Ada satu kenangan buruk yang selalu terpatri dalam kepala Adit ketika dia mulai beranjak remaja. Sama seperti kenangan bahagia, kenangan buruk pun sulit dihilangkan meskipun waktu sudah berlalu sangat lama. Peristiwa itu telah mengubah dirinya dari kertas putih menjadi kertas penuh coretan abstrak. Meski hidup telah memberinya lembaran baru, dia malah membiarkan lembaran itu tetap kosong. Dia tidak punya cukup keberanian untuk kembali menulis. Hingga dia merasa kekosongan yang tiada tara.
Dia terlarut dalam lukanya sendiri sampai lupa bahwa ada sosok lain yang terluka lebih dalam. Sosok itu seharusnya tidak diabaikan. Yang satu mungkin telah pergi, tapi yang satunya bertahan, tetap di sisinya. Mamanya mungkin menorehkan luka, tapi ayahnya berusaha menyembuhkan.
Adit menyesal karena dia baru menyadari bahwa dia seharusnya tidak memikirkan yang telah pergi, melainkan menghargai orang-orang yang masih membersamainya. Dia memang egois, hanya fokus pada lukanya sampai lupa bahwa ayahnya memikul beban yang lebih berat.
Untuk itu, di sinilah dia berada. Di sebuah ruang tunggu klinik kesehatan mental. Suara-suara langkah kaki mulai tumpang tindih. Sesekali dia melirik ke kiri dan kanan, juga pada pintu yang akan dia masuki. Dia menjadi semakin gugup ketika seseorang keluar dari pintu itu. Dia menebak-nebak, pertanyaan apa yang akan diajukan padanya. Dia bahkan sudah sudah merancang jawaban-jawaban yang akan disampaikan.
Dia sudah siap.
“Atas nama Aditya Lesmana?”
Adit tersentak dari lamunan, spontan beranjak dan masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh petugas administrasi.
“Silakan…!”
Sebelum membuka pintu, Adit memejamkan mata seraya menarik napas dalam. Ini kali pertama baginya konsultasi.
Seorang wanita muda menyambut penuh senyum. Di mejanya tertulis nama Arianna Lavanna, M.Psi, Psikolog. Melihat gestur ramah psikolognya itu, rasa gugupnya berangsur-angsur hilang.
Entah akan bagaimana, tapi dia sudah siap mencurahkan seluruh kesakitan yang pernah dia rasakan. Dia ingin sembuh. Demi orang-orang yang sampai hari ini masih ada untuknya.
***
Satu Tahun Kemudian…
Ketika Om Herman membuka pintu, Irene dan Davan langsung bersuara sehingga menimbulkan kebisingan. Mereka secara tak beraturan bertanya apakah mereka bisa bermalam di sana dan memesan beberapa cemilan. Davan dan Irene berdebat tentang pizza atau martabak. Herman hanya menggeleng-geleng kepala ketika mendengarnya, dia sama sekali tidak ingin terlibat dan membiarkan dua anak muda itu naik dan berjalan ke balkon, menyusul dua anak muda lainnya.
“Aliiii…!” Davan berteriak ketika melihat sepupunya itu sedang santai mengunyah pizza dengan si pemilik rumah.
Adit dan Alia yang duduk berhadapan di depan meja langsung menoleh ke sumber suara. Kedua spontan membelalak saat Davan berlari dan menyambar satu potong pizza di dalam kotak.
“Kita tuh dari tadi debat, mau pesen pizza atau martabak, eh kalian malah udah duluan aja makan pizza!” kata Irene seolah menjelaskan alasan Davan berteriak dan menghambur ke arah mereka.