The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #2

Dua

Suara langkah-langkah yang memasuki ruangan membuat cowok berambut cepak itu mengerutkan kening. Sejuta pertanyaan muncul di dalam pikiran yang sebelumnya digunakan untuk mencerna kalimat-kalimat di buku kesehatan yang ada di tangannya. Cowok itu berdiri sigap, mengecek kehadiran beberapa murid kelas XII yang datang beriringan dengan sebuah brankar.

Satu siswa terbaring di atasnya, dalam keadaan tidak sadarkan diri. Salah seorang temannya memanggil-manggil namanya, meminta segera menolong. Cowok itu mengambil minyak kayu putih, dengan gerak agak cepat ia mengoleskan minyak tersebut ke jarinya dan menyodorkannya ke hidung kakak kelasnya.

"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanyanya masih berusaha membangunkan siswa ber-name tag Frasta itu dari ketidaksadarannya.

"Frasta keracunan."

Cowok itu berjengit lagi, "kok bisa? Makan apa?"

Kakak kelas bernama Yasmin menghela napas berat, "abis nyobain masakan anak kelas XI dia langsung begini." Yasmin berusaha membantu sang petugas UKS dengan mengusap-usap telapak tangan Frasta.

“Sebentar, kupanggil dokter dulu,” ujar cowok itu segera berlari ke ruang dokter sekolah.

Namanya Adit, murid kelas XI IPA yang saat itu bertugas berjaga di ruang UKS, mendampingi dr. Karina.

Tak lama setelah dr. Karina datang dan memeriksa, kerumunan kecil di UKS menjadi kecil. Hanya ada Yasmin yang mendampingi, menunggu di luar bilik sementara Frasta diperiksa. Adit telah mencatat apa saja yang disebutkan dr. Karina tentang kondisi Frasta yang tidak begitu mengkhawatirkan.

“Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Frasta hanya kelelahan, bukan keracunan,” kata dr. Karina menyangkal tuduhan Yasmin sebelumnya.

“Beneran, Dok? Soalnya dia langsung pingsan waktu mencicipi masakan peserta masak,” ujar Yasmin tetap pada diagonosisnya.

“Benar. Ini bukan kali pertama Frasta di bawa ke sini. Akhir-akhir ini jadwalnya begitu intens, saya rasa dia butuh istirahat.”

“Tapi, dok… Kalau kecapekan aja apa mungkin sampe pingsan seperti itu?”

“Yang dokter itu siapa sih?” ujaran ketus itu berasal dari belakang dr. Karina.

Yasmin refleks melotot ke arah Adit yang sibuk mencoret-coret catatannya.

“Walaupun kamu asisten dr. Karina hari ini, tetap harus sopan ya sama kakak kelas!” Yasmin tampak berang.

“Eh, sudah. Jangan bertengkar seperti itu. Yasmin kamu bisa kembali ke kelas, dan kamu Adit, saya minta tolong tungguin Frasta di biliknya sekarang.”

Adit langsung melengos ke bilik, tidak mengacuhkan Yasmin sama sekali.

“Baik, Dok. Saya kembali dulu.”

Langkah Yasmin berat, meninggalkan ruang UKS. Tampangnya masih terlihat penuh dendam pada peserta yang membuat pacarnya itu pingsan.

Yasmin memperlambat langkahnya ketika melewati ruang BK yang menggaungkan suara Pak Seno. Yasmin sempat menengok seklias, Pak Seno sedang memarahi murid laki-laki berambut jahe. Dari sana Yasmin bisa tahu apa kesalahan laki-laki itu. Di saat yang bersamaan, dia mendapatkan satu ide untuk mencari dukungan Pak Seno.

"Ini peringatan ke tiga kali untuk kamu. Saya nggak mau tahu, besok saya nggak mau lihat rambut merah kamu lagi." Pak Seno memperingati dengan nada kesal. Ia menatap murid tersebut dengan tatapan tak percaya.

"Pak, rambut saya ini bukan pirang, it’s ginger hair, my natural hair. Dari lahir sudah seperti ini, Pak. Masa saya harus warnai jadi hitam, kan aturannya nggak boleh mewarnai rambut, Pak. Melanggar aturan dong saya,"

Untuk sesaat Pak Seno bengong. Dia sedang mencerna istilah ‘ginger hair’ yang disebutkan murid laki-laki itu padanya. Kedua bahu Pak Seno berguncang, tertawa kecil. "Davan Orion Walter nama kamu mungkin kebarat-baratan, tapi saya tetap nggak percaya kalau kamu ini punya rambut yang nyentrik karena keturunan."

Murid yang lebih sering disapa Orion itu mencebik, "kalau Bapak nggak percaya saya bisa telpon Daddy saya, deh. Beliau itu emang-apa sih itu namanya? Ha, bule, Pak."

"Tidak ada alasan Davan, besok saya mau lihat rambut kamu hitam. Titik!"

Pak Seno mengetuk meja sebagai tanda ketegasan, dan murid berambut pirang itu menjadi kuyu. Disandarkan punggungnya ke kursi. Dia baru saja ingin membuka mulut ketika tiba-tiba pintu ruang guru terbuka. Orion menoleh dan melihat seorang murid perempuan berjalan cepat menuju meja kerja Pak Seno. Satu murid perempuan lain mengekor di belakang, dengan wajah yang cukup pasrah.

"Pak, saya mau laporin Alia. Dia baru saja bikin Frasta keracunan."

Pak Seno melotot lebar, begitu juga dengan Davan. Sebelah tangannya refleks menutupi mulutnya yang ternganga.

"Keren!" cetusnya seraya bertepuk tangan kecil.

Yasmin melirik Davan sinis.

"Davan, kamu bisa keluar sekarang."

Davan membelalak, "yah, Pak!" dan dengan berat hati ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menjauhi meja kerja Pak Seno. Alih-alih melewati meja beberapa guru, Davan malah berhenti di sebelah murid yang sedari tadi menunduk lesu.

"Kamu keren banget!" katanya mengacungkan jempol. "Bisa bikin orang keracunan itu salah satu daftar keinginan yang belum bisa saya capai. Dan kamu bisa melakukannya, hebat! Kapan-kapan ajari saya, ya?"

Alia mendongak, dengan sebelah ujung bibirnya yang terangkat sementara wajahnya belum juga berubah. Masih tampak pucat. Dan mata Orion yang berkedip berulang kali di depannya membuat Alia ingin memukulnya. Alia terganggu sekali dengan murid yang konon baru masuk minggu lalu di SMA Erlangga ini.

"Davan!" Pak Seno memberi isyarat pada Orion untuk segera keluar dengan tatapannya yang mengilap.

"Okaysir!" Orion memberikan penghormatan terakhir, lalu keluar dengan tawa yang lebar. Satu ekspresi yang tidak pernah ditonjolkan murid-murid yang baru kena wejangan guru BK.

Orion meninggalkan ruang guru dengan ekspresi yang masih sama. Terlihat sumringah. Langkahnya yang pelan makin lama semakin pelan. Bel pertanda berakhirnya pelajaran sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu dan Orion baru saja ingin melihat setiap ekstrakurikuler di sekolahnya sebelum Pak Seno memanggilnya ke kantor guru.

SMA Erlangga yang menjadi sekolah barunya sejak minggu kemarin adalah sekolah yang menerapkan ekstrakurikuler seperti pelajaran penting lainnya. Setiap murid tidak dibenarkan pulang sebelum mengikuti kegiatan yang mengasah bakat ini. Dan lama kegiatan tersebut setara dengan satu les pelajaran.

Orion menghela napas panjang, lalu melirik jam tangannya. Masih lima belas menit lagi sebelum sekolah benar-benar bubar. Orion mengambil ponsel dari dalam saku celananya, menelepon seseorang dan berkata. "Mom, it's kinda hard to do! But I'll do it!"

***


Sepuluh menit dilalui Alia dengan jantung yang berdegup tak keruan. Pak Seno dengan bijak bertanya kepada Yasmin, apakah Frasta sudah ditangani dr. Karina. Dia kemudian mengatakan pada Yasmin bahwa Alia tidak bersalah jika dr. Karina mengatakan penyebab pingsannya Frasta adalah kelelahan.

“Tapi Pak, saya mau ini diselidiki,” kata Yasmin dengan nada penuh tuduhan.

Lihat selengkapnya