Irene sedang duduk di bangkunya, memeriksa kerah seragam dari cermin kecil yang selalu dia bawa di dalam tas, ketika Alia masuk dengan wajah yang jutek. Sahabatnya itu duduk di sebelahnya sembari meletakkan tas selempang di atas meja kuat, sehingga menimbulkan suara berisik.
“Pagi-pagi kok udah jutek begitu sih, Al? Kenapa? Davan ngeselin lagi?”
“Lagi capek aja. Abis lari pagi, terus nggak boleh tidur lagi. Belum ngebayangin nanti pulang sekolah harus masak lagi sama si bule gila itu.”
Gerakan tangan Irene yang merapikan rambut seketika berhenti. Dia belum tahu kalau Alia juga sudah mulai les masak.
“Oh, ya? Kamu jadi les masak sama Davan?”
Alia mengangguk lesu. Dia menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan. Helaan napas dalam kemudian dapat didengar Irene.
“Kamu kalau mau tahu mending besok ke rumah aja.”
“Kenapa besok? Bukannya setiap hari ya?”
“Karena hari ini ada ekskul masak.”
“Oh iya. Oke. Anyway, kenapa Davan nggak ikut ekskul masak aja kayak kamu Al?”
Alia langsung duduk tegak, melihat ke arah Irene dengan bola matanya yang melebar. “Irene please… Bosen tahu liat dia terus.”
“Lho? Kenapa sih kamu masih belum menerima kehadiran dia. Dia baik loh mau bantuin kamu.”
“Karena ada maunya! Dia mau masa tinggalnya diperpanjang.” Alia kembali menelungkupkan kepalanya ke posisi semula.
“Ya memangnya kenapa? Punya hubungan transaksional itu nggak buruk-buruk amat, kok. In your case… sama-sama menguntungkan.”
Alia diam. Dia sedang malas mendebat Irene, karena dia terdengar akan selalu menyuruhnya menerima kehadiran Davan di tengah mereka. Seperti yang telah dia pikirkan sebelumnya, semua orang di sekitar Alia sekarang sudah berpihak pada Davan.
“Davan itu anak yang asik, tau. Selain jago masak, selera humornya tinggi, enak diajak diskusi dan ngobrol, dan yang paling penting dia good looking.”
“Huh!” seru Alia keras. “Siapa sih yang nggak kamu bilang ganteng? Satpam sekolah aja kamu bilang ganteng.”
“Kan bener. Satpam sekolah kita ganteng, masa cantik. Kamu ih. Selalu aja negatif thinking sama orang-orang. Nggak boleh gitu, tau. Di mata Tuhan kita ini sama. So, be open minded, Alia… Itu bisa mempengaruhi aura kamu, tahu nggak?!”
Alia hanya melenguh. Dia dan Irene memang bertolak belakang, makanya dia heran kenapa Irene mau bersahabat dengannya sampai hari ini. Jawabannya karena mereka bertemu ketika mereka masih menjadi anak-anak, masa di mana mereka masih menjadi kertas polos. Kertas Alia dicoret dengan cara yang berbeda dengan kertas Irene.
Rumah lah yang berperan penting dalam pembentukan karakter keduanya.
Rumah Alia berisi Oma dan Mama yang tidak pernah membiarkan Alia melakukan apa yang dia suka. Mamanya sangat disiplin, sementara Oma mendukung penuh putrinya itu. Mamanya sibuk masak di resto sementara Oma sibuk di rumah. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Alia terbiasa dipandang skeptis oleh Oma dan Mamanya. Jadi karakter efek tanduk Alia adalah hasil coretan dari orang-orang di rumahnya.
Berbeda dengan rumah Irene. Selain karena Irene punya keluarga yang lengkap–Papa, Mama, Adik, orang tua Irene selalu membebaskan Irene dalam hal apapun–selama itu positif. Irene dibiarkan punya pendapatnya sendiri. Keluarga itu juga sering meluangkan waktu bersama di hari minggu ataupun ketika libur sekolah tiba. Sehingga halo efek menjadi karakter utama Irene.
Rumah memang penentu segalanya… termasuk karakter seorang manusia.
“Coba aja dia beneran sepupu kamu. Pasti kita bisa seru-seruan udah dari lama, ya.” Irene mulai membayangkan momen-momen seru yang mungkin akan mereka lewatkan dari masa kanak-kanak.
“Whatever!”
“Eh tapi kalau dilihat-lihat ya, kamu sama Davan agak mirip lho? Jangan-jangan jodoh!”
Asal bunyi Irene barusan membuat Alia refleks duduk tegak hanya untuk menampar pipi Irene. Tamparan itu pelan, tidak sekeras yang kalian pikirkan.
“Aww! Why did you slap me?”
“Because you are that rude!”
“Rude? Karena bilang kamu sama Davan mirip?” Irene mengejek dengan alisnya yang saling bertaut.
“Dan yang terakhir.”