Di depan pintu bercat krim itu, Irene lama berdiri sembari mengatur nafas yang tersengal. Ketika sudah teratur kembali, dia mulai menekan bel dan menunggu di pintu besar di hadapannya. Tak lama senyum yang dibuat selebar mungkin. Sepulang sekolah tadi, dia bergegas menyambar laptop dari kamar dan langsung pergi ke luar kamar dengan ledakan antusias. Dia akhirnya punya alasan untuk kembali ke rumah itu. Rumah yang pintunya sudah lama sekali tertutup untuknya. Penghuni kecil rumah itu dulu memperlakukannya dengan baik, namun entah apa yang merasukinya sampai dia berbalik membenci.
Kini dia sudah punya jawaban jika penghuni kecil itu menyerangnya dengan murka. Dia sudah punya pendukung sekarang, dan dia yakin pendukung itu akan membantunya kali ini.
Pintu dibuka setelah satu menit menekan bel, orang yang dia sebut pendukung menampakkan diri. Wajahnya terlihat keheranan.
“Irene…”
“Hai, Om. Lagi sibuk, nggak? Irene butuh banget bantuan, Om. Boleh masuk?” Irene menyapa dan bertanya tanpa jeda.
Wajah yang tadinya mengernyit terlihat lebih rileks. Irene kemudian dipersilakan masuk. Di sana Irene merasa luar biasa senang. Dia sampai melonjak-lonjak kecil.
“Kira-kira Om bisa bantu kamu apa, Ren?”
Irene tidak mendengar karena dia terlena dengan tata letak rumah itu yang masih sama seperti ketika terakhir kali dia kesana. Pandangannya seketika tertuju pada anak-anak tangga menuju lantai dua. Di saat itulah dia bisa mendengar suara langkah kejar-kejaran yang tumpang tindih dengan gelak tawa dua anak kecil.
“Ren…?”
Irene tersentak, nyaris membuat laptop dalam pelukannya jatuh.
“Ya, Om?”
“Kamu lagi butuh apa? Apa yang bisa Om bantu?”
Irene menepuk kening dengan tangannya yang bebas. Dia lantas bergegas mengikuti Om Herman yang duduk di ruang tamu, melihat ke arahnya dengan rasa penasaran yang belum lenyap.
“Ah, begini Om. Di sekolah, Irene sedang ada tugas–ini tugas ekskul buku yang Irene ikuti, dan tugasnya adalah membuat resensi 3 novel sekaligus. Jadi aku butuh bantuan Om untuk membuat resensi karena ini kali pertama Irene menulis resensi buku. Deadline-nya besok.”
“Come again?” tanya Om Herman, kerutan di dahinya kini sudah bertambah.
Irene menarik napas panjang dan kembali menjelaskan bahwa dia ingin dibimbing untuk menulis resensi. Dia menambahkan bumbu penyedap dalam ceritanya agar Om Herman percaya bahwa 3 resensi itu bukan hukuman melainkan tugas mingguan ekskul buku yang dia ikuti.
“Sayangnya Om, buku yang irene baca sudah diresensikan oleh anggota yang lain, jadi waktu aku ajukan judul-judul itu, pembimbing kami menolaknya,” ucapnya berusaha semeyakinkan mungkin.
Om Herman akhirnya setuju untuk membantu Irene. Dia permisi sebentar untuk mengambil beberapa novel dari perpustakaan pribadi di dalam kamarnya. Selaku ketua komunitas di kompleks mereka tinggal, Herman sudah membaca banyak buku fiksi, dari yang sedang viral sampai dengan novel lama yang masih relevan.
“Ini beberapa novel remaja dengan tema coming of age. Sudah lama terbit, Om rasa novel ini belum pernah diresensikan.”
Irene lantas mengecek judul-judul yang dibawa Om Herman di website resmi sekolah. Setelah memastikan tidak ada judul yang sama, Irene setuju untuk memulai resensinya. Dia sudah membuat kerangka tentang poin-poin yang harus dituliskan. Dia mendengar sembari mengetik ke dalam laptopnya. Sesi itu nyaris mirip dengan wawancara daripada resensi buku.
“Adit belum pulang, Om?” tanya Irene ketika buku pertama selesai dituliskan. Dia bahkan melirik jam digital dari layar laptopnya, sudah cukup sore untuk seorang anak SMA pulang dari sekolah.