Orang yang menyebabkan keributan di keluarga Alia kini sedang memandangi wajah mamanya yang pucat. Dia tidak teralihkan dari setiap detail wajah pasi itu. Setengah tahun telah berlalu tapi tubuh kaku ibunya belum juga menunjukkan harapan. Alat-alat medis telah membantunya bertahan. Meski tidak tahu sampai kapan alat-alat itu bisa mempertahankan tubuh mamanya.
“Mom, I'm sorry it's been so long since I came to see you. I bet you won’t believe my story. I found your lost home, Mom.”
Suara Davan kian lirih. Dia mengusap tangan mamanya yang kosong. Lamat-lamat dia pun menggenggam tangan itu sambil terus meracau. Dia mengambil kesempatan itu untuk menceritakan apa yang dia lakukan selama absen mengunjunginya secara fisik.
“Tante Ratna mirip sekali denganmu. She was magnanimous enough to accept me as a random person. But sorry to say, dia lebih jago memasak. But don’t worry, her daughter couldn’t beat me.”
Ada semburat senyum di wajah Davan. Dia mengingat kembali bagaimana kali pertama dia ada di sana.
“Oma… dia mirip sekali denganmu. Selalu waspada, gengsian, sometimes, mageran. Tapi akhirnya aku bisa membuatnya lebih percaya padaku daripada Alia. Ah! Sepupuku itu, ya ampun. Mom… Aku nggak tahu kenapa lama banget dia jutekin Rion. Mungkin karena dia mewarisi sifat gengsian Oma, ya. Atau ya dia jealous karena aku lebih jago masak.”
Wajah Davan tampak sangat sumringah ketika menceritakan semua itu kepada mamanya. Namun wajah sumringahnya tak lama karena yang selanjutnya terlukis di wajahnya hanyalah merah dengan bulir bening yang tumpah.
“Mom, I missed you! Please, wake up!”
Tidak ada tanggapan. Hanya desis ritmis ventilator yang terdengar sebagai pemecah keheningan bangsal.
Davan beranjak dari tempat duduknya, berniat ingin membuang bunga layu yang ada di atas nakas dan menggantinya dengan bunga yang baru dibeli tadi sore. Malam itu Davan ingin menemani mamanya di sepanjang malam karena besok dia akan kembali ke Jakarta.
Dia bertekad akan menjelaskan siapa dirinya jika nanti kembali lagi ke rumah itu. Dia harus memberi tahu kalau mamanya membutuhkan mereka. Meskipun dia harus memohon dan bersujud. Apapun akan dia lakukan agar mamanya bisa kembali di tengah-tengah mereka.
Kegiatan Davan terhenti oleh getaran ponsel di nakas. Dia melihat ponsel itu dan mengecek si pengirim pesan.
“Mom, Dad bilang agak telat karena di resto hari ini sedang ramai-ramainya,” ujar Davan seolah-olah mamanya akan bisa mendengar pemberitahuannya itu.
Ponsel itu milik mamanya yang dibiarkan tetap di sana. Ponsel itu tetap dibiarkan menyala agar tetap dapat menerima telepon dan pesan dari kerabat dekat mamanya. Davan dan Papanya pun tak pernah absen mengirim pesan di grup keluarga seperti mana biasanya. Memberi kabar setiap kegiatan mereka seolah-olah si pemilik ponsel bisa langsung membacanya.
“Nanti kalau Mom bangun, dia bisa baca semua pesan ini,” kata papanya si penggagas ide itu.
Selagi meletakkan kembali ponsel itu ke nakas dua teringat pada ponselnya sendiri. Maka dia mengambil jaket dan merogoh kantongnya. Ketika berusaha menggunakan ponselnya, ponsel itu malah tidak menyala. Maka Davan mencoba mengisi dayanya. Di sana dia baru sadar bahwa pesan yang dia kirimkan kepada Tante Ratna tidak terkirim. Ada tanda seru dalam lingkaran merah di samping pesan yang dikirimkan. Pesan itu adalah pemberitahuan bahwa dia tidak pulang dalam dua-tiga hari karena harus pergi ke rumah kerabatnya. Sudah jelas, itu cerita bohong yang dia karang untuk membuat Tante Ratna tak curiga padanya.
Seketika Davan menjadi panik. Kalau Tante Ratna tidak membaca pesannya, itu berarti seisi rumahnya mungkin akan melaporkan dirinya sebagai orang hilang. Atau lebih parah lagi dari itu.
Davan menelepon Tante Ratna tapi tidak terhubung. Dia juga menelepon rumah dan berharap Oma mengangkat teleponnya, tapi tidak ada jawaban. Dia sudah mencoba beberapa kali tapi hasilnya tetap nihil. Davan mendadak bingung. Haruskah dia terbang ke Jakarta sekarang? Kini yang ada di dalam pikiran intrusif nya hanyalah mengirimkan pesan kembali.
“Oke, semoga segera dibaca.” Davan berharap cemas.
Layar ponselnya kini sudah berganti dari tampilan aplikasi pesan ke halaman aplikasi pemesanan tiket pesawat. Dia melihat kembali jadwal penerbangannya besok, dan menimbang apakah dia harus menjadwalkan ulang ke penerbangan pertama? Namun dia sadar kalau penjadwalan ulang akan sia-sia, dia akan tetap tiba besok, bukan saat itu juga. Akhirnya, satu-satunya harapan adalah pesan terakhirnya bisa dibaca secepat mungkin.