Hari-hari berlalu seperti sebelumnya. Kesibukan Alia semakin bertambah, namun hal itu justru membuatnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Dia dengan teratur melakukan kegiatan dan aktifitas yang pernah disarankan kepadanya tanpa sedikitpun keluhan seolah-olah hal itu sudah bertahun-tahun dia lakukan. Dia mendapatkan apa yang menjadi haknya selama ini—berkat usahanya itu, sehingga dia tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Hak itu berwujud rasa percaya yang mulai ditunjukkan oleh mamanya. Tidak pernah lagi ada kalimat-kalimat yang bertendensi remeh. Pujian mulai dilontarkan sebagai penyemangat untuknya terus belajar—dari orang yang pernah membuatnya kesal setengah mati. Alia sudah berhasil membuat beberapa menu yang layak konsumsi—setidaknya untuk empat perut di rumahnya.
Keberhasilan pertamanya ketika dia membuat omelet. Memang dia masih membaca buku resep, dan menceklis setiap step yang sudah dilakukan, tapi itu hanya untuk membuatnya memasak sesuai aturan baku. Dalam pelatihan memasaknya, dia juga melakukan poin-poin penting dalam melatih daya ingat—sesuai yang dikatakan Adit padanya, tidak boleh melakukan dua hal sekaligus. Memang, hal itu membuatnya memerlukan lebih banyak waktu untuk membuat sepiring omelet lembut bercita rasa gurih.
Lalu dia naik level—setidaknya dalam standar Davan sang mentor, karena bisa membuat sayur asem yang kuahnya membuat Irene tidak merasa cukup. Alia sampai tersipu malu karena ini kali pertama masakannya ada yang bersedia makan sampai nambah. Mari kita jangan membahas masakannya terdahulu.
Bagaimanapun juga, Alia sudah menunjukkan kegigihan yang kuat sehingga membuat siapapun terkesan.
Jika Alia sibuk dengan dua pelatihannya, Irene juga kembali sibuk dengan laki-laki yang mengejarnya. Setiap hari setelah pulang sekolah—ketika Alia sibuk kursus memasak, dia bosan dengan novel dan buku yang dia pinjam dari perpustakaan Om Herman. Alih-alih membaca, dia malah bermain ponsel di atas buku yang terbuka. Orang-orang akan melihat ketenangannya di depan buku sebagai pertanda dia tenggelam dalam bacaannya, tapi yang sebenarnya terjadi, Irene sedang tenggelam dalam obrolan bernada rayuan.
Tiba akhir pekan, Irene tidak diizinkan pergi keluar. Sekadar nonton atau makan berdua, Irene tidak punya izin dan malah diemban tugas menemani Irel karena kedua orangtuanya mau nge-date. Alhasil Irene cuma bisa pergi sejauh rumah ketua komunitas baca berada. Dia mengajak serta Irel saat pertemuan kesekian itu terjadi. Om Herman tentu tidak keberatan karena kebetulan sekali pelatihan Alia minggu itu terjadi di rumah yang sama.
Ide pindahnya lokasi pelatihan daya ingatnya Alia berasal dari Oma. Biasanya, ketika pertemuan berlangsung di rumah Om Herman, masih ada Davan yang menemani. Tetapi kali ini Davan tidak tahu entah pergi ke mana. Sehingga Oma mengusulkan bahwa pelatihan dan pertemuan komunitas buku diadakan di satu lokasi saja, yaitu rumah keluarga Lesmana.
Sore itu, di rumah Adit terdapat banyak sekali suara berisik. Mulai dari suara-suara sapaan basa-basi anggota komunitas buku, sampai suara Irel yang tertawa-tawa karena mendengar dongeng lucu dari Om Herman. Adit yang berada di ruang tamunya—berhadapan dengan Alia yang terdiam kaku di seberang meja.
“Hari ini akan menjadi pelatihan terakhir kita. Aku sudah mendengar bahwa kamu sudah menunjukkan perubahan yang signifikan, sehingga pelatihan daya ingat tidak harus dilanjutkan.”
Alia mengangguk dua kali, dia tidak punya bantahan—malah justru merasa lega karena akan segera bebas dengan si lidah tajam ini.
Suara-suara yang muncul dari halaman depan lagi-lagi terdengar sampai di ruang tengah karena pintu utama dibiarkan terbuka lebar. Adit mencebik, beberapa kali, dan terlihat tidak nyaman.
“Di sini terlalu berisik. Sebaiknya kita pindah saja.” Adit mengemasi buku-bukunya, spidol, dan juga papan tulis putih kecil.
Alia mengikuti saja gerak-gerik tutornya itu. Dia pun mengemasi buku catatannya dan ikut beranjak dari ruang tamu itu. Tapi siapa yang sangka, sesaat setelah itu, Irene masuk ke ruang tamu dengan suara bertempo cepat, dan nyaring.
“Hei, kalian nggak mau gabung? Om Herman lagi bacain dongeng kesukaannya buat kita semua.”