The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #5

LIMA

Sebelum keluar kamar, Davan bolak-balik memperbaiki lipatan dasinya berulang kali. Di depan cermin itu, dia melihat dirinya menarik napas dalam. Dia berharap degup jantungnya bisa normal kembali degupnya. Ketika tangan kanannya refleks menyentuh rambut depan, Davan membelalak. Kenapa dia lupa dengan yang satu ini.

“Oke, hari ini aku akan lewatkan omelan lain Pak Seno. Tapi pagi ini biar kulalui ujian yang sebenarnya.”

Davan kemudian keluar kamar dan berjalan hati-hati. Tiba di ujung tangga dia mengerling ke sekeliling. Lamat-lamat dia mendengar suara dari belakang, tepatnya dari dapur.

“Hei, Rion, sarapan dulu sini.”

Davan langsung mengenali suara Tante Ratna yang ramah. Dia berbalik dan melihat wajah ramah Tante Ratna. Di sisi lain ada Alia yang wajahnya tampak ketat. Sementara Oma di sisi lainnya tidak memandang ke arahnya.

Davan berjalan mendekat, mengambil sisi di sebelah Oma, sehingga dia bisa melihat dengan jelas ketidaksukaan Alia terhadapnya. 

“Udah numpang, masa mau sarapan gratis juga!”

“Alia–Mind your P’s and Q’s!”

Alia manyun. Dia mengerling pada Oma yang hanya mengangkat bahu. Dia tidak bisa berkutik jika putrinya sudah bersuara. Bahkan tidak bisa membantah sedikitpun. Meskipun dia pun sama tidak sukanya dengan pendatang baru di rumah itu tapi dia tidak bisa berbuat banyak.

“Thank you, Tante. Aku sebenarnya nggak terbiasa sarapan. Tapi kalau Tante maksa, nggak apa-apa. Aku makan roti saja.”

“Nggak biasa atau nggak mampu?”

“Alia…!”

“Owkey…!”

“Tante, karena aku sudah di sini aku ingin menawarkan kebaikan. Aku mau melakukan apa saja di rumah ini termasuk bersih-bersih.”

Ratna berhenti sejenak. Dia tertarik dengan timbal balik, tapi perihal bersih-bersih rasanya tidak perlu.

“Kalau cuma bersih-bersih itu nggak cukup,” ujar Ratna tidak bermaksud kasar, tapi Alia menangkapnya seperti itu.

Alia menahan tawa, namun bibirnya menimbulkan bunyi yang kentara.

“Mungkin kalau kamu bersedia kamu bisa bantu Alia belajar.”

“Hah? Ma…!”

“Jadi dia bisa tahu apa yang dia bisa, bukan memaksakan sesuatu yang dia nggak bisa.”

“Mama…!” Alia meletakkan sendoknya kasar.

“Ini demi kebaikan kamu, sayang. Kamu harus cari sendiri apa yang kamu senangi.”

“Mama kan tahu kalau aku senang memasak.”

“Itu bukan kesenangan kamu. Itu kesenangan Mama.”

“Maksud Mama aku cuma niru Mama?”

“Bukan begitu maksud Mama. Sayang–”

Alia langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia jelas nggak suka kalau mamanya terus menyinggung perihal kemampuan memasaknya yang minus. Apalagi jika dia membuka hal itu di depan orang yang dia nggak suka; Davan.

“Oma, aku berangkat sekarang.”

“Ya hati-hati…!”

Melihat kelakuan putrinya, Ratna hanya bisa menghela napas dalam. Di sisi lain dia juga merasa telah mengolok-olok kemampuan Alia.

Melihat Alia sudah lebih dulu melesat, dia tidak enak untuk terus di sana. Maka dia berpamitan dengan menyalim tangan Ratna dan Oma. Dia kemudian berlari keluar rumah, mengejar Alia yang tersungut-sungut.

Davan tidak memanggil-manggil Alia, dia hanya berjalan di belakang Alia sambil mengunyah rotinya. Dia tidak akan membuat mood Alia semakin rusak, sehingga dia memilih untuk berjalan di belakangnya saja. Sembari melihat, transportasi apa yang digunakan Alia untuk ke sekolah.

“Go away you bad apple!”

Davan tercekat di tempatnya, kedua matanya mengerjap-ngerjap. Dia tidak bisa berbicara karena mulutnya sedang penuh.

Lihat selengkapnya