The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #9

SEMBILAN

Hari-hari Davan di rumah Alia berangsur-angsur menjadi lebih santai. Di minggu pertama di sana, dia sudah mengantongi hati Oma. Sejak Oma mengetahui kemampuan masaknya lebih baik dari Alia, Oma jadi sering membicarakan berbagai menu dengannya. 

Alia belum tahu fakta ini. Bayangkan jika Alia–yang terobsesi bisa memasak menemukan bahwa orang yang dia benci bisa memasak, dia pasti tidak akan menjadi mudah kepada Davan. Tapi sepertinya Davan tidak keberatan dengan perilaku Alia yang tidak bersahabat. Baginya, mendapatkan Oma adalah hal yang lebih penting.

Karena lebih senang membantu Oma memasak dan berbelanja, Davan jadi lebih sering bolos sekolah. Dia bisa tiga kali tidak masuk dalam seminggu, dan hal itu membuat Pak Seno harus memanggilnya.

“Maaf, Pak. Oma saya di rumah sedang membutuhkan saja untuk mengantarnya,” katanya seraya menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya di balik badan.

“Kemarin laporannya kamu sakit. Sakit atau antar Oma kamu yang sakit?”

Davan menggigit bibir bawah, dia tidak mengatakan mengantar Oma sakit, hanya mengantar Oma.

“Setelah saya sakit, Oma juga jadi sakit, Pak. Maklum, sudah renta.”

“Hush!”

Davan menundukkan pandangan, “maaf, Pak.”

“Kamu kan anak baru, diharapkan untuk selalu masuk.”

“Baik, Pak.”

“Mengenai rambut kamu, ternyata kamu memang nggak cocok ya berambut hitam,” kata Pak Seno sambil menghentikan ketukan penggarisnya. Ada suara penuh penyesalan yang ditangkap Davan.

“Ng, bagaimana Pak?”

Pak Seno menghela napas berat. “Bapak baru saja dapat konfirmasi bahwa rambut merah kamu ternyata bawaan lahir,” tutupnya.

Davan terperangah, ternyata sia-sia dia mengecat rambutnya hingga berwarna senada dengan warna rambut kebanyakan murid.

“Tapi Pak, karena bapak tidak percaya, saya jadi mengecat rambut sungguhan. Jadi apakah saya tetap di hukum, Pak?”

“Kali ini tidak. Kalau rambut merahmu sudah tumbuh kembali, Bapak tidak akan mempermasalahkannya.”

Davan tidak tahu harus bagaimana bersikap. Dia harus senang atau kesal? Dia sudah menghabiskan banyak uang untuk pergi ke salon yang bersedia membuat rambutnya menjadi hitam sempurna. Namun sekarang hal itu tidak ada gunanya. Seharusnya dia tidak perlu membuang-buang uang.

“Ya sudah, kamu bisa keluar.”

Davan keluar dari ruang BP dengan langkah lemas. Selain karena penyesalan atas uang yang dia sia-siakan, kini dia ingin pulang ke rumah saja–maksudnya ke rumah Alia. Dia tidak suka berada di sekolah, karena semuanya terasa membosankan. Dia butuh teman, jelas. Dia belum begitu mengenal teman-teman sekelasnya–tentunya karena sering membolos. Yang lebih sering bertemu dengannya hanyalah Alia dan teman karibnya itu–Irene.

“Nah, itu mereka!”

Davan langsung mempercepat langkahnya begitu melihat Alia dan Irene berjalan beriringan menuju kantin. Berteman dengan dua siswi juga tidak buruk, pikirnya. Maka dia mengikuti Alia dan Irene yang mengantri di depan tenant mie ayam sembari mengobrol. Davan mengikuti, memesan satu mangkuk mie ayam juga, agar memiliki alasan tambahan untuk duduk dengan mereka berdua.

“Cari bangku lain aja, gih!” ketus Alia. Kedua matanya masih belum tampak bersahabat sama sekali.

“Alia, c’mon…! Mau sampai kapan kamu musuhi Davan kayak gitu?” Irene mendelik, lantas mempersilakan Davan duduk di sebelahnya.

“Tahu! Salah apa sih aku, Al? Kayanya benci banget.”

Alia nyaris batuk mendengarnya. Ditambah lagi tampang Davan yang sok polos, membuatnya ingin menancapkan garpu ke kulitnya yang bening itu.

“Nggak usah ditanya, Dav. Kamu tahu kan alasannya. That’s water under the bridge. Please, moving on!

Lihat selengkapnya