The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #3

TIGA

Adit membereskan obat-obatan di dalam lemari kaca. Setiap bertugas menjaga UKS Adit tidak pernah lupa merapikan tempat yang terlalu sering dikeluhkan berbau tidak sedap oleh rekan yang tidak bersungguh-sungguh menjadi asisten dokter sekolah. Bagi Adit aroma yang menguar dari ruang kaca tersebut setara dengan parfum termahal sedunia sekalipun. Namun begitu, ia tetap tidak senang melihat orang sakit yang datang ke UKS.

Adit menutup slide lemari tersebut, bersiap pulang. Ia adalah penghuni UKS terakhir yang tersisa, dr. Karina sudah lebih dulu pulang karena jam kerjanya sudah selesai. Maka ia mengunci ruang tersebut. Akan segera memberikan kunci tersebut ke guru piket sebelum akhirnya seseorang berlari seperti dikejar anjing dan menyenggolnya. Kunci UKS terlepas begitu saja dari tangannya. Meluncur mulus, entah kemana.

"Hei!" Adit berteriak, pada gadis yang mengaduh sambil memegangi bahunya.

"Aduh, maaf. Maaf! Aku lagi buru-buru. Nggak keliatan ada—" gadis itu membelalak lebar saat Adit memasang muka ketat. Bukan sebuah ekspresi takut, gadis itu terlihat berbinar-binar.

Adit mengangkat pandangannya, "kalau nggak mau bantuin nyari kunci, mending buruan enyah dari muka saya," katanya dengan nada bicara sedatar-datarnya.

"K-kunci?" Alia ikut merunduk. Mencari sesuatu yang bernama kunci. "Dimana?"

"Ya kalau saya tahu saya juga nggak bakalan nyari."

Alia mengerucut bibir. "Aku kan udah minta maaf," Alia mendecak lalu ikut mencari benda kecil bernama kunci. "Lain kali kuncinya dikasih bandul apa gitu, biar kalau jatuh nggak ribet kayak begini, nih."

Adit menemukan kunci di pinggiran lantai koridor. Setelah mengambilnya, Adit berlalu begitu saja. Mengatakan 'kuncinya sudah ketemu' pun tidak berminat.

Alia menatap kepergian Adit dengan mukanya yang bingung. "Bilang kek kalau udah ketemu. Ngeselin banget." Alia mengentakkan kaki. 

Pada entakan kedua dia ingat tujuan utamanya. Dia langsung berlari, mencari-cari murid laki-laki yang berhasil menjebaknya tadi.

"Gimana kalau dia beneran numpang? Bakalan dimarahin Oma sama Mama. Aaakkk---" Alia semakin uring-uringan membayangkannya.

Kekesalannya semakin tidak kepalang.

***


Sepulang sekolah, Alia mengunci rapat pagar rumahnya. Berjaga-jaga agar tidak ada yang masuk tanpa izin. Tepatnya, Alia sedang mengantisipasi kedatangan bule gila itu. Dan berharap kalau bule yang sampai saat ini tidak bisa Alia ingat namanya itu sedang bercanda. Tidak benar-benar ingin menumpang di rumahnya.

Alia tinggal bertiga dengan Mama dan Oma. Mamanya single parent, berwiraswasta dengan membuka restoran sejak papanya meninggal dunia di umur Alia yang masih menginjak 9 tahun. Mama menjadi tulang punggung keluarga sementara Oma menjadi pengganti Mama. Meski keluarganya tidak lengkap Alia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Hanya saja terkadang, Alia merindukan papanya.

Dan jika bule gila itu nekat, entah apa yang akan dilakukan Mama dan oma. Alia tidak bisa membayangkan hal terburuk sekalipun.

Alia melirik jam dinding di atas perangkat home theater di ruang tamu, sudah pukul 3 sore. Alia agak lega karena tidak ada tanda-tanda kedatangan tamu. Tidak ada bel yang dipencet, juga tidak ada suara memanggil-manggil.

"Kayaknya itu bule nggak bakalan dateng deh." Alia tersenyum sumringah, lalu berjalan gontai ke tangga. Ingin menghabiskan waktu dengan internet. Mencari resep mudah untuk di recook.

Meskipun harapan menjadi finalis 'Let's Cooking' sudah hangus, dia tetap harus mengasah bakat memasak.

"Alia,"

Panggilan datang bersamaan dengan bunyi bel. Alia yang baru menaiki satu anak tangga membelalak kaget. "Itu suara Oma." Dan bertambah lega.

Alia lalu bergegas keluar rumah, membuka pagar untuk Oma yang baru pulang dengan goodie bag besar. Oma baru saja berbelanja.

"Kok pagarnya dikunci?"

Sebelum menjawab Alia menyalami tangan Oma, "iya Oma. Tadi ada sales panci masuk tanpa izin," katanya berbohong. "Ya udah Oma yuk buruan masuk." Kedua mata Alia sigap memperhatikan sekeliling. Meskipun tidak ada tanda-tanda kedatangan tamu, Alia tetap harus waspada.

Baru saja Oma masuk ke dalam pagar, sebuah klakson memekakkan pendengaran keduanya. Alia menilik, sebuah mobil pick up berhenti tepat di depan pagar mereka. Dalam waktu sepersekian detik, Alia tercekat di tempatnya. 

"Halo Alia. Nungguin saya, ya?" 

Kedua mata Alia berkunang-kunang melihat si rambut jahe menyapa dengan lambaian tangan dan senyum yang begitu lebar.

***


Deru kendaraan yang tumpang-tindih selama hampir satu jam langsung musnah ketika Adit masuk ke dalam ruangan ternyaman sedunia. Kamarnya. Adit menghela napas panjang ketika meletakkan ransel di atas meja belajar. Kemudian langkahnya tampak santai menuju almari, mengambil pakaian ganti sehari-hari. Adit menanggalkan satu persatu seragamnya, dan berganti dengan sehelai kaos oblong dan celana selutut. Setelahnya, langkah Adit mantap keluar kamar. Menemui Ayahnya yang senantiasa berada di tepi kolam renang. Mencelupkan kedua kaki sambil membaca sebuah buku, dongeng.

Adit tidak tahu pasti, kapan pertama kalinya pria separuh baya itu lebih banyak menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca buku-buku dongeng. Adit meringis prihatin setiap kali mendapati kebiasaan baru ayahnya itu terlihat. Umumnya, pria sedewasa ayahnya lebih senang membaca buku-buku bisnis, atau paling tidak membaca buku-buku biografi dari tokoh-tokoh politik. Tapi ini, dongeng?

Adit pernah bertanya, mengapa ayahnya membaca buku dongeng. Dan ayahnya hanya menjawab, "dongeng membangkitkan harapan Ayah yang sempat musnah. Dengan membaca kisah-kisah putri malang Ayah jadi tahu betapa Ayah tidak sendirian."

"Dongeng itu menjual mimpi," sangkalnya hari itu.

"Bahkan lebih baik dari orang-orang yang tak pernah bermimpi."

Adit diam saja. Tidak ingin menimpali lagi. Bukan karena tidak memiliki bahan argumen, melainkan ia merasa tertohok dengan kalimat terakhir ayahnya. Maka sejak saat itu ia membiarkan ayahnya membaca buku-buku dongeng. Yang dengan mudah didapatkannya. Hanya sekali tekan, beberapa menit kemudian pesanan buku dongeng baru akan sampai.

Lima tahun yang lalu, ayahnya resign dari pekerjaannya sebagai reporter menjadi wirausahawan. Herman Lesmana kemudian membangun sebuah toko buku kecil, yang seiring berjalannya waktu omsetnya mampu menyaingi toko buku nasional. Ayahnya tidak pernah lagi pergi ke luar rumah, hanya menghabiskan waktu di rumah. Adit juga seperti itu tapi ia tidak se-asosial ayahnya. Sesekali Adit pergi, sendirian, ke tempat-tempat di mana orang sering datang berdua atau berbarengan. Adit berbeda, dia lebih suka pergi ke bioskop sendirian. Ke taman di malam minggu sendirian, mengelilingi GBK sendirian. Hampir separuh hidupnya Adit lebih suka kemana-mana sendirian. Paling banter, ia pergi bersama ayahnya dan itu terjadi hanya beberapa kali dalam setahun. Karena ayahnya lebih suka berada di dalam rumah.

"Kamu udah dari tadi pulang Dit?"

Adit tersentak, "sudah, Yah."

Suara air bergemericik ketika kedua kaki ayahnya terangkat dari kolam. "Hari ini si Mbak masak sayur kesukaan kamu, tuh. Katanya biar kamu nggak ngopi terus. Kasian liat kantong mata kamu katanya. Mbak sekarang lebih perhatian sama kamu deh kayaknya." Ucapan ayahnya terdengar sedikit menggoda.

"Iya, bentar lagi Adit makan." Adit hanya menarik segaris senyum.

Lihat selengkapnya