Meskipun jam istirahat akan segera habis, Audri dan Farid masih menunggu Keizha lebih tenang. Tak peduli dengan lirikan aneh atau tatapan penasaran anak-anak lain, mereka berdua tetap sabar menemani Keizha hingga bisa lebih tenang.
Merapikan poni di atas alisnya, Audri melirik sebal pada Farid yang tampak kekenyangan karena baru menghabiskan makanan Keizha. Sudah sering ditraktir, tapi makanan sahabatnya masih mau diambil tanpa izin. Apa dia tidak cukup peduli dengan Keizha yang sejak tadi pagi selalu murung dan sekarang sampai menangis?
Menatap pantulan dirinya di kaca jendela terdekat, Farid merasa tak ada yang salah dengan kulit wajahnya yang sawo matang dan rambut keriting hitamnya. Meskipun badannya kurus, dirinya tampak rapi dan ganteng seperti biasa.
“Kenapa sih?” tanya Farid heran dengan tatapan aneh Audri.
Audri memberi kode pada dua piring dan beberapa bungkus jajanan yang baru saja dihabiskan Farid seorang diri.
Baru tahu apa yang dimaksud sahabatnya, Farid tersenyum tipis. “Maaf, lapar. Di rumah gak ada makanan, dan belum sarapan sama sekali,” jawabnya berbisik.
Tak lama tangisan Keizha mulai mereda, ia mengahapus air mata yang sejak tadi membasahi kedua pipinya. Setelah meluapkan segala emosi dan kesedihan yang selama ini tertahan, kini Keizha merasa sedikit lebih lega. Sekarang sudah saatnya cerita pada dua sahabatnya.
“Orang tuaku akan bercerai,” ucap Keizha datar.
“Apa? Masa sih?” tanya Farid kaget.
Audri tampak tak percaya. “Kamu gak salah dengar, kan?”
Keizha mengangguk pelan. “Iya. Tadi waktu sarapan, aku langsung dengar sendiri Papa dan Mama bertengkar lalu bilang akan bercerai.”
“Terus lanjutannya gimana?” tanya Farid penasaran.
“Ya orangtuaku akan segera pisah. Apa lagi?”
Audri menyikut tangan Farid dan memberi isyarat agar tak asal bersuara.
“Ma..maaf ya,” ucap Farid merasa bersalah. “Maksudku tadi, apa kamu akan terima saja kalau orang tuamu akan pisah?”