The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #16

ENAM BELAS

Untuk menghibur hati Irene yang sedang karena Adit, Davan berinisiatif untuk membuatkan pasta. Oleh karenanya dia turun ke dapur dan membiarkan Irene bersungut-sungut di balkon.

Ketika turun ke dapur, Davan melewati Alia yang sibuk membaca novel sementara Adit sedang mencoret-coret papan putih di hadapannya. Dia sudah berusaha memelankan langkah kakinya agar tidak mengganggu Alia sama sekali. Setelah berhasil masuk dapur tanpa membuat keributan, Davan membuka kulkas dan melihat apakah ada bahan yang dibutuhkan untuk membuat pasta? Ternyata apa yang dia inginkan, tersedia semua. Penuh senyum, Davan mulai memasak. Baru setelah selesai membuat bumbu halus, Adit masuk dapur, mengamati setiap gerakan Davan sembari menuangkan air ke dalam gelasnya yang kosong.

“Hai, Dit. Butuh sesuatu?” tanyanya dengan pandangan sekilas.

Adit tidak langsung menjawab, dia malah berdeham. “No, thanks.”

“Oke. Doyan Pasta, nggak? Ntar dianter deh ke sana,” kata Davan seraya menunjuk ruang tamu dengan dagunya.

Setelah menghabiskan air di dalam gelasnya, Adit belum beranjak dari dapur. Dia masih punya pertanyaan yang masih belum bisa dipertanyakan karena segan. Dia takut memberi kesan terlalu ikut campur dan ingin tahu urusan rumah orang.

Ketika spaghetti sudah berada di dalam panci, Davan bersandar pada wastafel sembari memegangi food tongs.

“Kalau butuh sesuatu bilang aja, nanti kubantu cari.” Davan masih berusaha membuat Adit merasa nyaman.

“Mmm, so you are my neighbor?” akhirnya pertanyaan itu tersampaikan juga.

Mendengar pertanyaan Adit, Davan baru menyadari ada yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh Adit. Maka dia secara perlahan menutup kedua mulutnya yang menganga. Alih-alih menjawab, dia malah berbalik, menghadap panci yang belum menunjukkan kabar baik, demi menyembunyikan dua matanya ikut melebar.

I’ve never seen you before.”

“Oh.” Davan menelan ludah. Bagaimana dia bisa menjawabnya. Tapi daripada membuat Adit terus penasaran maka menjawab dengan asal. “Sepupu. Tapi please, jangan sampai satu sekolahan tahu, kalau nggak Alia bakalan murka.”

Adit tidak merespon permintaan davan barusan dengan gestur apapun, dia malah mengisi gelasnya dan kembali ke ruang tamu, tempat dimana Alia sedang tenggelam dalam bacaannya.

Di luar dugaan, Alia terlihat mengantuk di sofanya. Hal itu membuat Adit kesal. Dia mendekati Alia dan berusaha membangunkannya. Alia tentu jadi terkesiap, dia belum sepenuhnya tertidur, tetapi kedua matanya sudah tertutup rapat. Jika Adit tidak mendekat, mungkin novel itu akan memberi kesan bahwa Alia sedang membaca.

“Aduh, maaf sekali,” ujar Alia langsung duduk tegak di tempatnya.

Adit melipat kedua tangan di dada, lantas menyuruh Alia untuk mencuci mukanya supaya tidak mengantuk lagi. Gadis itu menurut tanpa bantahan. Dia pergi meninggalkan ruang tamu, melewati Davan yang sedang memainkan sendok dan garpu pada pasta, lalu melengos ke wastafel di depan toilet.

Sembari mencuci wajah, Alia memperhatikan gerak-gerik Davan dari cermin di wastafel. Dia membasuh wajahnya beberapa kali. Pada kali terakhir dia seolah baru mengingat sesuatu. Alia cepat-cepat mengeringkan wajahnya dan menghampiri Davan dengan langkahnya yang gontai.

Sambil berbisik ‘Ssttt’, Alia melihat ke arah ruang tamu. “Kenapa kamu di sini? Gimana kalau Adit mengenalimu.”

Davan menumpukan sendok dan garpu yang dia pegang ke atas piring pasta lalu mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “I can’t handle that! Lagi pula, lambat laun dia pasti juga tahu, kok. Because I’m not a ghost, he will see me hereAnd I’m sure he wasn’t a kind of blabbermouth.

Alia tidak bisa ditenangkan dengan kalimat-kalimat Davan barusan. Itu ditandai dengan kedua matanya yang semakin melotot. Davan menghela napas berat.

“Kamu kan bisa aja bilang aku ini ngekos, atau misal, sepupu…! Iya, kenapa enggak?”

Lihat selengkapnya