The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #4

EMPAT

Irene menghentikan langkahnya saat melihat bayangan di depan pagar rumah Alia. Lantas merunduk dan berjalan dengan sangat hati-hati. Irene menyelipkan poni—belah dua—ke telinga kiri dan mengamati bayangan—seperti, jongkok itu dengan saksama.

"Apa itu hantu?" Irene mengerling ke segala arah dan memastikan kembali pada bayangan yang semakin dekat tak lagi terlihat seperti bayangan lagi. Bayangan itu berbentuk, seorang pria yang duduk di atas, "apa itu koper?"

Irene berjingkat mendekati, ia juga mengangkat tasnya untuk berjaga-jaga. Ketika langkahnya semakin dekat, tiba-tiba sosok bayangan yang membelakanginya itu berputar.

"Oh—" bayangan itu berdiri dan menatap Irene dalam kegelapan.

Irene mundur beberapa langkah. "Si-siapa kamu?" wajah pria itu masih belum jelas terlihat sampai akhirnya lampu mobil yang datang membuat Irene lebih kaget lagi. Cowok di hadapannya tidak setua yang dia pikir meski posturnya berpotensi. Kulit wajahnya memerah dan rambutnya pirang.

"Irene?" panggilan itu datang bersamaan dengan suara klakson. Irene mengerling, begitu pula cowok yang harus menghalangi cahaya yang menimpa wajahnya.

"Tante?" Irene mundur, dan buru-buru membuka pintu gerbang. Setelah membiarkan ayla hitam itu masuk, Irene kembali menyelidiki cowok berambut pirang itu.

"Siapa kamu? Malam-malam gini ngapain di rumah temanku?"

"Jadi kamu temannya pemilik rumah ini?" manik matanya yang berwarna abu-abu melebar, membuat Irene takjub untuk sesaat. Indah sekali. "Kenalin, saya Davan. Saya—"

"Irene, kamu bicara sama siapa?" suara itu kembali, kali ini bersamaan dengan hadirnya wanita separuh baya di antara mereka.

"Tante—"

"Tante yang pemilik rumah ini? Mamanya Alia?" dan tanpa perintah cowok itu menyalim tangan mamanya Alia.

Irene terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya. Sedikit heran, mengapa cowok yang kelihatan 'bukan orang indonesia' menyalami tangan mamanya Alia. Mendahuluinya yang seketika itu juga mengikuti kelakuan si cowok aneh.

"Jadi kamu kenal Alia?" Irene yakin kalau Alia tidak punya teman berparas kaukasia seperti yang berhadapan dengannya ini.

"Baru tadi siang sih."

Pantesan, "terus kenapa kamu bawa koper segala?"

"Ah, ini. Tadi siang saya sama Alia bikin taruhan dan dia kalah. Sebagai hadiah, saya mengajukan syarat untuk numpang sementara waktu di rumahnya tapi waktu saya datang dia malah mengingkari janji. Makanya saya tunggu di sini aja. Habisnya saya nggak tahu harus kemana lagi."

Setelah mendengar penjelasan lengkap dari Davan, Mama Alia langsung masuk ke dalam rumah. Ditemani Irene, akhirnya Davan dipersilakan masuk setelah sebelumnya tidak diperkenankan. Ditolak mentah-mentah oleh Alia dan Oma. Dan ekspresi yang keluar dari wajahnya Alia ketika melihat mamanya mempersilakan Davan masuk adalah sangat-sangat terkejut. Oma juga sudah menjelaskan bahwa ia tidak mempersilakan anak muda itu masuk namun mama Alia memiliki pendapat sendiri.

"Dia nggak mungkin datang ke rumah ini tanpa sebab, Alia." Takjubnya, Mama Alia malah membela orang asing tersebut.

"Mama kok lebih percaya sama bule gila ini, sih?"

"Weh, siapa yang bule gila? Saya?"

"Udah tahu nanya!" sahut Alia dengan tatapan yang tidak ada bedanya ketika mengusir Davan tadi sore. "Ma, aku tuh nggak kenal sama dia. Lagian, yang anaknya Mama kan aku. Masa ngebelain orang lain, sih?"

"Sejak kamu kecil, kalau kamu nakal, tetangga pada ngomel sama Mama. Dan kamu selalu enteng ngejawab, kalau kamu lupa. Dan kebiasaan itu belum juga hilang sampai sekarang."

Alia menutup mulutnya. Diliriknya Irene yang membekap mulut demi menyembunyikan tawa. Sementara pendatang baru yang mengacaukan rumahnya dalam seketika itu tertawa, bahkan tidak peduli ketika Alia melotot ke arahnya. Davan terus tertawa dengan suara yang aneh.

"Kamu itu kalau buat janji harus tanggung jawab Alia. Apa mama pernah ngajarin kamu buat bohong ke orang?"

"Ta-tapi Ma, kita kan nggak kenal orang ini masa harus dibiarin tinggal di rumah sih?"

"Terus nasib saya gimana, dong? Saya udah terlanjur keluar dari kosan saya yang mahal itu. Saya nggak sanggup bayar, sungguh. Please tante," Davan melancarkan rayuan welas asihnya pada mamanya Alia.

"Ratna, gimanapun juga anak ini—" Oma angkat bicara, namun ia tertahan oleh ucapan Ratna.

"Ma, coba Mama bayangin kalau anak ini Alia? Apa mama sanggup biarin dia berkeliaran di kota baru dan besar seperti Jakarta ini?"

Lihat selengkapnya