Malam setelah kejadian Irel hilang, Alia sudah tidak punya harapan lagi. Sepanjang hari esoknya, dia hanya murung. Dia mencoba menghibur dirinya dengan cara menonton video-video memasak atau curhat dengan AI tentang hobi apa yang kemungkinan bisa dia lakukan selain memasak. AI–tentunya dengan jawaban yang sangat template menyarankan Alia untuk mengeksplorasi berbagai macam kegiatan yang mungkin menarik minatnya. Sayangnya, dia pun tak tahu minatnya apa. Alia merasa sedang mengalami krisis identitas.
Irene tidak punya ide untuk menghibur Alia, selain membiarkannya sendirian Dia pun sibuk dengan ketua Klub Buku di perpustakaan. Dia dengan maksud dan tujuan agar tak dikeluarkan dari klub buku sekolah, membujuk Darren dengan cerita-cerita bohongnya.
“Sebenernya, Dar, aku tuh lebih suka baca buku sendiri. Aku nggak bisa kalau harus disuruh menceritakan kembali isi buku yang sudah kubaca. Itulah kenapa sering absen di klub ini.”
“Ya nggak bisa gitu dong, Ren. Gunanya klub ini ada tuh untuk sharing.”
Irene memutar isi kepalanya, ingin terus mengatakan kebohongan demi status keanggotaannya.
“Ng.. Gini… Jujur aku tuh lebih nyaman dengan klub buku di kompleksku daripada di sini. Kita tuh berkomunitas tapi nggak saling judgment. Kami di sana cuma baca bareng, nggak ada kewajiban sharing. Kamu tahu siapa anggota klub buku di kompleksku? Ibu-ibu dan Bapak-bapak. You know, mereka bisa lebih menghidupkan komunitas buku daripada, ehm, klub buku ini.”
Mendengar rentetan kalimat Irene, bukannya melunak, Darren malah tampak murka.
“Jadi fix mau out?”
Melihat wajah Darren yang memerah, Irene refleks menggigit lidah. Dia menyesali ucapannya ini. Tampaknya dia butuh tim PR.
“Eh! Bukan gitu Dar. Sorry, aku nggak bermaksud.” Irene menarik tangan Darren, mengusap punggung tangannya agar Darren bisa lebih tenang.
Irene menggunakan taktik itu seperti yang pernah dia dengar dari ayahnya, katanya itu cukup manjur untuk menenangkan orang yang sedang marah. Rupanya, itu pun berhasil untuk Darren. Ketua klub buku itu terdengar mengembuskan napas pelan.
“Tolong lah, Dar…! Kalau nggak kamu siapa lagi yang mau tolongin?”
“Ada syarat.”
Irene was-was, takut syaratnya cukup memberatkannya. Tapi dia harus bertanya tentang syaratnya agar dapat meneruskan keanggotaan di klub buku, dengan begitu nilai ekstrakulikulernya tidak akan jeblok.
“Kamu harus bikin isi rubrik review buku di website sekolah.”
Mata Irene melebar. Bagaimana dia bisa menulis review buku sementara dia tidak pernah membaca buku lebih dari 10 halaman.
“A-a, aku harus apa?”
“Ya kalau keberatan, mending cari ekskul lain aja.”
Irene mengerjap-ngerjap, mencari ekskul lain di pertengahan semester genap?
“Oke, oke. Aku bisa.”
“Minggu depan harus sudah ada minimal 3 buku yang sudah tayang.”
Irene lebih kaget lagi. 3 buku? Dalam seminggu? Tapi dia cepat sadar bahwa dia tidak boleh membuat alasan apapun, dia harus membuat Darren tetap menjadikannya anggota klub.
Dengan kedua kaki yang lemas, Irene kembali ke kelas dan duduk di samping Alia yang masih sibuk menggulir layar ponselnya. Jam istirahat sebentar lagi selesai, dia juga menelengkan kepala ke sisi meja. Dia menghembuskan napas berulang kali.
Tak lama, dari sisi meja, Irene bisa melihat langkah kaki yang masuk dari pintu dan berhenti di depan mejanya. Dia spontan mengangkat kepala dan jadi semakin kaget ketika melihat siapa yang ada di depannya.
“A-adit?!”
Alia yang semula fokus pada ponsel kini ikut melihat ke arah yang sama. Benar saja, Adit ada di depan meja mereka–dengan wajah khasnya yang kaku.
Berbeda dengan Irene yang melihat kedatangan Adit seperti melihat hantu, Alia malah membeku. Kedua matanya melebar dan tangannya yang memegang ponsel bergetar. Bayangan malam kemarin lah kontributor respon Alia saat itu.
“Ini jadwal pelatihan dan baca apa saja yang harus disiapkan!”
Setelah menyodorkan selembar kertas, Adit berlalu begitu saja. Meninggalkan dua orang siswi yang belum juga selesai mengerjapkan mata.