The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #10

SEPULUH

Sore hari ketika Alia baru mencari referensi resep memasak dari internet, dia turun ke dapur, berusaha membuat satu resep yang lebih mudah baginya. Tumis bayam. Selain karena dia saat ini jadi ingin makan bayam, dia juga ingin mencoba lagi memasak. Meski tidak lolos lomba memasak, dia harus tetap memasak. Dia harus lebih sering berlatih.

Setelah meletakkan ponselnya di meja dapur, Alia membuka kulkas, mencari bahan-bahan yang dia perlukan.

“Ada cabai merah, cabai rawit, bawang merah dan bawang putih juga ada,” ujarnya seraya mengeluarkan seluruh bahan itu dari dalam kulkas.

Setelah semua bahan tersedia di atas meja, Alia kembali memastikan tak ada bahan yang tertinggal. Walau dia sudah mulai lapar, dia harus sabar jika ingin masakannya kali ini zero mistake.

Ya ampun, ini kan cuma tumis, batin Alia yang langsung sadar bahwa dia mulai berlebihan.

Secepatnya Alia mulai mengiris cabai dan bawang-bawang. Setelahnya memanaskan teflon, dan mulai menumis cabai dan bawang. Bayam yang tersedia sudah dipotong dan dicuci oleh Oma sehingga dia tidak perlu melakukannya lagi.

Sambil memasak Alia memikirkan nasibnya yang sama sekali tidak bisa memasak menu lain selain tumisan. Seandainya kemarin, ketika audisi Let’s Cooking, tumisan bisa disertakan, mungkin dia akan memasak menu yang sederhana saja. Di lain sisi, dia juga pesimis kalau kemampuan memasaknya masih ada di level jongkok. Dia harus benar-benar mempertimbangkan saran Irene untuk mengikuti kursus masak. Dia bertekad akan membujuk mamanya kembali untuk itu.

Not bad!” katanya setelah mencicipi tumis bayam yang sudah matang.

Usai mematikan kompor, Alia mengambil sepiring nasi dan mulai menyantapnya dengan ayam balado bikinan Oma.

Baru menyuap dua sendok, terdengar langkah Oma masuk area dapur. Di sebelahnya ada Davan yang menenteng dua kantong belanjaan. Melihat adegan itu Alia jadi terperanjat. Dia spontan berdiri dari tempat duduknya. Masih dengan mulut yang penuh nasi dan tumis bayam, Alia menyatakan keberatannya.

“Kok Oma bisa sama itu orang?”

Alih-alih menjawab, Oma malah lanjut sibuk menyuruh Davan meletakkan barang-barang belanjaannya. Sementara Davan terlihat meledek dengan mimik wajah dibuat sedemikian rupa.

Tentu saja Alia jadi makin tidak senang.

“Oma. Sejak kapan Oma akrab dengan orang asing secepat ini?”

Oma mencebik sebelum akhirnya menjawab, “besok tuh ada weekly meeting klub buku, tempatnya di sini. Oma mau masak, jadi Oma ajak aja Rion buat bantuim Oma belanja.”

“Kenapa nggak ajak aku?”

Saat itu menjelaskan bahwa tadinya Oma juga mau ajak Alia, tapi Davan mengatakan kalau dengannya saja sudah cukup. Oma juga menambahkan bahwa dia tidak ingin mengganggu Alia masih meratapi kegagalannya masuk finalis lomba masak sekolah. Lagipula, Davan punya inisiatif untuk menemani, sehingga Oma lebih memilih mengajaknya daripada Alia.

“Oma, itu kan sudah 3 hari yang lalu,” jelas Alia merasa dikucilkan. Dia memang masih merana akan kegagalannya itu, tapi bukan berarti Oma bisa mengabaikannya demi si orang baru yang dia bahkan tidak suka.

“Oma tahu kenapa kamu jadi sebegini marah. Biasanya kamu juga nolak kalau Oma ajak belanja.”

“Jelas. Oma sekarang jadi sering belain dia. Yang cucunya Oma kan aku Oma. Oma harusnya nggak deket-deket sama dia seolah-olah dia cucu Oma.”

Raut wajah Oma tampak ketat. Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Siapapun itu akan Oma belain kalau sikap kamu seperti itu! Akhir-akhir ini kamu kelihatan nggak sopan, Oma nggak bisa biarin!” hardik Oma. 

Suasana menjadi sangat suram ketika suara Oma mulai meninggi dan jika sudah begitu Alia tidak berani membuka suaranya lagi. Dia melorot di bangkunya, menghindari pandangan sinis Oma, juga tidak mau melihat raut wajah Davan yang mungkin akan semakin meledek. Di atas meja, kedua tangannya mengepal. 

Hari itu seperti mimpi buruk bagi Alia. Dia tidak menemukan alasan lain selain membenci Davan.

***


Ketika Irene datang, dapur Alia sudah terlihat sangat sibuk. Irene bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi sehingga Oma dan Davan terlihat mondar-mandir, memasak berbagai jenis masakan. Itu bukan jenis masakan yang biasa untuk makan siang 3 orang–Tante Ratna tidak dihitung karena beliau ada di restoran.

Lihat selengkapnya