Irene menghentikan langkahnya saat melihat bayangan di depan pagar rumah Alia. Ia lantas merunduk dan berjalan dengan sangat hati-hati. Irene menyelipkan poni—belah dua—ke telinga kiri dan mengamati bayangan—seperti jongkok itu dengan saksama.
"Apa itu hantu?" Irene mengerling ke segala arah dan memastikan kembali pada bayangan yang semakin dekat tak lagi terlihat seperti bayangan lagi. Bayangan itu berbentuk, seorang pria yang duduk di atas, "koper?"
Irene berjingkat mendekati. Ketika langkahnya semakin dekat, tiba-tiba sosok bayangan yang membelakanginya itu berputar.
"Oh—" bayangan itu berdiri dan menatap Irene dalam kegelapan.
Irene mundur beberapa langkah. "Si-siapa kamu?" wajah pria itu masih belum jelas terlihat sampai akhirnya lampu mobil yang datang membuat Irene lebih kaget lagi. Cowok di hadapannya tidak setua yang dia pikir meski posturnya berpotensi. Kulit wajahnya memerah dan rambutnya berwarna jahe.
"Irene?" panggilan itu datang bersamaan dengan suara klakson. Irene mengerling, begitu pula cowok yang harus menghalangi cahaya yang menimpa wajahnya.
"Tante?" Irene mundur, dan buru-buru membuka pintu gerbang. Setelah membiarkan ayla merah itu masuk, Irene kembali menhampiri laki-laki muda itu.
"Siapa kamu? Malam-malam gini ngapain di rumah temanku?"
"Kamu temannya Alia, kan? I saw you..." kata katanya terhenti karena tidak ingin ketahuan pernah mengintipnya di gudang sekolah tadi sore.
"Hah?"
Untuk sesaat Irene terpaku, meski temaram, Irene bisa melihat manik mata laki-laki itu yang berwarna abu-abu. Indah sekali. Jika saja tidak ada langkah-langkah
"Irene, kamu lagi sama siapa?" suara itu kembali, kali ini bersamaan dengan hadirnya wanita separuh baya di antara mereka.
"Tante—"
"Tante pasti Mamanya Alia ya," serobotnya, dan tanpa tedeng aling-aling, dia menyalim tangan mamanya Alia.
Irene terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya. Sedikit heran, mengapa cowok yang kelihatan 'bukan orang indonesia' itu menyalami tangan mamanya Alia layaknya keluarga. Mendahuluinya yang latah dan mengikuti kelakuan si laki-laki muda itu.
"Ada perlu apa, ya?" tanya mamanya Alia yang bernama Ratna itu. Wajahnya terlihat awas, memandangi Davan dari atas kepala sampai ke kaki, juga pada koper yang berdiri tegak di sebelahnya.
Irene mengangguk berulang, pertanda dia juga punya pertanyaan yang sama, namun sudah keduluan dengan si empunya rumah. Seolah tak lelah, Davan menceritakan kembali alasan mengapa dia akhirnya bisa muncul di rumah itu. Dia berusaha semeyakinkan mungkin bahwa dia adalah korban dari tindakan impulsif Alia.
Tanpa pertanyaan lanjutan, Tante Ratna masuk ke dalam rumah. Air mukanya tampak mengeras. Alih-alih diminta menunggu, Davan malah diminta masuk ke dalam rumah, agar tidak menjadi penghakiman sepihak saja. Rumah yang tadinya tenang menjadi ribut.
"Dia nggak mungkin datang ke rumah ini tanpa sebab, Alia."
Jelas Alia terkejut. Mamanya terlihat sangat membela orang asing itu dan bukannya membela dirinya yang terus dipojokkan si bule aneh itu.
"Mama kok lebih percaya sama bule gila ini, sih?"
"Weh, siapa yang bule gila? Saya?"
"Udah tahu nanya!" sahut Alia dengan tatapan yang tidak ada bedanya ketika mengusir Davan tadi sore. "Ma, aku tuh nggak kenal sama dia. Lagian, yang anaknya Mama kan aku. Masa ngebelain orang lain, sih?"
"Mama tanya dengan jelas, kamu benar punya perjanjian sama dia? Ya atau tidak?"
Alia menutup mulutnya. Diliriknya Irene yang melihat situasi diantara mereka dengan wajah innocent, karena memang Irene tidak tahu asal muasal perjanjian itu. Alia tidak akan membeberkan kebodohannya tadi sore sehingga dia mau tidak mau berkata. "Iya."