The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #8

DELAPAN

Dari celah pintu kamar Davan menunggu Alia keluar dari kamarnya. Pagi itu dia akan memastikan aktingnya tidak akan dicurigai, tapi untuk itu dia memastikan Alia berangkat sekolah dulu.

Sejak subuh tadi dia sudah menyiapkan handuk yang sudah dibasuh air dingin. Baskom berisi air dingin sudah bertengger di atas nakas. Dia tinggal menunggu seseorang memvalidasi aktingnya pagi ini.

Tak lama, pintu kamar Alia dibuka. Gadis itu melenggang santai, turun ke bawah dengan bunyi sepatu yang keras. Dia pun sedikit bersenandung, membuat Davan berasumsi bahwa lagu itu lah yang sedang didengarkan dari tws-nya.

Melihat suasana lantai dua yang kian senyap, Davan mulai melakukan pemanasan untuk mendukung tujuannya. Hari ini dia tidak akan pergi ke sekolah. Dia tetap ingin di rumah, dan untuk itu dia harus memiliki alasan kuat. Di dalam kamar itu dia melompat-lompat, berusaha membuat tubuhnya berkeringat. Dia melihat jam weker di atas nakas, sudah waktunya Alia berangkat ke sekolah. Mungkin dia masih berusaha menyelesaikan gigitan terakhir sarapannya.

Tapi yang dia harapkan lebih cepat dari yang dia duga. Terdengar suara kaki menaiki tangga, Davan buru-buru berbaring di atas tempat tidur sambil menempelkan lipatan handuk basah di keningnya.

“Sekolah, nggak? Sudah waktunya berangkat, nih!” ketus Alia sembari mengetuk pintu berulang kali.

Davan berdeham pelan, “Aku nggak bisa berangkat.” 

“Kenapa?”

“Aku demam,” katanya berharap Alia mempercayai kebohongannya pagi ini.

Whatever…!”

Tak lama terdengar suara langkah menjauh. Davan bisa bernapas lega tapi dia harus tetap berakting sampai target utamanya mendatanginya. Meski terganggu dengan lipatan handuk di keningnya, Davan terpaksa membiarkannya menyesap suhu tubuhnya.

Tak lama, Mama Alia masuk kamar setelah mengetuk dan meminta izin masuk.

“Kamu yakin nggak perlu ke dokter?”

Tante Ratna terlihat khawatir tapi dia tidak mengecek sama sekali suhu tubuh Davan. Dia tampaknya hanya mempercayai apa yang dia lihat, hal itu membuat Davan lebih senang.

“Biasanya kalau demam seperti ini mom akan ngompres kepalaku dulu, Tan. kalau sorean panasnya belum turun baru ke dokter,” ujar Davan yang disambung suara batuk–buatan.

Setelah dijelaskan keadaannya, akhirnya Tante Ratna memahami. Dia membiarkan Davan beristirahat di kamarnya. Sebenarnya dia juga bingung, di satu sisi dia belum biasa dengan Davan. Teman sekelas Alia itu masih tampak seperti orang asing yang baginya masih ada tembok tinggi. Tidak bisa diperlakukan seperti Alia, toh kehadirannya di sana hanya sementara. Ratna tidak ingin memiliki keterikatan pada murid SMA itu.

Seperginya Tante Ratna, Davan berjalan pelan-pelan, melongok dari pintu dan memastikan mamanya Alia benar-benar sudah turun. Dia pun bersorak, akhirnya dia bisa melancarkan aksinya selanjutnya.

“Baiklah, masih ada waktu untuk melanjutkan tidur.” Maka Davan melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda karena misi rahasianya.

***


Di gerbang sekolah, cowok populer atlet voli sekolah itu terus mondar-mandir. Dia sudah menantikan kedatangan Irene sedari pagi-pagi sekali. Dia harus melakukan itu dikarenakan sejak insiden lapangan bola voli kemarin, Irene tidak mau bicara dengannya. Dia bahkan tidak mau menjawab telepon dan chatnya. Ricky benar-benar nelangsa. Menunggu di gerbang sekolah adalah cara terakhirnya.

Akhirnya yang ditunggu sudah memperlihatkan dirinya. Ricky–murid yang sedari tadi gelisah di depan gerbang sekolah itu langsung berlari mendekati Irene.

“Sayang, aku minta maaf ya. Kemarin itu aku bener-bener nggak sengaja.”

Irene rasanya ingin muntah ketika Ricky menyapanya dengan sebutan ‘sayang.’

“Iya, iya. Sudah kumaafkan,” kata Irene tanpa menghentikan langkah barang sebentarpun untuk melihat wajah Ricky yang masih dipenuhi rasa bersalah.

“Kamu beneran kan sudah maafin aku? Kenapa kemarin teleponku nggak diangkat?”

Mendengar pertanyaan itu Irene jadi murka.

“Kamu pikir aku nggak punya kehidupan lain selain angkat telepon kamu? Sorry, ya? Aku nggak suka cara kamu begini.”

Ricky jelas membelalak mendengar penuturan Irene yang ketus. Itu bukan Irene yang beberapa hari lalu mengatakan bahwa dia ingin dipacari olehnya.

“Aaahh–Maaf aku-tadi-cuma,”

Irene mendengus kesal, lantas melenggang meninggalkan Ricky yang semakin merasa bersalah.

Tak lama Irene berbalik, “Sorry, we have to call off this relationship!

“Hah?”

“Kita putus aja!”

“HAH?”

Irene tidak perlu menunggu persetujuan Ricky untuk melanjutkan perjalanannya ke kelas. Dia bahkan setengah berlari demi menghindari Ricky–meskipun nanti mereka akan bertemu di kelas, paling tidak saat itu, Irene tidak ingin menjelaskan banyak hal.

Lihat selengkapnya