Sejak berada dalam pelatihan Pak Yudha, jadwal Adit jadi semakin sibuk. Sekolah telah menetapkan bahwa pelatihan dilakukan tiga kali dalam seminggu supaya Adit tidak harus mengorbankan pelajarannya. Namun, tetap saja, Adit tidak memiliki banyak waktu untuk berleha-leha.
Bel istirahat sudah berbunyi sejak 5 menit lalu, tapi Adit belum ingin beranjak dari tempat duduknya. Sampai akhirnya satu-persatu teman sekelasnya keluar, Adit masih duduk sambil memandangi kertas kosong di depannya. Dia sedang mengatur ulang jadwalnya seminggu ke depan. Dia perlu memasukkan jadwal tambahan dimana dia harus membimbing seseorang untuk melatih daya ingatnya.
Jarinya terhenti ketika akan menuliskan nama calon muridnya itu. Seandainya ayahnya tidak memohon, mungkin dia tidak akan memperdulikannya, apalagi jika orang itu dekat dengan Irene.
Setelah berpikir lama dia akhirnya menuliskan ‘project A’ dua kali di antara jadwalnya minggu ini. Helaan napas berat terdengar kemudian.
“Dit, Pak Krisna minta you ke kantor Kepsek!” salah seorang murid perempuan setengah berteriak dari pintu kelas.
Adit mendongak dan langsung bertanya, “Sekarang?”
Teman sekelasnya itu mengangguk kemudian pergi begitu saja. Bahkan dia tidak mau tahu apakah Adit bisa atau tidak?
Setelah mengecek jam tangannya, dia merasa masih punya banyak waktu untuk makan siang. Dia tahu, jika Pak Krisna yang memanggil sudah pasti keperluannya terkait Olimpiade Daya Ingat. Maka dari itu dia mengambil amplop kuning besar dalam tas dan langsung membawanya.
Ketika dia tiba di depan ruang kepala sekolah, pintunya tidak tertutup rapat. Ada sedikit celah dan dia bisa mendengar jelas suara yang sedang berbicara di dalam.
Alih-alih mengetuk pintu dan masuk, Adit memutuskan untuk menunggu. Dia berdiri bersandar di dinding sebelah pintu. Mau tidak mau dia pun bisa mendengar isi pembicaraan Pak Krisna dan Kepala Sekolah.
“Nggak bisa, Pak. Anak baru itu tidak bisa ikut lomba Cerdas Cermat.”
“Boleh saya tahu alasannya, Pak?”
“Saya rasa ada murid lain selain dia.”
“Saya sudah menilai Davan beberapa minggu dan melihat dia sebagai satu-satunya kandidat yang cocok menggantikan, Adit.”
“Saya nggak bisa bicarakan alasannya, Pak. Yang jelas murid bernama Davan itu tidak bisa ikut LCC. Saya bisa beri approval buat murid yang lain, tapi dia tidak”
Setelah penegasan dari kepala sekolah, Pak Krisna tidak terdengar membantah. Adit yakin Pak Krisna sangat kecewa. Selama ini penilaian Pak Krisna tentang murid mana yang lebih berkompeten untuk perwakilan sekolah tidak pernah ditentang Kepala Sekolah. Semua orang di sekolah tahu kalau Pak Krisna adalah guru kepercayaan Kepala Sekolah. Tapi kali ini Pak Panji jelas menolak tanpa alasan yang jelas. Itu jelas mencurigakan, setidaknya bagi Adit.
“Lagipula masih ada waktu, kok. Saya yakin ada kandidat lain. Murid kelas sepuluh kan banyak. Minta wali kelas memberikan nama calon kandidat.”
Tidak ada jawaban dari Pak Krisna.
“Saya harap Bapak bisa temukan murid lain,” tutup Pak Panji yang dibalas oleh Pak Krisna dengan kata kesanggupan.
Barulah Adit beranjak, mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk dengan amplop besar di tangannya.
“Permisi, Pak. Saya sudah terima pesan dari Winda. Saya pikir dokumen-dokumen ini yang Bapak perlukan.” Adit menyodorkan amplop kepada Pak Krisna, disaksikan Kepala Sekolah yang wajahnya tampak sumringah melihat kedatangannya.
“Baik, Dit. Terima kasih.”
“Bagaimana pelatihan mu, Nak? Apakah memusingkan?” tanya Kepala Sekolah.
“Sejauh ini berjalan lancar, Pak. Saya juga mendapatkan beberapa buku tambahan dari Pak Yudha untuk dipelajari. Juga beberapa video koleksi pribadinya untuk saya kulik juga.”
Kepala Sekolah dan Pak Krisna tampak kompak mengangguk-angguk. Setelahnya Pak Krisna menjelaskan kembali bahwa dokumen-dokumen yang dibawa Adit tadi adalah dokumen untuk mendaftar Olimpiade Daya Ingat. Jika ada kekurangan Pak Krisna berkata bahwa dia akan memberi kabar kembali kepada Adit.
Adit hanya mengangguk, lalu mengecek jam tangannya. “Boleh saya pamit, Pak? Jam istirahat sebentar lagi habis,” jelasnya.
Setelah diizinkan pergi oleh Kepala Sekolah dan Pak Krisna, Adit pun berbalik dan berjalan keluar. Tapi satu yang tertinggal di dalam benaknya, tentang alasan Kepala Sekolah melarang murid baru itu menjadi peserta Lomba Cerdas Cermat.
**
Irene dengan cepat menyodorkan kantong kertas berisi beberapa croissant di tangan Alia. Tidak hanya itu, Irene terus memprovokasi untuk berani memasuki kelas Adit. Dia bahkan mendorong-dorong Alia untuk masuk kelas.
“Buruan, Al. Lima menit lagi istirahat selesai. Kamu mau dilihat lebih banyak orang?”
Alia mencebik, ingin menolak tapi dia tidak punya alasan yang kuat. Pada akhirnya dia pun berdiri di ambang pintu, mencari-cari keberadaan Adit.