The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #17

TUJUH BELAS

Setelah melakukan observasi, rupanya Adit tidak memberikan catatan untuk Alia semata, melainkan juga pada penghuni rumah yang cukup dipercaya, yakni Oma. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Alia dibangunkan saat azan subuh berkumandang. Bukan hanya untuk ibadah, tapi juga untuk olahraga subuh. Sebelum berangkat, Alia diharuskan jogging di sekitar kompleks. Alia tentu merasa keberatan–pada awalnya, tapi akhirnya dia merasa tidak punya pilihan. Dia sudah mendengarkan alasan kenapa semua itu harus dilakukan. Oleh karenanya, dia tidak mau membantah sedikitpun.

Awalnya, Oma yang bertugas memantau Alia lari subuh, namun di hari kedua Oma merasa enggan, maka beliau mendelegasikan tugasnya itu pada Davan. Bagi Oma, orang yang paling cocok jadi pengawas Alia adalah Davan. Selain karena Davan teman sekelas Adit–yang memungkinkan keduanya berdiskusi untuk membantu Alia, Davan juga perlu mendekatkan diri agar bisa membantu Alia dalam memasak.

Ratna sudah mengatakan pada Oma bahwa Alia harus belajar memasak dari Davan. Untuk apa mencari guru masak lain jika ada orang yang dengan senang hati membantu Alia meningkatkan kemampuan memasaknya.

“Ayo, sepuluh menit lagi.” Sambil berlari-lari kecil, Davan berteriak di belakang Alia.

Alia sudah tampak kelelahan, padahal dia baru lari dua putaran. Pagi itu adalah hari keduanya dan Alia sudah mengeluh kakinya sakit.

“Kamu pasti nggak melakukan pemanasan dengan benar.” Davan terus berkomentar.

“Aku ngantuk, mana bisa sih fokus pemanasan. Kakiku juga sakit. Katanya kalau sakit nggak boleh maksa.”

Alia terus bicara walau napasnya tersengal-sengal.

“Ya sudah kalau begitu, berhenti aja dulu. Nanti lanjut lagi.”

Mendengar kalimat itu, Alia memelankan langkahnya. Bersamaan dengan susulan Davan, Alia berlari semakin pelan hingga akhirnya berhenti di depan satu rumah–entah milik siapa. Dengan napas yang putus-putus, Alia duduk selonjoran di aspal, di sanalah Davan menghentikan langkahnya. Dia berdiri sambil melihat stopwatch di handphone, lalu menjedanya.

“Ini hari kedua, jadi wajar kalau kakimu sakit. Apa kemarin sudah dipijat atau dikompres es?”

Alia menggeleng. “Nggak sempat!” jawabnya cepat, bukan karena sedang sensi, tapi lebih kepada sedang mengupayakan napas normal.

Davan berjongkok di depan kedua kaki Alia dan melihat lebam di beberapa titik. 

If you don’t mind, I can help…” ujar Davan mengangkat tangan, memberi gesture memijat. 

What? You wanna touch me?” Alia membuat gesture menjauh.

Just for help, if you don’t mind.”

Alia menyipit, berusaha menelisik niat Davan dari raut wajahnya. Namun karena rasa nyeri yang menggerogoti, dia akhirnya melunak. Dia membiarkan Davan memijat kakinya. Sesaat setelah pijatan itu, Alia berteriak pelan, tentu karena rasa nyeri yang semakin menyala. Davan berusaha membuat pijatannya sepelan mungkin sehingga tidak membuat Alia semakin kesakitan.

“Okay, cukup.” Alia bukan tidak bisa menahan efek pijatan lebih lama, dia hanya sungkan dengan Davan. Maka dia memilih untuk menarik kedua kakinya.

“Aku bisa bilang lari hari ini cukup baik ke Adit.”

Bantuan kedua itu membuat Alia semakin sungkan, maka dia memilih untuk melarang Davan berbohong. Alia yang akan bilang sendiri kepada Adit bahwa hari keduanya gagal karena kakinya mengalami nyeri.

“Tapi jika kamu nggak keberatan, kamu bisa bantu membuat video memasak.” suara Alia begitu pelan karena sungkan yang belum ada habisnya.

Davan berusaha keras menutupi antusiasnya. Ini dia! Akhirnya Alia terlihat–tidak punya pilihan lain selain meminta bantuannya. Davan melihat titik balik sikap Alia ini akan menjadi sebuah awal baru dari apa yang sudah dia jalani sebelumnya.

Lihat selengkapnya