The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #3

TIGA

Deru kendaraan yang tumpang-tindih selama hampir satu jam langsung musnah ketika Adit masuk ke dalam ruangan ternyaman sedunia. Kamarnya. Adit menghela napas panjang ketika meletakkan ransel di atas meja belajar. Kemudian langkahnya tampak santai menuju almari, mengambil pakaian ganti sehari-hari. Adit menanggalkan satu persatu seragamnya, dan berganti dengan sehelai kaos oblong dan celana selutut. Setelahnya, langkah Adit mantap keluar kamar. Menemui Ayahnya yang senantiasa berada di tepi kolam renang. Mencelupkan kedua kaki sambil membaca sebuah buku, dongeng.

Adit tidak tahu pasti, kapan pertama kalinya pria separuh baya itu lebih banyak menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca buku-buku dongeng. Adit meringis prihatin setiap kali mendapati kebiasaan baru ayahnya itu terlihat. Umumnya, pria sedewasa ayahnya lebih senang membaca buku-buku bisnis, atau paling tidak membaca buku-buku biografi dari tokoh-tokoh politik. Tapi ini, dongeng?

Adit pernah bertanya, mengapa ayahnya membaca buku dongeng. Dan ayahnya hanya menjawab, "dongeng membangkitkan harapan Ayah yang sempat musnah. Dengan membaca kisah-kisah putri malang Ayah jadi tahu betapa Ayah tidak sendirian."

"Dongeng itu menjual mimpi," sangkalnya hari itu.

"Bahkan lebih baik dari orang-orang yang tak pernah bermimpi."

Adit diam saja. Tidak ingin menimpali lagi. Bukan karena tidak memiliki bahan argumen, melainkan ia merasa tertohok dengan kalimat terakhir ayahnya. Maka sejak saat itu ia membiarkan ayahnya membaca buku-buku dongeng. Yang dengan mudah didapatkannya. Hanya sekali tekan, beberapa menit kemudian pesanan buku dongeng baru akan sampai.

Lima tahun yang lalu, ayahnya resign dari pekerjaannya sebagai reporter menjadi wirausahawan. Herman Lesmana kemudian membangun sebuah toko buku kecil, yang seiring berjalannya waktu omsetnya mampu menyaingi toko buku nasional. Ayahnya tidak pernah lagi pergi ke luar rumah, hanya menghabiskan waktu di rumah. Adit juga seperti itu tapi ia tidak se-asosial ayahnya. Sesekali Adit pergi, sendirian, ke tempat-tempat di mana orang sering datang berdua atau berbarengan. Adit berbeda, dia lebih suka pergi ke bioskop sendirian. Ke taman di malam minggu sendirian, mengelilingi GBK sendirian. Hampir separuh hidupnya Adit lebih suka kemana-mana sendirian. Paling banter, ia pergi bersama ayahnya dan itu terjadi hanya beberapa kali dalam setahun. Karena ayahnya lebih suka berada di dalam rumah.

"Kamu udah dari tadi pulang Dit?"

Adit tersentak, "sudah, Yah."

Suara air bergemericik ketika kedua kaki ayahnya terangkat dari kolam. "Hari ini si Mbak masak sayur kesukaan kamu, tuh. Katanya biar kamu nggak ngopi terus. Kasian liat kantong mata kamu katanya. Mbak sekarang lebih perhatian sama kamu deh kayaknya." Ucapan ayahnya terdengar sedikit menggoda.

"Iya, bentar lagi Adit makan." Adit hanya menarik segaris senyum.

"Tapi bener lho kata, si Mbak. Jangan keseringan ngopi. Nanti jadi insomnia. Satu kali aja, jangan banyak-banyak. Kasian ginjal kamu juga, Dit."

Adit mengangguk. Sudah ribuan kali kalimat yang sama didengarnya sepanjang hidupnya, tapi Adit tidak pernah menanggapi sedikitpun. Baginya, kopi adalah sahabat paling setia yang dia miliki. Dengan menenggak segelas kopi, Adit tidak akan takut akan rasa kantuk yang sewaktu-waktu menghantuinya.

Adit benci tidur.

Sejak dia tidak pernah bisa tidur nyenyak karena mimpi buruk yang berulang datang.

"Lihat tuh kantung mata kamu." Herman mendekatkan wajahnya pada dua lingkaran mata Adit. "Ayah jadi ngerasa lebih muda dari kamu." Lalu terkekeh puas.

Adit menarik napas panjang, "Yah, Adit mau keluar sebentar ya."

"Mau beli kopi?"

Adit terdiam. Lalu tersenyum lebar seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Baru juga dibilangin jangan ngopi, malah mau nyetok." Herman menggeleng berulang kali lalu menjulurkan sebelah tangannya.

"Banyak materi yang harus Adit pelajari hari ini, Yah. Kalau nggak ngopi takutnya nggak kuat," kilah Adit seraya mensalim tangan ayahnya kemudian bergegas pergi.

***


Irene mendorong troli yang nyaris penuh, namun pencariannya belum juga usai. Matanya masih sibuk mencocokkan daftar belanjaan di tangannya dengan merk minuman di rak.

"Satu bungkus kopi," gumamnya. Matanya melesat mencari jajaran kopi diantara rak. Setelah menemukan, ia mendorong troli dan mengambil 3 bungkus besar, persediaan satu bulan.

Irene tidak pernah minum kopi. Dan kopi hitam yang dipilihnya sekarang adalah kesukaan ayahnya. Tidak, ibunya juga menyukai kopi. Terkadang kedua orang tua Irene menghabiskan waktu berdua dengan bercanda di pendopo kolam, sambil meneguk segelas kopi panas. Irene sendiri bingung, di usia mereka yang tidak muda lagi, masih saja punya banyak waktu luang bersama. Mengobrolkan topik yang tidak ada habisnya. Terkadang Irene iri, dan menginginkan keharmonisan kedua orang tuanya itu dapat dialaminya di masa depan.

Sayang, Irene tidak pernah melihat sosok ayahnya hadir di diri cowok yang pernah ia pacari. Kebanyakan dari mereka membosankan. Tidak punya topik yang membuat Irene betah. Juga tidak punya trik lain selain gombalan basi. Dan ya, Irene tidak benar-benar menyukai cowok-cowok yang selama ini bersamanya. Itulah sebabnya Irene tidak pernah bertahan lebih dari seminggu. Pada dasarnya, Irene memang tidak pernah serius. Ia hanya bermain-main.

"Cek!" Irene menandai daftar terakhir belanja bulanan yang tiba-tiba saja dipasrahkan mamanya, lalu mendorong troli menuju kasir. Namun baru beberapa langkah, sepasang kaki beralas sandal hitam menghalangi Irene.

Irene mendongak. Seseorang bertubuh semampai yang berdiri di tengah lorong, dengan dua bungkus kopi di tangannya. Ia terlihat menimbang-nimbang. Irene menahan napas sejenak, pada sosok yang refleks mengerling ke arahnya. Sepasang mata hitam pekat membuat Irene terlempar ke masa lalu. Irene terlena untuk sesaat, namun sedetik kemudian ia tergugah.

"Pe-permisi,"

Cowok itu, tidak berkata. Hanya maju satu langkah agar Irene dan trolinya bisa lewat kemudian perhatiannya kembali tertuju pada kopi-kopi yang setia di dalam rak.

Irene tidak percaya. Kehangatan yang sempat hadir di wajahnya kini berubah dalam seketika. Wajah Irene merah padam, dan menahan amarah yang secepat kilat hadir di dalam dadanya. Irene tidak diacuhkan, oleh sosok yang tidak seharusnya mengacuhkannya seperti orang asing. Bahkan ketika Irene sengaja berhenti di belakang, cowok itu tetap bergeming.

Irene mendengus berat, lalu mendorong troli dua kali lebih cepat. Ia mengeluarkan belanjaannya seperti kesetanan, dan amarahnya masih bersemayam di dalam dada meski ia sudah sampai di rumah.

"Kenapa sih dia selalu bersikap seperti itu? Seolah-olah nggak kenal." Irene membanting tubuhnya di atas kasur.

Irene berusaha melupakan kejadian beberapa menit lalu dengan memejamkan kedua matanya. Akan tetapi ia malah terlempar pada masa lalu. Pada seseorang dengan sepasang mata hitam pekat, berwajah ketat, dan berlidah tajam.

Lihat selengkapnya