Pandangan Irene belum juga berhenti pada Alia yang masih saja mondar-mandir di depan tempat tidurnya. Sahabatnya itu terus meromet tentang Davan, mencurigai Davan begini dan begitu. Dari semua tuduhan-tuduhan itu tak ada satupun yang masuk akal bagi Irene, tapi dia tidak bisa menepisnya, karena Alia sedang kesal. Diam adalah cara terbaik agar tidak ikut kena semprot. Alia tidak boleh tahu kalau dia sejujurnya juga senang dengan kehadiran Davan. Anak laki-laki itu memang penuh kejutan. Tiba-tiba datang minta tempat tinggal, tiba-tiba jadi calon juara umum, tiba-tiba juga bisa masak. Irene tidak bisa bilang ke Alia kalau dia mulai kagum pada Davan. Dia senang berteman dengan anak laki-laki berambut jahe itu.
“Aku mencium gelagat aneh!” kata Alia dengan dengusan panjang.
Irene membuka mulut, ingin bertanya, tapi urung karena dia berasumsi Alia tidak perlu pertanyaan saat ini.
Benar saja, tanpa ditanya pun, Alia sudah langsung saja menjabarkan apa saja yang aneh.
“Sekarang, dia sering banget nempelin Oma. Itu jelas mencurigakan! Kamu tahu kan beberapa hari lalu dia bolos sekolah, katanya sakit, tapi ternyata dia bantuin Oma bikin Jum’at berkah.”
Alia juga menambahkan bahwa Oma jadi mulai membela Davan dan memuji kepiawaiannya dalam memasak. Alia juga tahu bahwa Davan juga terlibat di dapur saat pertemuan sore tadi.
Itu jelas membuat Alia iri dan merasa tersingkir. Tidak ada sedikitpun pemikiran positif, semua yang negatif begitu saja masuk di dalam benaknya.
“Jangan-jangan dia mau mengambil alih rumah ini dengan cara yang menjijikkan.”
“Apa misalnya?”
“Bikin Oma naksir sama dia.”
“Hah?”
Irene terpelongo di tempatnya. Dia sama sekali tidak memikirkan hal semengerikan itu.
“Iya! Kamu lihat sendiri kan gimana dia nempelin Oma terus hari ini? Itu jelas aneh. Mana ada sih anak SMA yang mau ngekorin Oma-Oma kalau dia nggak punya niat buruk?”
“Hah?”
“Aku nggak bisa biarin ini terus. Aku harus melakukan sesuatu. Dia harus segera pergi dari rumah ini, apapun caranya.”
Irene mengerjap-ngerjap, menyadari bahwa Alia jadi semakin jauh dari kata logis. Tapi dia tidak punya bahan untuk menantang argumen Alia, maka dia hanya akan mengalihkan fokus Alia.
“Sudahlah, Al. Ada yang lebih penting dari Davan sekarang.”
“Apa?” kening Alia berkerut. Seharian mengurung diri di kamar dia jadi ketinggalan banyak informasi.
“Kamu tahu kan anaknya Om Herman yang tinggal di depan rumahku?”
Alia mengangguk-angguk, kedua matanya tampak memancarkan ketertarikan.
“Adit, kan?”
Kini giliran Irene yang mengangguk. Senyumnya sumringah ketika Alia menyebutkan nama Adit.
“Sekarang ini dia sedang dalam pelatihan untuk jadi Atlet Olimpiade Daya Ingat,” jelas Irene mencoba menjelaskan lebih detail.
“Berita baik untuk sekolah, kan? Untukku apa?”
“Om Herman bakal minta Adit melatihmu juga. Itu akan berguna untukmu dalam hal memasak–”
“Tunggu dulu!” potong Alia. “Maksudnya gimana? Om Herman ngira aku pikun dini?”
Sebelum menjelaskan Irene menarik napas dalam, dia sedang berusaha memilih kata-kata yang tepat agar Alia tidak naik darah.
“Bukan begitu, Al. Maksud Om Herman itu baik. Selain kursus memasak, kamu juga harus mendapat pelatihan dalam hal daya ingat supaya bisa fokus. Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu sering lupa udah masukin garam apa belum tiap masak.”
Alia tidak bisa mangkir.
“Bayangin Al, kamu bisa masak masakan yang sempurna, dengan begitu Mama kamu nggak akan anggap kamu nggak bisa masak.”
Alia terpaku di tempatnya.
“Ingat, Al. Restoran Nusantara butuh pewaris, dan siapa lagi kalau bukan kamu? Masa pewaris restonggak bisa masak.”
Kini giliran Alia yang tidak bisa berkata-kata, apa yang disebutkan Irene barusan tidak ada yang salah satupun. Dia harus membuktikan kepada mamanya kalau dia bisa masak dan menjadi penerus di Restoran Nusantara.
“Kamu setuju?”
Alia ragu. Dia jadi ingat bagaimana cara Adit berbicara ketika di ruang BP, juga desas-desus yang bergulir di sekolah.
“Tapi kamu tahu kan Adit itu kayak apa? Dia itu sombong, kaku, omongannya kasar.”
Irene menggaruk pelipisnya. Alia benar. Adit memang orang yang seperti itu. Tapi dari sana dia mendapat sebuah ide cemerlang, seenggaknya baginya.