“Selamat, Adit. Kamu lolos menjadi peserta Olimpiade Daya Ingat. Bapak harap kamu bisa membuat sekolah ini bangga,” ujar Pak Panji yang menjabat tangan Adit.
Disaksikan Pak Krisna, dan Pak Yudha, siang itu Adit resmi menjadi peserta Olimpiade Daya ingat yang akan diselenggarakan pada akhir ajaran baru, tepatnya pada saat libur sekolah.
Setelah Pak Panji melepaskan tangannya, Adit dan Pak Krisna dipersilakan duduk. Siang itu, Kepala Sekolah sedang ingin menjamu Pak Krisna, Pak Yudha, serta Adit makan siang. Bisa dibilang juga sebagai traktiran untuk keberhasilan mereka masuk ke Olimpiade Daya Ingat. Tadinya Adit enggan untuk ikut karena dia punya tugas lain, yakni mengecek video yang diberikan Alia padanya, namun Pak Krisna memaksanya. Sehingga dia tidak bisa menolak.
“Sudah sampai mana perkembangan Adit dalam pelatihannya, Pak?” tanya Pak Panji sembari menyantap masakannya. Tapi sebelum Pak Yudha menjawab, Pak Panji sudah mengajukan pertanyaan lain kepada Adit.
“Kalau Adit, apa ada hal yang paling sulit kamu hafal?”
Adit menelan kunyahannya sebelum menjawab pertanyaan Pak Panji. Dia menjawab bahwa dia memiliki kesulitan dalam berpikir out of the box. Dia mengakui daya imajinasinya sangat lambat ketika harus bermain kata-kata.
“Nggak apa-apa, Dit. Kamu akan terbiasa nantinya,” kata Pak Krisna berusaha menenangkan.
“Improvisasi dan Imajinasi bukan hal yang sulit kok, Dit. Karena selama ini kamu terbiasa taat pada aturan, sehingga dua hal tadi masih baru bagimu. Nggak apa-apa, nanti kita giatkan lagi bagian yang itu.” Pak Yudha menambahkan.
“Jadi nggak salah ya kita pilih Adit dalam kompetisi ini?” Pak Panji memastikan kembali.
“Jelas nggak, Pak. Adit pilihan yang paling tepat.”
“Tapi, Dit. Kamu jangan jadikan ini tekanan ya. Kamu fokus saja pada pelatihan dan do your best. Kamu nggak harus bawa pulang juara 1, tapi yang paling penting kamu sportif dan jujur. Itu selaras dengan motto sekolah kita.”
“Baik, Pak. Saya akan lakukan semampu saya. Olimpiade ini baru bagi saya, jadi saya benar-benar tertantang.”
“Lebih menantang dari LCC, ya, Dit?” Pak Panji sambil tertawa-tawa bangga.
“Oh ya, Pak. Kebetulan sekali. Ada yang ingin saya sampaikan mengenai kandidat baru untuk LCC tahun ini.”
“Ah, Pak Krisna tahu saja cara merusak suasana.” Pak Panji kembali pada mode seriusnya. Menyinggung soal LCC berarti harus mempersiapkan argumen tentang penolakan sebelumnya.
“Bagaimana jika Kamil, teman sebangku Adit.”
“Ah, kalau menurut Pak Krisna oke, saya sih hanya bisa mendukung ya Pak. Yang selama ini dekat dengan siswa-siswi kita kan Pak Krisna.”
Pak Krisna mengernyit. Dia agak kaget mendengar kalimat Kepala Sekolah barusan. Kontras sekali dengan jawaban yang dia terima beberapa waktu lalu.
“Maaf menginterupsi, Pak. Saya pernah mendengar kandidat sebelumnya, kenapa diganti, Pak?”
Mendengar nama Davan disebutkan Adit, Kepala Sekolah tampak terbatuk kecil. Dia lantas mengambil air putih, meminumnya, lantas mulai menjelaskan kenapa Davan tidak diperbolehkan mengikuti LCC.
“Jadi begini, terpaksa saya harus katakan. ada alasan kenapa Davan tidak saya izinkan jadi peserta LCC.”
Baik Adit, Pak Krisna, maupun Pak Yudha menajamkan pendengarannya. Mereka tanpa sengaja serentak menghentikan tangannya agar dapat menyimak apa yang akan dijelaskan Pak Panji.