The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #7

TUJUH

Tidak ada orang lain selain Davan dan Oma di rumah. Setelah berganti seragam, Davan turun dan menemui Oma di dapur. Oma terlihat sibuk mengeluarkan belanjaannya dari tas belanja. Davan mendekati Oma yang langsung tersenyum melihatnya. Senyum tipis Oma berhasil membuat hati Davan senang. Tidak seperti kali pertama mereka bertemu, kali ini Oma terlihat lebih bersahabat.

“Baru pulang ya?”

“Sudah sejam yang lalu, Oma. Belanjaannya banyak banget Oma, sini aku bantu.”

Oma melihat sekilas kemudian beralih pada lemari, mengambil beberapa wadah.

“Hanya untuk keperluan seminggu. Besok kan Jumat, Oma mau bikin makanan untuk yang jumatan,” kata Oma menjelaskan.

“Jumat berkah ya, Oma?”

Oma mengangguk. Dia membiarkan Davan mengambil salah satu wadah dan menuangkan daun kemangi ke dalamnya. Tanpa diperintah, Davan mencuci daun itu di wastafel.

“Mama saya juga suka memindahkan bahan makanan ke dalam wadah seperti ini. Katanya kalau di wrap di dalam wadah, isi kulkas jadi terlihat rapi. Jadi sewaktu-waktu mau masak, semuanya sudah siap.”

Oma hanya membuat garis senyum di wajahnya. Tidak heran, hal semacam itu memang sudah biasa.

“Jadi kamu sering bantu-bantu mama kamu untuk beres-beres setelah belanja kayak gini?”

Davan mengangguk mantap. “Kata Mama merapikan bahan masakan seperti ini serupa terapi.”

Barulah Oma terkesan mendengarnya. “Oh ya? Terapi apa?”

“Ya bukan terapi  berat kok, Oma. Kata Mama itu semacam cara untuk mengurangi stress. Apa namanya? Copy mechanism!"

Oma menyingkirkan kantong belanja besar yang sudah dilipatnya dan memasukkannya ke dalam laci. Dia kemudian mengangsurkan bahan makanan yang perlu di cuci ke wastafel.

“Menu untuk besok apa, Oma?” tanya Davan seraya memberi isyarat ‘biar aku saja yang mencuci semua bahan makanan ini’.

“Oma mau bikin Nasi Ayam Woku,” jawab Oma mengambil wadah berisi daun kemangi yang sudah dicuci oleh Davan.

“By God, Oma, itu menu kesukaanku. Mama suka sekali masakin. Let’s see then, apakah bikinan Mama bisa dikalahkan oleh Oma.”

Oma memijat pelipisnya. Hatinya mulai gusar. Dia seperti ingat pada sesuatu, tapi dia menghalau perasaan dejavu itu secepat mungkin.

“Oma minta tolong panggilkan Alia ya di kamar. Dia harus mencatat bahan-bahan masakan ini. Dia harus mulai mencatat biar tak lupa.”

“Alia belum pulang, Oma. Dia ada di rumah Irene. Katanya nanti pulang sebelum Tante Ratna.”

Oma tidak terlalu terkejut. Dia hanya menghela napas berat.

“Anak itu. Gimana mau bisa memasak kalau kerjaannya main mulu sama Irene.”

“Oh, itu karena tadi di sekolah Irene pingsan, kena bola Voli, Oma. Jadi Alia sepertinya pengin menemani Irene sampai lebih baik.”

“Oh, begitu? Ya ampun, kasihan Irene.”

“Jadi Oma, apa kita akan memasak Ayamnya sekarang? Aku bisa loh bantu Oma.”

Oma menggeleng-geleng sambil berkata, “Nggak sekarang. Ini harus dibersihkan lebih dulu.”

Davan menggaruk kepala, “Ah, iya. Sepertinya aku nggak sabaran, deh.”

**


Sore menjelang petang, rumah Irene tampak tenang. Tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Alia. Mamanya sedang menemani Irelio–adiknya yang masih duduk di kelas 3 SD, les renang. Papanya tentu belum pulang dari kantor. Pastilah jalanan padat Jakarta akan membuat papanya pulang pada pukul 7 malam. Asisten rumah tangga tidak tinggal di rumah, mereka hanya datang pada jam-jam yang sudah ditentukan. Hal itu membuat rumah Irene selalu sepi ketika dia pulang sekolah.

Lihat selengkapnya