum beralih dari lubang pintu.