The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #13

TIGA BELAS

Ada dua kaki yang terhenti di plang besar bertuliskan Restoran Nusantara di pintu masuk. Kepalanya mendongak, pandangannya masih belum teralihkan meski beberapa orang melewatinya. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang keluar masuk dari pintu besar itu. Davan hanya ingin memandangi plang itu dengan rasa haru dan rindu.

“Rion? Ngapain di situ? Sini, udah ditungguin dari tadi loh.”

Davan tersentak. Semua bayangan dalam benaknya dia mengabur entah kemana. Wajahnya refleks mengerling pada suara yang dikenalnya. Dia memberikan senyum terbaiknya sembari mengkonfirmasi tujuannya, “Hi, Tan. Aku disuruh Oma buat ke sini.”

Tante Ratna mengangguk-angguk dan berkata, “Sepertinya sekarang Oma lebih percaya sama kamu ya daripada Alia?”

Davan tersenyum sumringah. “Alia lagi main sama Irene, Tan. Willy nilly, cuma aku yang bisa menolong Oma.”

Mendengar laporan Davan, Tante Ratna terlihat menghembuskan napas. Di dalam hatinya dia sudah terbiasa dengan tabiat putri semata wayangnya itu. Sehingga apa yang disampaikan Davan barusan bukan hal yang mengejutkan lagi.

“Oh ya kalau begitu, sini masuk. Ada yang mau tante titipkan.”

Sambil berjalan menuju ruang Tante Ratna, Davan diberitahu bahwa barang yang ingin dititipkan adalah obat darah tinggi Oma. Sebetulnya Oma sudah membuat laporan beberapa waktu lalu kepada Tante Ratna, namun karena kesibukan-nya, obat itupun selalu tertinggal di ruangannya. Dia tidak bisa mengirimkan obat itu dengan pengiriman instan karena terlalu ribet untuk mengkonfirmasi pemesanan, sementara obat Oma sudah nihil.

“Kalau tadi nggak ada siapa-siapa ya terpaksa harus pake jasa pengiriman ojol.”

Davan melepaskan raut wajah ketat. Kentara sekali bahwa dia tidak menyukai gagasan itu.

“Sekarang kan udah ada Rion, jadi Tante maupun Oma bisa suruh Rion semaunya.”

Kedua mata Tante Ratna mengeluarkan binar, dia tampak tak akan protes. “Bagaimana kalau kamu yang mentori Alia?”

“Aduh, kalau soal Alia kasih waktu Rion setahun atau dua tahun ya, Tan,” katanya dengan tawa kecil.

“Kenapa?” tanya Tante Ratna dengan suara tawa lebar, keningnya sampai berkerut-kerut ketika mendengar penjelasan Davan barusan.

“Alia itu beda banget sama Tante. Oma sama Tante tuh magnanimous! Sementara Alia… sudah hampir sebulan Rion numpang tapi dia masih aja jutek.”

“Memangnya kamu nggak tahu kalau dia jealous sama kamu?”

Jealous?

Alih-alih menjawab, Tante Ratna malah menumpukan kedua tangan di pinggangnya. Dia memberi tatapan kepada Davan–masa kamu nggak tahu kalau Alia jealous sama kemampuan masak kamu. Sesaat setelahnya barulah Davan ber-oh ria.

“Ya, gimana ya Tan. Kemampuan masak ini sudah turun temurun sih,” kata Davan dengan senyumnya yang sumringah.

Sembari terus membuka mulutnya yang lebar, Davan meneliti raut wajah Tante Ratna ketika mendengarnya. Tante Ratna hanya membalas ucapannya dengan anggukan kepala, ekspresinya datar, dan langsung melepaskan kontak mata darinya. Dia pun tampak sibuk mengubek-ubek isi laci mejanya.

“By the way, Tan, Resto ini keren sekali. Unik. I spotted how many cultures here.”

Barulah Tante Ratna mendongak dan menatapnya dengan senyum bangga.

“Semua ini berkat ayahnya Alia. Dia yang punya ide briliant ini.”

“Oh, ya. Papanya Alia arsitek kah, Tan?”

“Yes, he is.”

Davan membuka mulutnya lebar, sebagai ungkapan rasa takjubnya. “Filosopinya apa, Tan?”

Tante Ratna kemudian menceritakan bagaimana awal mula Resto Nusantara berdiri. Itu awalnya hanya sebuah resto kecil dengan masakan khas jawa di dalamnya. Dikelola oleh Oma Ratih dan Tante Ratna setelah Opa meninggal. Namun, ketika Tante Ratna menikah, suaminya memberikan ide untuk me-rebranding restoran mereka. Restoran itu bukan lagi restoran dengan masakan-masakan khas jawa, melainkan lebih kaya budaya dari Nusantara. Oma yang masa mudanya dihabiskan di Medan sebelum menikah, menyumbang menu-menu khas Sumatera Utara yang khas akan rempah. Lalu mereka sama-sama belajar untuk memasak menu-menu khas daerah lain. 

Lihat selengkapnya