The Matchmakers

Lifya Q. Raida
Chapter #1

The Escape

Bagi Keizha, sekolah adalah tempat ternyaman untuk menghabiskan waktu seharian. Mau berapa banyak pelajaran, seberapa sulit soal ujian atau seberapa berat bentuk tugas yang harus dikerjakan tak akan pernah jadi masalah. Semua yang terjadi di sekolah bisa segera diselesaikan dengan baik dan tuntas sesuai harapan.

Namun pada saat pulang sekolah adalah waktu yang paling tidak dinanti karena akhirnya harus pulang ke rumah. Pulang ke rumah berarti akan kembali lagi mendengar pertengkaran, perdebatan, dan perselisihan Papa dan Mama yang seakan tiada henti hampir setiap hari. Pasti akan terdengar suara teriakan, tangisan, piring pecah, pintu yang dibanting, atau berbagai macam barang yang berulang kali berjatuhan ke lantai. Terkadang suasana rumah begitu sepi dan hampa, seperti tak berpenghuni.

Sekolah dan rumah adalah tempat yang sangat jauh berbeda bagi Keizha. Sekolah malah terasa seperti rumah yang nyaman dan seru. Di sekolah bisa melakukan berbagai kegiatan tanpa perlu khawatir mendengar dan melihat pertengkaran orang tuanya. Apalagi memiliki banyak teman dan sahabat yang baik merupakan sumber kebahagiaan yang tak terhingga.

Namun, rumah yang seharusnya sebagai tempat pulang dan paling aman, tapi bagi Keizha rumah yang ia tinggali hanya sekedar tempat untuk tidur dan mengurung diri di kamar agar sebisa mungkin menghindar dari segala urusan Papa dan Mama yang selalu bertengkar hampir setiap hari, setiap waktu, dan setiap mereka bertemu.

Keizha sudah sangat bosan mendengar suara teriakan dan berbagai barang yang dilempar tapi sebagai anak 10 tahun yang kurang mengerti segala situasinya, ia tak mau ikut campur dengan permasalahan orang tuanya yang seperti tak pernah bisa berakhir.

Semakin lama tinggal di rumah bersama orang tuanya, Keizha tambah tak betah. Ingin rasanya kabur dan pergi sejauh mungkin dari rumah. Tapi harus pergi ke mana?

Lelah terus menutup telinga hampir sejam, Keizha menyerah. Mungkin keadaan di luar sudah lebih tenang dari sebelumnya. Situasinya akan selalu terus terulang dengan pola yang serupa. Setelah Papa dan Mama bertengkar beberapa lama, selanjutnya suasana rumah akan jadi lebih hening dan sepi. Tapi saat baru membuka headphone dari telinganya, Keizha kembali mendengar teriakan. Dan kali ini dengan berbagai sumpah serapah yang tak seharusnya didengar anak seuasinya.

Lihat selengkapnya