The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #6

ENAM

Pada pelajaran olahraga, murid-murid kelas XI IPS 2 diberi izin Pak Jeri–guru olahraga, untuk bertanding voli asal beliau yang menduduki kursi wasit. Tapi yang berminat untuk bertanding hanyalah murid laki-laki, sementara para murid perempuan menjadi penonton hingga jam olahraga dihentikan oleh istirahat pertama.

Murid laki-laki dibagi dua dan mereka sudah mulai membuat formasi. Murid perempuan sudah mencari tempat terlindung dari matahari. Irene tentunya tidak ingin berpanas-panasan. Sambil menggerakkan kipas portable-nya, Irene menarik Alia untuk mencari tempat duduk yang strategis di pinggir lapangan. Dia harus menjadi suporter Ricky, pacar barunya.

“Nah, di sini aja. Tidak terlalu sepi, jadi kita cuma buka mulut biar suaranya dari mereka-mereka,” bisik Irene pada Alia yang spontan melirik ke belakang mereka.

Hampir separuh murid perempuan kelas XI IPS berada di belakang mereka. Alia mengangguk-angguk setuju. Setelah melakukan beberapa servis–sebagai ujian praktik olahraga hari itu, Alia tidak ingin membuang banyak energi untuk berteriak menyemangati. Sambil meregangkan kedua lengan, Alia menyipitkan pandangan ke lapangan. Dia mencari-cari posisi pacar baru sahabatnya.

“Ren, jujur deh. Kali ini rencananya berapa lama?”

Irene tidak terusik sama sekali. Dia terus menggerakkan kipas di depan wajahnya.

“Aku nggak punya rencana. Memangnya kamu ngitungin?”

Alia memberenggut. “Nggak sengaja aja.”

“Berapa lama rekornya?”

“Sebulan,” jawab Alia getir.

“Oh, ya? Selama itu? Wow! Unbelievable!” Irene membelalak takjub.

Alia merasa sia-sia saja membicarakan tabiat sahabatnya itu. Dia akhirnya menyerah dan berusaha untuk tenggelam dalam pertandingan. Dia bertepuk tangan ketika Ricky berhasil mencetak poin.

“Duh, kok ada dia sih?”

“Siapa?” Irene lantas menengok ke arah Alia menengok, di sana ada Davan yang melambai-lambaikan tangannya. Irene pun refleks melambaikan tangannya.

“Irene, kalau dia ke sini gimana,” katanya seraya menurunkan tangan Irene.

“Memangnya kenapa?”

Alia spontan berdiri, dia melihat ke arah Davan yang berjalan ke arah mereka, dan menjejak kaki sebal.

“Al, mau kemana?”

Alia tidak menjawab, dia hanya melenggang. Irene tidak mengejar karena tidak punya energi. Maka dia memilih menunggu Davan yang belum berbalik. Dia duduk tanpa minta izin di sebelah Irene, ikut menyaksikan pertandingan yang mulai memanas. Ada banyak bisik-bisik di belakang ketika Davan bergabung, tapi Irene mengabaikannya. Itu bukan hal baru baginya. 

“Hai spiffy girl…!”

Spiffy? Nice nickname!” Irene mengangguk-angguk, pertanda setuju dengan panggilan barunya.

“Alia tuh orangnya memang susah, ya?” tanya Davan tanpa menoleh sekalipun kepada Irene yang juga sibuk dengan dirinya.

No tension, masih banyak kesempatan. I’ll help you.”

Davan akhirnya mengangguk-angguk sehingga rambut jahe nya semakin menyilaukan pandangan murid-murid di belakang.

By the way, siapa nama kamu? Deva?” 

“Davan. Kalau keluarga–ah, kamu panggil aja Davan.”

Irene mengangguk setuju. “Bolos pelajaran ya?”

“Tadinya izin ke toilet, eh malah lihat kalian. Ya sudah, jadi nimbrung deh.”

Lihat selengkapnya