The Matchmakers

Lifya Q. Raida
Chapter #2

A Separation

Pagi hari adalah salah satu waktu terbaik bagi Keizha, karena ada alasan pergi lagi dari rumah. Kembali melupakan pertengkaran orang tuanya untuk menuju tempat yang lebih tenang, seru dan penuh keceriaan. Tak akan terdengar kemarahan atau barang dilempar dengan kasar. Sejenak semua itu akan kembali terlupa dengan berbagai pelajaran yang menarik, para guru dan teman-teman yang menyenangkan.

Setelah memastikan tak ada yang ketinggalan, Keizha bersiap-siap pergi ke sekolah. Samar-samar suara dari pintu kamar, kembali terdengar pertengkaran Papa dan Mama. Teriakan dan bentakan itu selalu bikin suasana rumah tak nyaman. Mengembuskan napas kesal, Keizha segera mengambil penutup telinga di atas meja. Satu-satunya cara menghindar dan tak mau peduli dengan pertengkaran Papa dan Mama adalah dengan mengganti suara penuh emosi dan kebencian itu dengan musik yang menyejukkan hati.

Menghitung belasan angka dalam hati, Keizha melangkah pelan keluar kamar. Suasana rumah yang tak beda jauh dari biasanya. Ada orang tua yang sering adu debat dan bertengkar hampir setiap kali ada di rumah.

Berusaha menahan diri untuk tak ikut campur sambil mendengar musik favorit, Keizha ikut sarapan di meja makan. Ia buru-buru menghabiskan roti tawar dan segelas susu stroberinya secepat mungkin. Lebih cepat pergi ke sekolah akan jauh lebih baik daripada harus terus bersama Papa dan Mama yang sering adu emosi dengan mata melotot sambil saling tunjuk satu sama lain.

Tak peduli waktu pagi, siang, atau malam. Seperti tak pernah ada habisnya. Bahkan orang tuanya mungkin tak menyadari kehadiran anaknya yang kini ikut bergabung sarapan bersama di meja makan. Mungkin mereka lebih suka untuk saling marah daripada harus makan dengan tenang dan damai bersama. Menyebalkan sekali.

Keizha membetulkan letak headphone-nya agar suara musik di kedua telinga terdengar lebih jelas. Tiba-tiba jepit rambut sebelah kirinya tersangkut. Ia segera merapikan kembali, tapi tak sengaja headphone terlepas dari telinga.

“Kamu memang aneh! Selalu marah gak jelas.”

“Seharusnya kamu lebih bisa jaga sikap. Jangan egois!”

“Aku egois? Egois dari mana? Kamu tuh yang aneh dan gak jelas!!”

Lihat selengkapnya