The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #14

EMPAT BELAS

Setelah memberikan belanjaan ayahnya, Adit kembali ke kamar dengan wajahnya yang superketat. Dia berkata pada ayahnya bahwa dia punya banyak tugas yang harus dikerjakan sehingga tidak bisa diganggu. Namun yang terjadi sebenarnya, Adit meluapkan amarahnya di dalam kamar.

Dia membanting tasnya begitu saja. Sembari memegangi dadanya yang semakin berdegup tak keruan, dia terus mondar-mandir di depan kasur. Napasnya tak beraturan, seolah dia habis lari marathon. Kedua tangannya kini gemetaran, dia semakin bingung karena tak bisa menghalau bayangan yang telah lama ingin dia lupakan. Adit berusaha memejamkan kedua matanya, namun bayangan itu semakin jelas. Dia membuka mata dan bayangan itu pun belum juga hilang.

Jangan pergi... Jangan kemana-mana... Di sini aja sama Adit... Ma... Ma... Jangan pergi... Mama!

Adit masih berusia 11 tahun ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang mama pergi dengan koper besarnya. Hari itu tidak mendung, bahkan cuaca Jakarta sedang cerah-cerahnya tapi yang terjadi hari itu seperti serangan badai.

“Dit, itu mama kamu kan?” suara Irene terdengar cerah.

Mendengar apa yang disampaikan Irene dari tepi balkon, Adit dengan ceria dan terburu-buru bergabung dengan Irene. Dari balkon rumah Irene, Adit bisa melihat mamanya berjalan ke dalam rumah. Ada mobil yang terparkir di depan rumah mereka sekarang.

“Akhirnya mama pulang. Aku pulang dulu ya, Ren. Nanti bikin PR-nya kita lanjutkan lagi.”

Bocah laki-laki itu kemudian berlari untuk menghampiri mamanya yang baru pulang setelah lama pergi entah kemana. Tidak ada pemberitahuan, ayahnya juga tidak memberitakan apa-apa tentang keabsenan mamanya selama seminggu ini. Tidak ada telepon masuk, ponsel ibunya juga tidak bisa dihubungi. Hari itu Adit ingin menumpahkan rasa rindunya hingga rela mengabaikan sahabat baiknya, Irene.

Alih-alih mendapatkan kesenangan setelah lama tak bertemu, Adit malah semakin bingung. Dia melihat ibunya membawa koper besar dari dalam kamar dan pergi tanpa menghiraukan dirinya. Sang ayah hanya duduk di ruang tamu, tidak ada perkataan apapun, yang terjadi hanyalah kebisuan.

“Mama mau kemana? Mama kan baru pulang, kok mau pergi lagi?” Adit mengikuti mamanya sampai ke teras rumah. 

“Jangan pergi... Jangan kemana-mana... Di sini aja sama Adit... Ma... Ma... Jangan pergi... Mama!”

Adit bahkan memegangi tangan mamanya, namun tangan itu dilepaskan.

“Sayang, Mama lagi sibuk. Kamu sama Ayah ya…!”

Tangan wanita yang dipanggil Mama itu terlepas. Kaki-kakinya yang mengenakan stiletto merah berlari dan terus berlari demi menghindari rengekan sang putra. Sementara Adit terus berlari mengejar, seorang pria keluar dari mobil dan membukakan pintu bagasi. Adit melihat bagaimana mama dan pria asing itu buru-buru masuk mobil dan meninggalkan Adit di depan rumah tanpa sepatah katapun. Adit tidak tahu kenapa mamanya pergi lagi. Dia menangis sambil melihat mobil Alphard yang dikendarai pria asing–dengan mamanya duduk di sampingnya, melaju menjauh.

“Mama…!” Adit berteriak, dia bahkan berlari, tapi kakinya tidak bisa jauh karena sosok besar meraih dan memeluknya.

"Adit... Yuk masuk, Nak..."

Bocah itu berbalik dan membenamkan kepalanya di perut sang ayah, menangis sejadi-jadinya dan belum berhenti memanggil mamanya.

"Yah, Mama marah ya sama Adit? Kok Mama nggak bilang mau pergi kemana? Mama nggak akan pergi jauh, kan?" suaranya nyaris tidak jelas oleh suara raungan yang teredam oleh isak tangisnya.

"Ayah... Mama pasti pulang, kan?"

"Maafin ayah ya, Dit. Maafin Ayah…!" pria itu mengangkat tubuh kecil Adit dan memeluknya.

Pria yang masih menatap nanar ujung jalanan tersebut tidak punya jawaban. Bahkan satu kalimat pun. Ia hanya bisa mengusap kepala putra semata wayangnya sembari berharap Adit akan segera tenang.

“Nggak! Nggak! Nggak! Jangan lagi! Jangan!” Adit meremas rambutnya, berharap dengan begitu dia bisa melupakan kejadian yang tidak pernah dia inginkan ada dalam hidupnya.

Adit mengambil tasnya, mencari earphone dan ponsel, dia tidak tahan lagi. Dia tidak mau mimpi buruk itu datang lagi.

Bersamaan dengan itu, ayah Adit membuka pintu dan terbelalak melihat keadaan Adit yang seperti hilang arah. Tak butuh waktu lama bagi pria paruh baya itu untuk mengetahui situasinya. Tanpa bertanya-tanya, Herman mendekati Adit–yang tengah sibuk menggulir ponsel untuk mencari lagu yang biasa dia dengarkan, untuk segera memeluknya.

“Adit, ada ayah di sini. Ayah nggak kemana-mana. Ada Ayah. Ayah nggak akan ninggalin kamu.”

Barulah Adit melepaskan kedua benda dari tangannya, terjatuh di lantai hingga menimbulkan suara krak.

Herman mengusap punggung Adit–yang kemudian terdengar terisak. Dia tidak berkata-kata, dia hanya menangis sambil memeluk ayahnya.

“Nggak apa-apa, Dit. Ayo luapkan semuanya. Luruhkan semuanya. Ayah tungguin.”

Meskipun begitu, pikiran Herman terus melalang-buana, bertanya-tanya kenapa Adit merasa seburuk ini? Apa yang memicu kondisi ini kembali setelah sekian lama?

“Dua tahun ini kita sudah melihat bagaimana Adit. Kabar baiknya, dia tidak memiliki gangguan kecemasan ekstrem, dia masih bisa beraktifitas seperti biasa, tapi tetap harus selalu dipantau ya, Pak.”

Lihat selengkapnya