The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #21

DUA PULUH SATU

Sore itu Alia duduk bersila di depan meja tamu, dimana sang tamu duduk di hadapannya sambil membaca secarik kertas. Wajah tamu itu tampak penuh konsentrasi hingga tak akan terdistraksi dengan gerakan-gerakan kecil Alia seperti menghela napas, mengubah posisi duduk, dan mengetuk-ketuk meja dengan jarinya seolah sedang bermain piano.

Adit masih belum beranjak dari kertas yang membuat matanya bergerak naik-turun, ke kiri dan ke kanan. Sesekali kerutan di dahinya terlihat, membuat si penulis essay menjadi ketar-ketir. 

Mampus!

Tak terdengar sepatah kata maupun seruan dari Adit, sehingga membuat Alia semakin gelisah. Bahkan ketika Adit meletakkan kertas yang sudah selesai dia baca dan beralih pada ponsel pintar Alia, dimana terdapat catatan jam tidur dan jadwal olahraga paginya.

Nyali Alia semakin ciut ketika mengingat dia masih punya video memasak yang masih perlu diobservasi. Akan seperti apa penilaian si mulut pedas ini, batin Alia yang jantungnya serasa ingin pindah dari rongga dadanya. Menjadi saksi kebisuan Adit saat itu, Alia tidak berharap dia mendapatkan kata-kata motivasi.

“Jam tidur kamu masih berantakan!” jelas Adit setelah menelungkupkan ponsel Alia di atas meja.

“Hah?” Alia ingin bertanya kenapa, tetapi rahangnya seperti menolak untuk terbuka.

Setelah pertemuan terakhir, Alia sudah berusaha keras mempercepat jam tidurnya. Dia sudah tidak pernah terlambat bangun. 

“Kamu masih tidur di atas jam 11. Kemudian, kamu kedapatan tidur di jam 5 sore.”

“Kok kamu tahu?” tanya Alia refleks.

Sesaat setelah pertanyaan itu meluncur, dia tahu jawabannya. Sudah pasti pelapornya Davan, tidak akan mungkin ada orang lain yang akan senang melihatnya dimarahi oleh Adit.

“Tunggu pembalasanku!” Kedua tangan Alia yang tersembunyi di bawah meja terkepal, dia bisa membayangkan bagaimana cara Davan melapor kepada Adit. Foto-fotonya tertidur pasti sudah banyak dikirimkan pada Adit.

“Semua usaha yang kamu lakukan akan sia-sia kalau kamu tetap tidur pada sore hari. Sebuah jurnal menjelaskan bahwa keseringan tidur pada sore–menjelang maghrib, itu akan membuat seseorang sulit tidur malam, kurang konsentrasi, mengganggu daya ingat dan ini adalah alasan utama mengapa kamu sering sulit fokus, dan lupa. Belum lagi kebiasaanmu dalam melakukan dua hal dalam satu waktu.”

Semua penjelasan Adit barusan berhasil membuat kelopak mata Alia mengerjap-kerjap, sementara mulutnya ternganga. Dia tidak menyangka sekali bahwa hal kecil itu dapat sebegitu berpengaruhnya.

“Aku sudah melihat video memasakmu, kamu melakukan beberapa hal berulang. Davan sudah memberikan observasinya, dan kegiatan berulang itu bukan kebutuhan dalam memasak.”

“Tuh, kan!” seru Alia dalam hati.

“Ada beberapa hal yang penting dalam mengingat,” kata Adit memulai latihannya. Dia beranjak dari tempat duduknya, berdiri untuk mensejajarkan dirinya dengan papan tulis yang sudah dicoret-coretnya dengan materi pelatihan daya ingat, seperti yang dia dapatkan dari pelatihannya dengan Pak Yudha.

Alia mendongak, melihat kotak teks yang sudah di gambar Adit di papan tulis. Kedua matanya memandang ke mana spidol Adit tertumpu.

“Ketenangan dan fokus. Untuk mendapatkan dua hal penting ini kamu harus melakukan hal-hal basic seperti tidur teratur, olahraga, dan tidak membiasakan diri untuk melakukan dua hal sekaligus.”

“Apa tidak boleh memotong bahan makanan–misal brokoli sambil menunggu air mendidih?”

“Boleh, kalau jam terbangmu sudah setara dengan Oma!”

Jleb!

Lihat selengkapnya