Alia mondar mandir di depan kamar Irene. Setelah kejadian mengejutkan yang terjadi beberapa waktu lalu, dia menyusul Irene pulang. Alia ingin menghibur Irene, yang hatinya sudah luluh lantak oleh si lidah tajam itu. Dia tentu ada dipihak sahabatnya, dan sama sekali tidak akan terpengaruh oleh kata-kata kasar Adit. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dia sangat terkejut dengan fakta tentang Irene itu, tapi tetap saja tidak bisa mengubah fakta bahwa Adit adalah orang yang sangat jahat
“Irene…” panggil Alia setengah berbisik, sementara tangan kanannya belum berhenti mengetuk pintu kamar Irene.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Irene, Alia berasumsi gadis itu sedang merangsek ke kasur dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Perasaan tidak enak yang tadi menyergap akibat ucapan Adit, masih bersemayam di dadanya. Dia tidak ingin meninggalkan Irene begitu saja. Apalagi rumahnya kosong. Irel masih berada di rumah Om Herman. Dia tidak boleh tahu kalau kakaknya sedang menangis. Alia yakin, Irene tidak akan berbuat macam-macam, hanya karena omongan Adit, tapi yang ingin dia pastikan, Irene tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Alia tidak mau ucapan Adit tadi membuat sahabat terbaiknya itu kehilangan keceriaannya.
Ctek!
Pintu kamar dibuka dari dalam, padahal Alia baru saja ingin membuka sendiri pintu itu. Syukurlah dia tidak perlu berbuat lancang meski itu kamar sahabatnya sendiri. Dari pintu yang terbuka separuh itu, Irene muncul dengan wajah tertunduk.
“Ren, kamu okay?” Alia bertanya dengan nada yang bergetar. Tak sedetikpun dia mengerling dari mata Irene yang sembab.
Alia langsung memeluknya, dan membuat tangis Irene pecah.
“Di… dia… pernah janji… buat nggak ungkit… itu….” isak Irene, suaranya begitu parau.
Alia mengusap punggung Irene, berharap setiap usapannya dapat membuat luka Irene menjadi lebih baik.
“Di… dia… aku…”
“Sssttt…!”
Alia tidak ingin Irene berbicara lebih banyak lagi. Dia tidak butuh penafian apapun, yang dia inginkan sahabatnya itu merasa lebih baik meskipun harus menangis sampai air matanya kering.
Sore itu, Alia hanya memeluk Irene yang masih menumpahkan kesedihannya. Meski hari telah berlalu, air mata pun mengering, tapi luka di hati Irene belum sembuh sepenuhnya. Dia terlihat murung, jelas itu bukan karakter Irene yang sebenarnya. Dia mungkin bisa saja menyembunyikan luka itu dari keluarganya sendiri, menutupinya dengan wajah yang dipaksakan ceria, namun ketika dia keluar dari rumah, Irene yang murung kembali. Di sekolah dia juga tidak bernafsu beredar di sekitar sekolah seperti biasanya. Dia bahkan terlihat lebih sering ke perpustakaan hanya untuk menelungkupkan kepalanya diatas meja baca.
Alia paham bahwa sahabatnya itu masih butuh waktu untuk sendirian. Maka dia hanya bisa membiarkan Irene mengurung diri di perpustakaan.
“Ren, aku nggak peduli siapa kamu. Yang aku tahu kamu sahabatku yang sangat baik. Selamanya akan begitu,” kata Alia pada satu sore sebelum Irene menutup pintu gerbangnya.
***
Sementara Irene tenggelam dalam kesedihannya, rumah Alia memiliki sedikit keributan. Tidak ada yang bertengkar. Bukan pula kemarahan Oma ataupun Mama Alia, melainkan karena hilangnya Davan dari rumah. Sejak kemarin, laki-laki berambut jahe itu tidak kelihatan batang hidungnya. Kemarin dia tidak bertemu Davan karena terlarut dalam kesedihan Irene, sedangkan tadi pagi dia juga tidak memedulikan mentor memasaknya itu. Dia berpikir Davan hanya malas bangun dan membiarkannya lari sendirian karena sudah seperti rutinitas. Barulah sore ini dia menyadari ketidakhadiran Davan di rumahnya. Dia bahkan sudah mengecek kamarnya yang tidak dikunci, Davan tidak ada di sana.
“Oma lihat Davan?”
Oma menggeleng. Sama seperti Alia, banyak sekali dugaan dan asumsi Oma ketika tidak melihat Davan beredar di rumah. Akhirnya Oma menyarankan Alia untuk menelepon saja. Sialnya, Alia tidak punya nomor ponsel Davan. Dia ingin sekali bertanya pada Irene–barangkali punya nomor Davan, tapi dia tidak mau mengganggu sahabatnya itu. Satu-satunya orang yang bisa menolongnya adalah Adit.
Alia menarik napas berat. Dia tidak mungkin meminta bantuan si lidah tajam itu. Alhasil dia harus meminta pertolongan Oma untuk menghubungi Om Herman.
“Lewat telepon saja, Oma…”