Namanya bintang pengembara.
Dia terus berjalan tak tentu arah hanya untuk mencari jati diri, harapan, nasib hidup, bahkan tempat untuk menetap. Dia bintang pengembara yang akan terus berkelana untuk menemukan rumahnya yang hilang.
Dia diberi nama bintang pengembara oleh seorang pengelana sebagai pengingat siapa jati diri sang pengelana. Pengelana itu tadinya punya sebuah rumah, namun dia dipisahkan oleh garis hidup. Dia menjadi sebatang kara di langit asing. Memulai hidup barunya dan terpaksa menutup pintu masa lalu dari siapapun. Bukan karena dia malu, hanya saja tidak ingin membuat lukanya kembali menganga. Dia terpaksa menutup buku lama penuh warna hingga menjadi usang.
Dua puluh tahun berlalu, buku usang itu ditemukan oleh bintang pengembara. Dia masih sang pengelana yang memiliki secerca cahayanya. Dia menyala namun kehilangan binarnya. Dia masih ada, namun terlihat putus asa.
Bintang pengembara itu ingin mengembalikan binarnya. Melalui buku usang itu dia melihat rumah yang selama ini hilang. Untuk kali pertama, sang pengembara berjalan untuk mencari rumahnya yang hilang. Dia telah berjalan cukup jauh, menyalakan banyak cahaya, hingga waktu pun berpihak padanya. Bintang pengembara akhirnya menemukan rumah yang selama ini dihilangkan dari garis takdirnya. Namun rumah itu terasa begitu asing. Sangat asing sampai tidak ada jejak tentang Sang Pengelana.
Sang pengelana itu bernama Ressa Ayuningtyas.
Dia sedang berjuang dalam diam di atas tempat tidur. Sebuah kecelakaan membuatnya tak hidup tapi juga tak mati. Dia bergantung pada selang-selang yang terpasang di mulut dan hidungnya. Sudah berbulan-bulan, tidak ada perkembangan. Dia terlihat tidak punya harapan, namun keluarganya tidak mau menyerah. Suami dan putranya bersedia melakukan apa saja untuk membuat orang yang mereka kasihi itu sadar kembali. Berada di tengah mereka dengan senyumnya yang cantik dan anggun seperti mana biasanya.
“Dad, to be honest, my knees went weak when I stood in front of them… What am I supposed to do? They’re already so close, will they accept me? Will they accept us?”
Saat kali pertama menemukan rumah itu, Davan hampir tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia ingin sekali langsung memeluk perempuan yang rambutnya telah memutih itu. Tapi rasa takut ditolak membuatnya harus menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya. Davan tahu tidak banyak waktu yang bisa disia-siakan, tapi dia tidak ingin melalui jalan yang ditempuh ibunya. Maka dia memilih jalan memutar.
***
Alia nyaris tidak percaya dengan kedua matanya sendiri. Dalam genggamannya kini terdapat sebuah foto yang buram oleh waktu, menampilkan sebuah foto keluarga bahagia. Dia mengenali tiga dari empat wajah. Hanya satu orang yang tidak dikenalnya. Wajah itu terlihat mirip dengan mamanya, tapi dimana pemilik wajah itu sekarang? Mengapa dia tidak pernah bertemu dengan pemilik wajah itu?
“Ma, siapa perempuan yang di sebelah Opa ini?”
Tidak ada jawaban dari mamanya, membuat Alia mau tidak mau harus bertanya pada Oma. Namun jawaban yang dia dapatkan sama nihilnya. Dia hanya mendengar desahan yang begitu panjang. Tak lama, mata Oma terlihat berkaca-kaca. Sementara mamanya, masih terus memandangi buku lama yang ada di dalam genggamannya. Tidak menggubris Alia sama sekali, dan terus membolak-balik setiap halaman di dalamnya.
“Selama ini dia ada di rumah ini, bohongin kita semua.”
Kening Alia berjengit. Dia tidak mengerti maksud dari kalimat yang keluar dari mulut Oma. Suaranya bahkan terdengar bergetar.
“Oma, siapa yang bohong?” tanya Alia yang semakin bingung dengan situasi yang sedang dihadapi keluarganya ini.
“Ressa…” nama itu digumamkan secara lirih oleh mamanya.
“Siapa Ressa, Ma?” suara Alia terdengar putus asa. Dia bergantian memandang Oma dan Mamanya, namun tak ada yang bisa menjawab secara gamblang siapa gadis kecil itu..
“Ma? Say something…! Who’s Ressa? Who’s this girl? And why did that name leave you speechless? ”
Mama Alia terlihat melorot di kasur, pandangannya tidak fokus, seolah dia sedang memandang sesuatu yang jauh.
“Dia adik mama.”
“Hah?” Alia merasa dadanya tertimpa pot besar. “Oma, ini beneran? Mama punya adik?” dia tidak puas jika hanya mamanya yang menjawab.
Oma tidak menjawab, dia malah berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab dari Alia.
“Kenapa mama nggak pernah bilang kalau mama punya adik?”