The Lost Home

Vivie Hardika
Chapter #26

DUA PULUH ENAM

Irene duduk sendirian di balkon rumahnya. Dia bosan dengan rutinitasnya hari itu, juga dengan pesan-pesan yang dikirim oleh pengagum rahasianya. Tidak menarik sama sekali. Dia sedang kesepian. Tidak punya teman mengobrol atau nonton bareng karena Alia sedang tidak ada di rumah. Irene tidak tahu kapan Alia akan kembali. Sepertinya masalah keluarga mereka tidak bisa diselesaikan dalam satu atau dua hari. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Alia, tapi belum ada balasan. Dalam hati dia berharap masalah keluarga itu bisa segera diselesaikan. Dia juga rindu dengan Davan. Bagaimana ya, kabarnya?

“Kak, mau ikut aku main bola, nggak?”

Irel tiba-tiba datang dengan jersey merah klub bola favoritnya. Dia berlari agar cepat sampai di depan Irene sambil memegangi bola. Karena tidak ingin mati kebosanan, Irene akhirnya setuju untuk menemani Irel main bola bersama teman-temannya. Lapangan bola ada di ujung kompleks, tidak jauh, sehingga Irene dan Irel hanya perlu berjalan kaki saja.

Sepuluh menit berlalu, Irene dan Irel sampai di lapangan bola. Di sana sudah banyak anak-anak yang menunggu. Irene sudah beberapa kali menemani Irel main bola bersama teman-teman sekolahnya—yang juga tinggal di kompleks yang sama. Terkadang dia juga ajak Alia supaya tidak bosan nungguin anak-anak bau telon itu bermain. Biasanya yang dilakukannya adalah merekam, demi menangkap momen Irel menjebol gawang lawan.

Tapi ada yang berbeda di hari itu. Ketika Irene siap merekam, dia menangkap satu anomali di lapangan. Pada hari-hari lain tidak akan ada orang dewasa selain dirinya di lapangan itu, tapi hari itu, ada. Dia semakin kaget ketika tahu siapa laki-laki yang sedang dikerubuti Irel dan teman-temannya itu.

Jika laki-laki itu bukan Adit, mungkin Irene tidak akan kaget. Bisa saja itu pelatih atau kakak dari salah satu teman Irel.

“Irel!” teriak Irene, memanggil adiknya yang berada di tengah lapangan.

Tidak hanya Irel, Adit juga menengok ke arah Irene. Karena Irel belum beranjak, Irene sampai harus memanggil adiknya lagi.

“Ada apa sih, Kak? Udah mau main, nih.”

“Itu dia ngapain disana?” tanya Irene sambil mencuri-curi pandang pada Adit. Pandangannya tampak terganggu.

“Main bola.”

“Sejak kapan dia ikut main bola? Sama kalian pula.”

“Sejak hari ini. Waktu itu Kak Adit bilang pengen ikut main bola. Walau dia udah gede tapi dia nggak bisa main bola. Jadi dia nggak lebih jago dari aku dan teman-temanku, makanya dia mau ikut main bola.”

Irene sama sekali nggak percaya dengan penjelasan Irel barusan. Dia sampai berulang kali melihat ke arah Adit di tengah lapangan dan memastikan dia tidak salah melihat.

“Pokoknya begitu deh, Kak. Kalau nggak percaya nanti tanya langsung aja. Sudah ya, kami mau main, kakak jangan ganggu! Kakak rekam aja permainanku ya.”

Irel pun kembali ke lapangan tanpa persetujuan Irene. Kakaknya itu masih berdiri di pinggir lapangan dengan wajah yang menyiratkan rasa tidak percayanya. 

Sejak kapan Adit jadi makhluk sosial? Sama anak-anak SD?

Pertanyaan itu dia simpan sendiri karena dia tidak ingin terlihat terlalu peduli dengan si lidah tajam itu. Dia tidak mau terkesan sengaja menemani Irel karena kehadirannya. Jika itu akan dipermasalahkan Adit, dia akan menjawab dengan tegas bahwa dia bukan kali pertama menemani Irel main bola.

Tapi keberadaan Adit di sana benar-benar mengusik ketenangan Irene. Dia sudah berusaha hanya fokus pada gerakan adiknya, tapi Adit selalu masuk dalam frame. Dari sana memang kelihatan sekali kalau Adit sangat payah ketika bermain bola.

Lihat selengkapnya